Menurut Nashr al-Din al-Thusi, persiapan akhir sekaligus syarat utama bagi seorang yang hendak melakukan perjalanan spiritual (salik) menuju Allah adalah ikhlas. Karena ikhlas merupakan bagian terpenting dari wujud nyata kepasrahan total kepada Allah.

Ikhlas merupakan capaian puncak dari keimanan dan realisasi tertinggi dari tauhid praktis. Sebagai realisasi tertinggi dari tauhid, Imam Ali bin Abi Thalib menyebut ikhlas sebagai “puncak gunung bagi orang beriman”.

Dalam Al-Qur’an surat ke 112 yang berisikan tentang tauhid bernama surah al-Ikhlas. Bahasa Arab menunjukkan, ikhlas secara etimologis berarti “suci atau murni”. Kamus Mu’jam a;-Maqaayis fi al-Lughah, karya Ibnu Faris, secara etimologi ikhlas diartikan “mengosongkan sesuatu dan membersihkannya”.

Merujuk Lisan al-Arab, ikhlas berarti “memurnikan atau membersihkan”. Konteks ini, yaitu mengosongkan, memurnikan, dan membersihkan hati dari selain Allah. Ikhlas berkaitan erat dengan iman dan niat, yakni kesadaran ketuhanan yang mengarahkan intensi dan tendensi, hanya untuk Allah (lillahi ta’ala).

Nurcholish Madjid menjelaskan, ikhlas berkaitan mutlak dengan kesadaran ketuhanan (tauhidi). Karena hanya Allah yang sakral, maka seluruh tindakan guna menggapai kesucian, harus hanya ditujukan kepada Allah semata, dengan intensi dan tendensi tindakan hanya demi Allah selaku al-¬Haqq (kebenaran tertinggi).

Sebagai realisasi tauhid, ikhlas menurut al-Qusyairi, merupakan penunggalan al-Haqq dalam mengarahkan semua orientasi ketaatan. Seorang hamba dengan ketaatannya dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada Allah semata tanpa yang lain, tanpa dibuat-buat, tanpa ditujukan untuk makhluk, tidak untuk mencari pujian manusia atau makna-makna lain selain pendekatan diri pada Allah.

Ibn Athaillah menerangkan, “Amal perbuatan adalah bentuk-bentuk lahiriah yang tegak, sedangkan roh amal perbuatan adalah adanya rahasia keikhlasan di dalamnya.”

Ikhlas dipertentangkan dengan pamrih, karena ikhlas adalah suci dari pamrih kecuali Allah. Bahkan amal yang dilakukan bertendensi pada surga, merupakan amal yang dianggap masih berorientasi pamrih selain Allah.

Al-Ghazali memaparkan, amal yang dilakukan untuk mengharap imbalan surga, sejenis amal yang sakit. Pada level awam, beramal karena mengharap limpahan pahala serta surga, sebagaimana yang dijanjikan Allah, dapat dikatakan sebagai ikhlas dalam pengertian terbebas dari riya’, baik yang tampak maupun tersembunyi.

Sebagaimana sabda Imam Ali bin Abi Thalib, “Ikhlas adalah menyembunyikan kebaikan yang dilakukan, seperti menyembunyikan batu permata yang berkilau di dalam tanah.” Sedangkan pada level khusus, yang disebut oleh Nurcholish Madjid, sebagai golongan muhibbah dan muqarrabun, yaitu golongan para pecinta dan orang-orang yang dekat (dengan Allah).

Golongan ini adalah orang yang beramal karena mencintai Allah dengan maksud mengagungkan-Nya. Beramal sebagai realisasi kesaksian akan Hak Allah yang Mahaagung, bukan karena mengharap pahala (surga) atau karena takut akan siksa-Nya (neraka). Ikhlas dalam pengertian inilah yang menjadi prasyarat mutlak perjalanan sair wa suluk, yaitu perjalana rohani menuju Tuhan.

Menurut Muhsin Labib, keikhlasan adalah semua perbuatan, baik ritual maupun sosial, dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah, dalam pengertian inilah ikhlas merupakan aktualisasi sekaligus puncak dari Tauhid.

Kesadaran Tauhid yang kuat membuat jiwa seorang yang mukhlas (orang yang diliputi sifat ikhlas), tak mempan digoda oleh Iblis (QS. 15:40). Karena intensi dan tendensi hanya karena Allah, secara praktis sikap ikhlas ditunjukkan dengan kestabilan jiwa, yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun cacian.

Orang yang ikhlas, “bila dipuji tidak membuat tinggi hati dan dicaci tak mengusik emosi”. Berbuat “baiklah meski orang lain menudingmu mengharap pamrih”, demikian kata sebuah pepatah bijak.

Orang yang ikhlas tidak akan memedulikan omongan orang, karena baginya pujian bukan yang diharapkan dan cacian tak menjadi penghalang.

Inilah wujud praktis dari sikap moral yang teosentris (Tuhan sebagai pusat), karena hanya Tuhan yang menjadi motif, sekaligus tujuan dari semua amal kebaikan.

Perintah puasa serupa treatment dari Allah, untuk mendidik rohani meraih kualitas ikhlas. Orang yang berpuasa didasari keteguhan iman, niat dan kesadaran yang membenarkan (shidq), guna ber-inabah kepada Allah adalah mukhlis (orang yang berupaya untuk berbuat ikhlas) agar meraih mukhlas.

Menahan lapar, haus, dan seks, semacam treatment rohani untuk membiasakan diri terbebas dari godaan kenikmatan material. Memantangkan diri dari kesenangan material, merupakan upaya untuk membebaskan jiwa dari kungkungan hasrat materi.

Karena materi bersifat fana atau hancur, jiwa yang terkungkung dengan hasrat materi, maka jiwa tersebut menjadi hancur atau jatuh dari nilai substansinya, yang “tak terbatas” dan “abadi”.

Lebih dari itu, puasa adalah menahan seluruh perkataan dan perbuatan dari yang terlarang dan tercela. Dengan demikian, puasa menempa rohani, agar mampu membimbing jasmani, untuk senantiasa berada di jalan kebaikan dan kesucian.

Puasa merupakan ibadah yang paling sangat privat, karena Ibadah puasa merupakan rahasia berdua antara seseorang dengan Allah. Hal ini berbeda dengan ibadah lainnya, di mana keterlibatan dan pengetahuan orang lain terlihat begitu jelas.

Pada sifatnya yang sangat privat dan rahasia inilah, ibadah puasa menjadi sangat istimewa, karena mengarahkan intensi dan tendensi untuk ikhlas lillahi ta’ala.

Menahan lapar, haus, dan nafsu seksual dari fajar hingga malam datang, semua dilakukan ikhlas karena menaati perintah Allah. Jika seandainya untuk sesuatu selain Allah, maka kita akan mudah mengelabui manusia dengan mengesankan diri, bahwa kita sedang berpuasa.

Puasa bukan sekadar menahan, melainkan sebuah proses “menuhan” dengan menginternalisasi nilai-nilai keikhlasan ke dalam diri, hingga menahun bersama Tuhan, yang kemudian dieksternalisasi, melalui pengkhidmatan kepada sesama makhluk Tuhan dengan tanpa pamrih.

Kredit gambar: Koleksi foto Mauliah Mulkin


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *