Keteguhan

Hadir dan kokohnya iman, mensyaratkan keteguhan dalam menuntut ilmu dan keluasan wawasan. Tetap eksisnya iman, juga mensyaratkan keteguhan hati, untuk mengimplementasikan keyakinan melalui amal kebaikan.

Keteguhan (tsubat) melahirkan konsistensi dan ketenangan jiwa, sebagai syarat esensial dalam pencapaian kesempurnaan.

Menurut Khawaja Nashr al-Din al-Thusi, sumber dari keteguhan hati adalah wawasan terhadap kebenaran yang diyakini, kegairahan dalam kebenaran, serta ketekunan diri dalam melakoni kebenaran tersebut.

Karena itulah, nilai perbuatan baik bagi orang-orang yang memiliki keteguhan hati, merupakan nilai kebaikan paripurna yang mengantarkan pelakunya pada kesempurnaan.

Keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan akan kebenaran, serupa sumber dari keteguhan hati. Pengetahuan yang kemudian di-tashdiq (dibenarkan) dengan penuh keyakinan (iman), karena telah terang dan pasti perbedaan nyata antara haq dan batil.

Dalam pelajaran mantiq (logika) dikenal dua tingkatan pengetahuan, yaitu pengetahuan yang dikonsepsi (tasawwur) dan pengetahuan yang diyakini (tashdiq). Tasawwur adalah tahapan menuju tashdiq, hingga sampai pada tahapan haqqul yaqin, karena terangnya dalil tentang kebenaran tersebut. Haqqul yaqin dalam iman merupakan syarat awal bagi pejalan spiritual (salik), untuk mencapai kesempurnaan.

Keteguhan atau tsubat sebentuk manifestasi dari keimanan yang haqqul yaqin, berupa cinta yang membara pada kebenaran dan kebaikan, sebagaimana yang difirmankan Tuhan dan yang disabdakan oleh sang junjungan.

Keteguhan menguatkan jiwa dengan meninggalkan dan menanggalkan mental quitters, serta membangun mental climbers (pendaki). Jalan suluk sejenis jalan pendakian spiritual yang amat sulit dengan segenap tantangan dan godaan, baik dari luar maupun dalam diri. Di sinilah keteguhan tersebut disyaratkan, guna mengatasi seluruh tantangan dan godaan tersebut, yang dapat menggelincirkan diri pada kejatuhan eksistensial (fujur).

Menurut Thomas Aquinas, keteguhan hati sebentuk kesediaan untuk menghadapi dan menerima penderitaan, bahkan kematian, apabila dituntut oleh apa yang benar dan oleh kemuliaan Tuhan.

Dalam filsafat Yunani, konsepsi keteguhan diklasifikasi dalam dua pengertian; andreia dan karteria. Andreia adalah keteguhan yang ditunjukkan dengan kemampuan menghadapi tantangan hidup yang datang dari luar diri. Karteria merupakan keteguhan seseorang dalam mengatasi tantangan (godaan) yang berasal dari dalam dirinya.

Dengan demikian, keteguhan berimplikasi pada kekuatan perjuangan, bukan hanya melawan kekuatan musuh dari luar diri. Musuh yang paling besar dan berat adalah musuh yang  yang ada di dalam diri, yaitu tendensi pada hawa nafsu kebinatangan.

Keteguhan adalah struggle atau perjuangan dalam dua ranah (dalam dan luar diri). Struggle yang sesungguhnya, ada pada perjuangan di dalam diri. Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan melawan dirinya sendiri.

Imam Ali bin Abu Thalib berpesan, “Medan pertama yang harus kamu hadapi adalah nafsumu sendiri. Jika kamu menang atasnya maka terhadap yang lainnya kamu lebih menang. Dan jika kamu kalah dengannya maka terhadap yang lainnya kamu lebih kalah. Karena itu, cobalah kamu berjuang melawannya dahulu.”

Dalam hadis Rasulullah saw, jihad internal yaitu melawan hawa nafsu disebut sebagai jihad akbar, sedangkan jihad eksternal justru disebut oleh Rasulullah saw sebagai jihad asghar (kecil).

Oleh karena berat dan pentingnya keteguhan dalam perjuangan melawan diri sendiri, hingga Rasulullah menyebutnya sebagai jihad akbar. Pergulatan ini senantiasa terjadi di mana pun dan kapan pun sepanjang hela nafas manusia.

Sepanjang hidup kita dituntut untuk berada dalam konsistensi keteguhan hati untuk terbebas dari belitan obsesi ego yang dikendalikan oleh hasrat nafsu hewani dan syaitani.

Jika kita kalah dalam pergulatan ini, maka inilah kecelakaan sejati karena teringkarinya kesejatian kita sebagai insan yang Allah ciptakan sebaik-baik bentuk. Namun, karena kelalaian diri mengalami kejatuhan eksistensial, yaitu terjatuh di tempat yang serendah-rendahnya (lihat QS.95:5-6).

Maka disyariatkanlah puasa, sebagai sarana latihan membangun dan menguatkan keteguhan hati agar mampu menundukkan dan menguasai hawa nafsu, sehingga ia bisa tunduk untuk dikendalikan dan diarahkan menuju ketakwaan, karenanya mengantarkan manusia selangkah menuju jalan kesempurnaan.

Tujuan dari mengalahkan hawa nafsu dari pergulatan akbar tersebut, bukanlah hendak mematikan atau mengekang hawa nafsu secara tetap, melainkan mengendalikan hawa nafsu, atau lebih tepatnya mencerdaskan hawa nafsu di bawah kendali akal sebagai imam.

Dengan demikian, puasa adalah riyadah untuk mencerahkan akal dan meneguhkam hati agar senantiasa menjadi pengendali kehidupan kita. Sayyed Husein Nasr menulis, bahwa aspek paling sulit dari puasa adalah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani.

Dalam puasa kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak, perlahan-lahan dijinakkan melalui penaklukkan kecenderungan tersebut secara sistematis, dengan menaati perintah Ilahi melalui menahan lapar, dahaga, nafsu seksual, dan gejolak amarah. Setelah hawa nafsu dijinakkan, maka mudahlah bagi akal kita untuk mengendalikan dan menuntunnya kepada jalan kebenaran.

Puasa yang mewajibkan kita menahan diri dari makan, minum, dan seks, semacam riyadah untuk mencerahkan akal, meneguhkan hati, hingga kita terlatih untuk terus teguh dan konsisten dalam mengamalkan kebaikan dan menghindari keburukan.

Dengan jasmani yang menahan adalah riyadah keteguhan agar rohani dapat “menuhan”. Puasa yang dilandasi keteguhan merupakan puasa yang “menuhan”, bukan sekadar puasa yang menahan. Selanjutnya menggapai derajat keteguhan yang menahun untuk senantiasa bersama Tuhan sepanjang tahun.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *