Guru BK: Merawat Psikologis Anak, Merawat Masa Depan

Anak adalah masa depan bangsa. Namun, perlu kita ketahui, mental anak-anak zaman sekarang amat rentan. Apatahlagi kasus-kasus perundungan, pelecehan seksual, ataupun kekerasan kian marak dewasa ini. Melansir dari RRI.com tentang data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, kasus kekerasan seksual terhadap anak paling dominan terjadi pada tahun 2023. Sampai pada tanggal 31 Desember 2023, setidaknya terdapat 3.000 kasus kekerasan pada anak.

Pelecehan seksual, perundungan, dan intoleransi merupakan tiga dosa besar dalam dunia pendidikan. Kita tak boleh menanam 3 dosa ini ke anak-anak penerus bangsa. Semisal seorang pemimpin intoleran lahir dari anak bangsa, negara akan menjadi kacau balau. Dipenuhi perpecahan dan kebencian satu dengan yang lainnya. Berdasarkan hal tersebut kita dapat menarik kesimpulan sederhana, bahwa anak-anak adalah makhluk rentan dan polos yang masih memerlukan bimbingan.

Namun, di Indonesia masalah mental anak, cenderung diabaikan oleh sebagian orangtua. Bagaimana pola asuh orangtua di rumah? Apakah keluarganya harmonis atau bagaimana? Hal-hal ini dapat berpengaruh pada masalah mental atau psikologis anak. Sehingga memicu keterpurukan dan membuat anak gampang down. Anak yang tumbuh dari lingkungan yang tak baik, akan sering merasa tertekan dan stres. Di sinilah perlunya peran guru BK untuk menjadi konselor, karena semua anak yang bermasalah, sekolahnya akan terganggu dan cenderung tidak fokus.

Guru Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran yang sangat besar dalam masalah mental anak. Sebab guru BK memiliki fungsi preventif, yaitu mencegah terjadinya masalah perilaku atau emosional pada anak. Guru BK dapat menggunakan berbagai macam pendekatan, baik pendekatan pedagogi, andragogi, maupun dialogis.

Terlepas dari semua itu, fungsi-fungsi tersebut tak dapat dicapai tanpa adanya dukungan lebih dari berbagai pihak terkait. Olehnya, guru BK harus didukung secara optimal, agar perannya terhadap pengembangan peserta didik dapat maksimal. Sebagaimana pernyataan Komisi X DPR dalam Kompas.com yang mengatakan, bahwa peran guru BK perlu didukung dan diperkuat. Sebab guru BK dapat mengatasi permasalahan dan mewujudkan kesejahteraan psikologis bagi peserta didiknya.

Alasan lain mengapa bimbingan konseling sangat urgen, karena guru BK dapat mendekatkan diri dengan murid. Sedangkan pihak-pihak lain seperti orang tua dan guru non-BK, dapat merangsang bakat dan potensi peserta didik. Pada konteks inilah, guru BK mestinya membangun komunikasi yang baik dengan orangtua dan guru mata pelajaran.

Pada dasarnya, kebanyakan anak tertutup tentang kehidupan pribadinya. Mereka akan merasa terancam, jika diminta bercerita tentang kehidupan priadinya. Dia akan berusaha menutupinya. Mungkin karena tak memiliki rasa percaya kepada orang lain. Namun, guru BK memiliki kode etik tersendiri, yang mewajibkannya menyimpan rahasia peserta didik dengan aman.

Pada kasus ini, guru BK dapat bertindak sebagai support system dan mengambil bagian, dalam mengembangkan bakat dan minat peserta didik. Salah satu metode yang dapat digunakan yaitu metode teman sebaya. Metode ini memungkinkan guru BK menjadi teman curhat, sehingga dapat memberikan masukan untuk hal-hal yang ingin dilakukan peserta didik tersebut.

Keberhasilan guru BK menjadi penunjang dan penyemangat bagi psikologi peserta didik, memungkinkan masa depan peserta didik menjadi lebih terbuka dan positif. Tentunya, generasi selanjutnya akan menjadi lebih baik lagi. Angka kekerasan seksual akan menurun, jika adab dan sikap yang baik terus dipupuk ke generasi yang akan datang. Anak-anak tak perlu lagi merasa sendirian, karena dia mempunyai konselor, teman, sekaligus guru yang dapat dipercaya. Sekolah akan menjadi tempat teraman dan ternyaman bagi peserta didik.

Oleh karenanya, guru BK harus meningkatkan kompetensinya, serta berusaha membangun komunkasi yang baik dengan berbagai pihak khususnya peserta didik. Guru BK harus menjadi sosok yang  penyayang dan bisa beradaptasi dengan anak. Bukan menjadi guru yang ditakuti oleh peserta didik.

Akhirnya, saya berharap sekolah dapat menjadi tempat yang ramah anak dan dapat menjadi rumah kedua bagi peserta didik. Sehingga anak-anak merasa nyaman ke sekolah tanpa membawa beban. Dan, alangkah eloknya jikalau ada pelatihan bimbingan konseling bagi peserta didik yang ingin menjadi volunter dan penggerak menjadi konselor sebaya.

Kredit gambar:  https://previews.123rf.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *