Di antara 12 bulan dalam setahun, Allah mengkhususkan satu bulan, yaitu bulan Ramadan untuk kita “jeda” sejenak. Jeda dalam pengertian, lebih berfokus pada aspek rohani, dengan sejenak menahan diri pada hasrat-hasrat jasmani.

Ramadan merupakan bulan “menahan” yang mendidik jiwa kita untuk “menuhan”, agar selanjutnya kita senantiasa menahun bersama Tuhan. Ramadan identik dengan perintah puasa, yaitu menahan diri dari kecenderungan dasar hewaniah, yaitu makan, minum, dan seks.

Lebih dari itu puasa adalah menahan aktualnya karakter hewani dan syaitani, agar mengaktual karakter insani, hingga kita menyempurna dalam kualitas rabbani, berkat menggapai rida Ilahi.

Puasa sebentuk amal yang mensyaratkan iman sebagai acuan, makanya Allah hanya menyapa orang-orang beriman dan memerintahkannya untuk menjalankan puasa. Tak akan ada nilai bagi puasa yang dilakoni tanpa iman sebagai pijakan awal.

Iman secara bahasa berarti membenarkan (tashdiq), yaitu membenarkan atas apa yang telah diketahui secara pasti mengenai landasan, sarana, dan tujuan sejati dari kehidupan. Al-Qur’an menyebut iman kepada yang gaib, cakupan utamanya ada pada keimanan akan tiga hal, yaitu; Allah yang Esa, Muhammad utusan utama, dan adanya hari pembalasan.

Iman mensyaratkan ilmu, tasdhiq didahului ma’rifat, sebagaimana khutbah Imam Ali bin Abu Thalib dalam Nahjul Balaghah, “Pangkal agama adalah ma’rifat tentang Allah, dan kesempurnaan ma’rifat adalah men-tashdiq-Nya”.

Iman identik dengan ilmu karena bagaimana kita bisa membenarkan sesuatu yang kita tidak ketahui? “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS. 17:36).

Iman sepadan medium antara ilmu dan amal, karenanya menurut Mulla Sadra, iman sebagai media yang mengantarkan kesempurnaan bagi manusia, membawa dampak bagi kecerdasaan akal dan kecerdasan amal. Tiada iman tanpa (didahului) ilmu, dan tiada iman tanpa (dikonkretkan dengan) amal. Ilmu sejenis iman yang teoretik dan amal serupa iman yang terwujud dengan konkret.

Khawaja Nashir al-Din al-Thusi menyebut tanda-tanda orang beriman, yakni,  mengetahui, mengatakan, dan melakukan segala sesuatu yang semestinya diketahui, dikatakan, dan dilakukan.

Secara praktis, iman sebentuk ketaatan untuk melakukan perbuatan baik dan menghindari perbuatan buruk. Hal ini sejatinya adalah dorongan ilmu yang membuat kita cenderung pada kebenaran, taat pada kebaikan, dan menjauhi keburukan.

Karena itulah, iman menjadi bagian yang esensial  serta puncak dari ilmu, membimbing pada ketundukan yang sejati dan terwujud dalam amal kebaikan (saleh). Sebanyak 60 kali dalam 56 surat Al-Qur’an menggandengkan kata iman dan amal saleh. Dengan demikian, iman selain identik dengan ilmu juga identik dengan amal kebaikan.

Iman adalah keseimbangan dalam relasi harmonis antara kita dengan Tuhan serta relasi kita dengan sesama. Dalam QS. 8:2-4, disebut sebenar-benarnya orang beriman, yang bertawakal kepada Tuhan, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezekinya.

Tawakal sebagai keterikatan rohani dengan Tuhan, mendirikan salat selaku simbol dari ibadah vertikal antara kita dengan Allah, sedangkan menginfakkan rezeki selaras realisasi relasi baik dengan sesame, dalam bingkai ibadah yang bersifat horizontal.

Ibadah puasa merupakan salah satu realisasi iman, melambangkan harmoni dalam relasi vertikal dan horizontal. Sebab sejatinya, ibadah puasa memiliki dua sisi, yaitu sisi keilahian dan sisi kemanusiaan.

Imam Ali bin Abi Thalib, ketika ditanya tentang keimanan, beliau berkata; Iman berdiri di atas empat kaki: kesabaran, keyakinan, keadilan dan jihad.

Kesabaran pun mempunyai empat aspek: gairah, takut, zuhud, dan antisipasi (akan kematian). Maka barang siapa bergairah untuk surga, ia akan mengabaikan hawa nafsunya; barangsiapa takut akan api (neraka), ia akan menahan diri dari perbuatan terlarang; dan barangsiapa mengantisipasi kematian ia akan bergegas kepada amal baik.

Keyakinan mempunyai empat aspek: penglihatan yang bijaksana, kecerdasan, pengertian, menarik pelajaran dari hal-hal yang mengandung pelajaran dan mengikuti contoh orang-orang sebelumnya. Oleh karena itu, barangsiapa melihat dengan bijaksana, pengetahuan bijaksana akan terwujud kepadanya, dan barangsiapa yang terwujud padanya pengetahuan bijaksana, maka ia akan menilai obyek-obyek yang mengandung pelajaran, dan barang siapa menilai obyek-obyek yang mengandung pelajaran, samalah dia dengan orang-orang yang terdahulu.

Keadilan juga mempunyai empat aspek: pemahaman yang tajam, pengetahuan yang mendalam, kemampuan baik untuk memutuskan, dan ketabahan yang kukuh. Oleh karena itu, barangsiapa yang memahami akan mendapatkan kedalaman pengetahuan; barangsiapa mendapatkan kedalaman pengetahuan, ia meminum dari sumber keadilan; dan barangsiapa berlaku sabar, maka ia tak akan melakukan perbuatan jahat dalam urusannya, dan akan menjalani kehidupan yang terpuji di antara manusia.

Jihad pun mempunyai empat aspek: menyuruh orang berbuat baik, mencegah orang berbuat kemungkaran, berjuang (di jalan Allah) dengan ikhlas dan dengan teguh pada setiap kesempatan, serta membenci yang mungkar.

Iman yang sempurna serupa prasyarat melalui jalan suluk atau jalan spiritual menuju Allah. Ibadah puasa merupakan di antara jalan suluk yang utama. Jalan suluk dari puasa adalah menahan, agar rohani dapat melesat hingga “menuhan”.

Dampaknya, kita akan menahun bersama Tuhan. Dan, inilah “puncak” dari perjalanan. Puasa yang dilakoni dengan sepenuh iman, adalah puasa yang tak sekadar menahan, tapi puasa yang  derajatnya “menuhan”.

Selamat melakoni puasa Ramadan dengan menahan, moga kita semua dapat “menuhan”.

Kredit hambar: Ngopibareng.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *