Di Rumah Mike

Gwen sering membandingkan kamar miliknya dengan kamar sahabatnya, Mike. Seperti mengapa kamar Mike selalu terjaga kerapihannya sedangkan dirinya tidak. Padahal ia tahu betul, Mike seorang pemalas melebihi seekor koala di pohon.

Suatu ketika, Gwen bertandang ke rumah kawannya itu, dengan membawa papan catur tua ukuran sedang milik keluarganya. Meski Gwen tidak yakin Mike ingin bermain dengan dirinya, tapi ia tetap membawanya. Sebab ia suka membawa sesuatu untuk digenggamnya. Itu membantunya untuk mengalihkan rasa canggungnya, bila kehabisan obrolan atau bingung mau melihat ke mana.

Antara rumah Mike dengan dirinya pun hanya berjarak dua rumah. Seperti rumah-rumah orang dengan kelas ekonomi menengah, rumah Mike tidak begitu besar juga tidak terlampau kecil. Yang membedakan rumahnya dengan rumah lainnya, hanya cat tembok yang berwarna merah. Itu mengingatkan Gwen akan rumah peternakan di buku cerita miliknya sewaktu masih kanak-kanak. Ketika Gwen bertanya mengapa berwarna merah, Mike menjawab bahwa hanya itu satu-satunya warna yang tersedia di toko cat pada ujung jalan.

“Oh? Padahal aku berharap jawaban yang mengejutkan”

“Seperti apa? Dor! misalnya?”

“Tentu saja bukan seperti itu. Jika engkau sahabatku, engkau pasti paham maksudku.”

Mike tergelak. Tentu saja ia tahu. Ia hanya berusaha melucu.

Menurut Mike, Gwen tipe manusia yang sangat serius. Ia mudah percaya terhadap apa yang orang-orang katakan. Saat Mike memberitahu kebenaran itu pada Gwen, ia hanya merespon dengan “Oh…”. Lucunya ia tidak pernah belajar dari model cerita yang kemarin-kemarin. Itulah mengapa Mike begitu gemar mengganggu Gwen dengan cerita yang ia karang.

Sedangkan Gwen berpikir, ia harus belajar menaruh kepercayaan pada orang lain. Mungkin karena Gwen sering membaca buku-buku parenting koleksi milik ibunya. Di buku itu mengatakan, bahwa jika sejak kecil anak-anak harus didengarkan dan diberi kepercayaan. Gwen mengambil kesimpulan bahwa itu berlaku di semua lini sosial.

“Apa kau sibuk?” tanya Gwen mengintip dari pintu kamar Mike. “Aku ingin mengajakmu bermain catur”

“Hmm.. sepertinya itu membosankan”

“Bagaimana dengan puzzle 1000 pcs?”

“Butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya”

“Oh! Monopoli?”

“Bagaimana jika kita bermain gitar?”

“Butuh waktu yang lama untuk mempelajarinya”

“Masuklah, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”

“Kau lihat jendela yang ada di seberang sana?”

“….Ya! Ada apa dengan jendela itu?” Rasa antusias dan penasaran Gwen bercampur jadi satu.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menunjukkan kepadamu bahwa itu jendela” jawab Mike sambil terkekeh.

“Mike aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Apa kau pernah berpikir kemana bintang jatuh itu di bumi? Ternyata setiap bintang yang jatuh itu menyisakan serbuk ajaib sebelum ia hangus. Serbuk ajaibnya lalu diburu oleh beberapa kelompok di dunia. Tentu tanpa sebab mengapa serbuknya diburu, sebab efeknya mampu membuat terbang. Itulah mengapa Peter Pan mampu terbang.”

“Hmm…. Apa yang terjadi dengan beberapa kelompok yang ikut memburunya?”

“Oh, aku lupa mengatakannya. Serbuk ajaib itu hanya bekerja di Neverland untuk orang biasa, dan Peter Pan. Jika digunakan di Bumi dan serbuk ajaibnya disalahgunakan oleh orang, maka itu akan membuat kekacauan. Jika jatuh kepada orang-orang yang tepat, maka serbuk bintang itu akan dimasukkan ke dalam peti dan akan disembunyikan di suatu tempat. Yang menurutku akan memunculkan teori konspirasi jika kusebutkan.”

“Apa kau tahu di mana letak Neverland?” Mike mulai tertarik

“Letaknya setelah di bintang kedua dari kanan, lalu lurus sampai pagi. Wah, aku jadi ingin ke Neverland!”

“Kenapa?”

“Menurutku dunia orang dewasa begitu rumit sedangkan Neverland akan mengasyikkan.”

“Neverland mengasyikkan itu hanya asumsimu sebab kau belum pernah ke sana dan kau memiliki bayangan yang menyenangkan sebab ada perbandingan. Siapa yang mengira di sini lebih menyenangkan? Kupikir kita tidak perlu ke Neverland untuk menjadi anak-anak selamanya. Usia kita memang akan terus menua, tapi melakukan aktivitas yang mengasyikkan tidak harus ke Neverland. Memangnya hal apa yang kau sukai yang kau pikir tidak bisa lagi kau lakukan?”

“Hmm… Makan oreo dengan susu putih, wafer tango cokelat, makan cereal, makan choco chips, hmmm… bermain bersama kelinciku Nice, mencari cacing tanah, membaca buku karangan Road Dahl, Jacqueline Wilson, Enid Blyton…”

“Hahaha… jangan merasa berbeda dengan orang dewasa lainnya, jika kau tak melakukan hal yang sama dengan yang mereka lakukan. Mereka, para orang dewasa hanya melakukan rutinitas yang mau tak mau mereka harus lakukan. Semisal bekerja. Kalau diberi pilihan, tentu mereka akan lebih senang memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya, main game, makan-makanan kecil.

Namun, mereka dikejar oleh usia. Mereka semakin sadar bahwa tidak ada yang dapat mereka andalkan lagi selain diri mereka sendiri. Kesehatan mereka pun sudah tidak mendukung untuk mengonsumsi makanan kecil kesukaan mereka.”

“Oh… kasihan ya.”

“Tidak juga” jawab Mike santai. “Tergantung dari sisi mana orang dewasa itu, jika ia tidak menyukai, maka mau tak mau ia harus belajar mencintai hal-hal sulit itu. Agar dia tidak merasakan itu sebagai beban.”

“Oh, benar juga.”

“Jadi, apa kau ingin ke supermarket di persimpangan jalan? Kudengar mereka lagi memberi potongan harga untuk beberapa keripik kentang mereka.”

“Tunggu. Apa kau punya uang di sakumu sekarang?”


Comments

One response to “Di Rumah Mike”

  1. Tulisan pertama yang kubaca, dan sukaaaaa… Ringan, mengalir, santai.. Bikin hati jadi rileeeeks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *