Semua bisa mengubah identitas, perangai, lalu bergerombol terbang bagai anai-anai sesuai jatah musim berganti. Populasi kian kikis, hendak populis. Di ujung lidah dan ciri tidak selamanya membentuk karakter. Manusia dengan segala upaya dan dayanya, hendak mengarung di tengah relung dan palung manusia sekitarnya.
Apakah peradaban itu bagian dari mengubah pola pikir, laku diri dan dunia? Kadang sebagian di antara kita terjebak di tengah hadirnya, mesti kita tahu atau ikut terlena, menyaksikan kearifan serta kemunafikan menggelincing, memicing menata sifat dasar manusia, hingga merasa paling maju atau sebaliknya.
Peradaban sering digunakan sebagai istilah lain “kebudayaan” di kalangan akademis. Dalam pengertian umum, peradaban adalah istilah deskriptif. Hal ini karena peradaban awal terbentuk, ketika orang mulai berkumpul di pemukiman perkotaan di berbagai belahan dunia.
Ia berasal dari kata “adab” yang berarti sopan, berbudi pekerti, luhur, mulia, atau berakhlak, yang seluruhnya, merujuk pada sifat yang tinggi dan mulia. Walau semestinya demikian di antara kelompok, masyarakat, manusia itu sendiri kehilangan adabnya.
Sebab dia sebagai kebudayaan yang tertinggi dalam kehidupan manusia, seperti seni, serta kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan. Hingga pada satu perjamuan awal manusia dari situs dan ritus awal, sampai melampaui beberapa episode abad, keturunan anak pinak, sampai istilah tujuh pinangka (tingkatan) yang hanya manusia umumnya ingat. Tiba pada detik narasi ini mencoba menggugat, atau kata lain mendeskripsikan sisi manusia yang tampak lugas, tetapi culas. Ibarat sepuh namun cupu. Bagai mutiara, tetapi ia adalah bara.
Ada pula populasi yang kelak punah. Mengurai tentang kelak manusia akan kehilangan nilai hingga saling bertikai. Selebihnya manusia bertindak sesukanya saja. Kemanusiaan terkikis. Kita menemukan paling kecil manusia meghinakan satu manusia lainnya. Kehilangan humanis. Bejana telah nenjadi bencana. Perburuan identitas setiap kerling dan kening mereka poles, bagai topeng cantik dan gagah, menyerupai bentuk aslinya.
Di sebuah laman menempatkan kodrat dan bagaimana manusia itu terhubung satu dengan lainnya. Sebagai makhluk sosial adalah konsep yang menyatakan, bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri.
Kehidupan sosial manusia melibatkan interaksi antar individu, kelompok, dan masyarakat dalam berbagai bentuk hubungan sosial, keluarga, persahabatan, kemitraan, organisasi, dan masyarakat. Akan tetapi, di antara sekian kompleksitas, secara adat, budaya, agama, spiritual terkawal.
Sisa individu dan kualitas setiap manusia itu sendiri, menentukan yang ia sifati, ia jalani, hadapi dari sekian juta manusia, menjadi mahluk nelata di bumi Tuhan.
Aku terdiam merindu pada sosok manusia paripurna, diutus untuk memperbaiki ahlak. Berbudi, berakal, berkasih sayang. Selalu tersenyum kepada sesiapa saja membencinya. Kala sembahyang air matanya jatuh seperti hujan demi umatnya. Keluhuran tiada pernah luntur dan luruh. Memanusiakan manusia. Bukan memsunahkan.
Kemudian aku menyusuri alur cerita sebuah film, berjudul Oppenheimer, berdurasi cukup panjang. Tetiba ketakutan itu hadir membuatku menggigil. Di dalam kisahnya, ada satu peristiwa pemusnah massal manusia itu dikisahkan. Oppenheimer. Ia menyaksikan dari jauh pagi itu ketika bom atom melepaskan awan jamur setinggi 40.000 kaki.
Deskripsinya tentang momen itu menjadi terkenal, “Saya ingat baris dari kitab suci Hindu Bhagavad-Gita,” katanya. “Sekarang saya menjadi Maut, penghancur dunia. “Saya kira kita semua berpikir demikian, dengan satu atau lain cara.” Tampak gundah penuh penyesalan seumur hidup.
Tentunya kemudian menghasilkan sebuah kesimpulan oleh banyak orang. Sebagai penyesalan sang ilmuwan. Pada tanggal 6 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Jepang, memusnahkan 90 persen kota dan membunuh 80.000 orang.
Seraya terhentak menggugat kemanusiaanku sendiri. Betapa potensi setiap manusia bisa bertindak melampaui kemanusiaan. Sebuah titik nadir. Yah! Semua berpotensi, hendak menjadi sekadar interupsi atau peringatan. Tetapi menjadi reaksi yang membuat sekian ribu jiwa, secepat itu musnah seketika. Budaya tergeletak sekadar hadir berkedok. Berlumut tipu daya.
Penceritera sejarah satu persatu musnah. Dua sejoli tradisi dan istiadat terkapar. Para pelaku hanya suka mengaku dan saling beradu. Bersolek budaya. Lupa pucuk-pucuk budaya dan kelahirannya. Hanya menjadi pelaku, penguntil, dengan bedil berlenggak-lenggok, berkedok, tetapi sesungguhnya tengil.
Percakapan itu kembali mengalir. Sejumud pengalaman terseret, dicoreti lalu dicabik-cabik. Mengaku berbudaya tetapi budaya sering diabaikan dan belum tentu mengakuinya. Kiranya bisa ditelusuri lebih jauh, agar bukan hanya basa-basi menghantar kearifan, yang katanya hadir melengkapi keberdayaan peradaban dan budaya, melingkupi tabiat manusia yang cendrung bertempur dalam lumpur dan tempurung.
Begitu pula media sosial, kini telah dikuasai dan dipenuhi perempuan (ibu-ibu) pada umumya. Seorang bernama Sarah berusaha menampik. Tidak juga! Celetuknya. Justru laki-laki (bapak-bapak) juga jauh lebih aktif. Nonton video seksi berbikini dan numpang nampang narsis juga. Secara tidak peduli laki- perempuan, golongan manusia mana saja.
Peradaban mengubah semuanya. Suasana riuh ramai ingin pamer di medsos. Masih suka nyerocos! “Apa yang anda pikirkan” itulah jebakannya. Sindir menyindir, saling lempar kata. Pamer ini dan jauh lebih eksis bin narsis.
Kususur kemudian di sebuah laman Kompas.com, di sana ada dia mengujar di mana peradaban menurut Koentjaraningrat: Bagian dari unsur kebudayaan yang halus, maju, ndah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan, adat sopan santun, kepandaian menulis, organisasi kenegaraan, kebudayaan memiliki sistem teknologi, masyarakat kota yang maju dan kompleks.
Tak jauh dari laman tersebut, kutemui tiga di antara pendapat para ahli seperti Albion Small, mengungkap peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiannya, untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Sementara Huntington menyebut peradaban: Sebuah identitas terluas dari budaya yang teridentifikasi melalui unsur-unsur objektif umum, seperti bahasa, sejarah, kebiasaan, agama, dan institusi, maupun melalui unsir subjektif, seperti identifikasi diri.
Berikutnya, Alfred Weber juga tidak mau tinggal diam berpendapat, peradaban adalah pengetahuan praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan alam.
Lalu kusembunyikan kedangkalan serta kedongkolanku. Dari kausalitas, yang mengubah situasi peradaban dan manusia semakin surut, menggugat dan menghujat. Terpental lebih jauh dari tutur, literatur. Lebih pada nilai nomenkelatur, sifatnya mengatur hingga kebanyakan kian ngelantur. Kultur telah punah menjadi bubur, semata menabur, menanam benih peradaban manusia yang liar saling mencari mangsa.
Manusia melepas hajat saling menghujat. Seperti aku yang semakin kehilangan maklumat. Semusim penat kian memambah ruang-ruang adaptasi manusia, bukan saling asuh dan asih. Namun, berpotensi buruk berselisih. Sambil bersikap risih bagai tertindih saat tidur di dalam mimpi buruk.
Setiap detik manusia menjadi tak ramah, amarah dan asmara bahkan aib diumbar. Nilai kekeluargaan, kelompok, tetangga, teman, sahabat, semua kian hambar. Peradaban hadir mengubah tatanan. Manusia bertindak mengambil alih hukum Tuhan.
Kredit gambar: https://transisi.org/

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Ranca Cancel reply