Konon, adab memiliki keutamaan lebih tinggi dibanding dengan ilmu. Ini menandakan, ilmu apa pun didapatkan, bila tak beralaskan adab, akan menjadi bencana bagi diri dan orang lain. Mengutip pepatah arab, “Al adabu Fauqol ilmi,” artinya, adab lebih tinggi daripada ilmu. Secara alamiah ilmu pengetahuan akan terus mengalami kemajuan dari waktu ke waktu.
Kiwari, telah banyak temuan-temuan baru yang diperoleh berkat ilmu pengetahuan. Di sisi lain, ironi, ilmu pengetahuan dimanfaatkan oleh mereka yang tak bertanggung jawab, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sosial.
Kadang, seorang ilmuan dengan kemampuan eksperimen atau inovasi dimilikinya, melabrak nilai-nilai etik sosial, hingga menimbulkan kerusakan ekosistem lingkungan dan masyarakat.
Ilmu dan adab, sesuatu tak terpisahkan. Keduanya merupakan syarat mutlak seorang ilmuan. Apabila kedua hal tersebut menyatu dalam diri ilmuan, maka, kemaslahatan akan tercipta di tengah masyarakat. Definitnya, adab atau etika adalah hal fundamental yang mesti dimiliki setiap insan, apa pun profesi dan latar belakangnya.
Sudah sepatutnya nilai adab terinternalisasi di setiap individu-individu masyarakat. Adab, etika, akhlak dan semacamnya, mesti didahulukan di atas segalanya. Sekecil dan sebesar apa pun peran seseorang sebagai individu dan masyarakat, seyogianya, adab menjadi landasan berpikir dan bertindak.
Cakupan adab pun sangat luas, mulai dari aspek terkecil hingga paling besar dari sisi kehidupan. Salah satu sifat dari adab, yakni menjaga batasan tiap-tiap sesuatu agar tetap harmonis. Tampak, manusia beradab selalu berusaha menjaga hubungannya dengan Tuhan dan ciptaanNya.
Terdapat beberapa bagian tentang beradab bersama Tuhan, setidaknya, hal ini pernah ditulis oleh Muh. Nur Jabir, dosen sekaligus direktur Rumi Institute. Pertama, adab bersama Tuhan yakni berusaha agar senantiasa dalam maqam indallah (sisi Tuhan). Menyakini segala yang ada di dalam dirinya dan di luar dirinya adalah singgasana Ilahi.
Kedua, adab bersama Tuhan membuat kita selalu menjaga pemberian Ilahi. Bersyukur dalam segala kondisi. Ketiga, adab bersama Tuhan akan selalu menjaga kondisi di dalam dirinya, bahwa ia hanya seorang hamba sahaya dan selamanya demikian. Dan hanya Allah Swt semata sebagai maulanya.
Manusia, dengan kesadaran ilahiat, sepatutnya beradab sesuai adab Tuhan. Dengan demikian, kita sedang menjaga kesimbangan hidup dengan makhluk ciptaan lainnya.
Kepada sesama ciptaan Tuhan, manusia mesti menjaga harmoni ekosistem kehidupan sosial dan alam sekitar. Kerap pada kehidupan manusia, nilai adab sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Biasanya, asal usul adab, lahir dari keluhuran manusia-manusia terdahulu. Mereka sangat menjunjung tinggi nilai ketuhanan yang diperoleh secara inheren dari dirinya.
Bukankah, sejatinya manusia adalah makhluk spiritual, sebagaimana, Teilhard de Chardin menuliskan mindanya, We are not human beings having spiritual experience, we are spiritual beings having human experience. Kita bukan manusia yang punya pengalaman spiritual. kita adalah makhluk spiritual yang punya pengalaman yang manusiawi.
Secara umum, dimensi adab sangat luas dan universal cakupan obyek dan maknanya, hampir seluruh aspek kehidupan memiliki sandaran etik atau adab. Memang, secara formal, aturan etik tak pernah diatur secara yurisprudensi, sehingga, bukan bagian aturan resmi negara.
Hakikatnya, posisi etik atau adab berada pada domain kemanusiaan. Nilai etik atau adab tak pernah tertulis secara legal formal, tapi, diyakini dan dipercaya oleh masyarakat sebagai nilai luhur kemanusiaan.
Melanggar adab akan menimbulkan ketidakseimbangan kehidupan manusia dan lingkungan. Tentu, hal ini masih diyakini oleh masyarakat, khususnya, sebagian besar orang-orang timur.
Meyakini adab sebagai nilai universal, kemudian, menjadi laku sosial sehari-hari, akan menjadikan seseorang mudah diterima disemua lapisan masyarakat.
Kata Gus Dur, “Tidak penting apa pun agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.”
Setiap adab apa pun itu akan menampakkan kelantipan sikap dan perilaku seseorang. Perbedaan agama, suku, ras, dll, merupakan keniscayaan semesta. Meski demikian, setiap entitas perbedaan itu mengalami persamaan, apabila diperhadapkan nilai adab, etik, moral, akhlak, dsb. Atas dasar itulah, adab dianggap sebagai nilai universal.
Tidak banyak orang mampu memahami nilai universalitas dan memberlakukan pada kehidupan sosial, biasanya yang terjadi, seseorang terjebak pada ambiugitas nalar dan moral.
Entitas Keduanya tak mampu diselaraskan menjadi sebuah mandat sosial. Kadang seseorang memiliki kemampuan dan gelar akademik mentereng, di saat yang sama, ketika diperhadapkan dengan situasi real sosial masyarakat, nyatanya, mengalami degradasi moralitas.
Begitu pun sebaliknya. Menyeimbangkan dua kutub moral dan nalar tidak mudah seperti membalik telapak tangan, sikap manusia yang cenderung lalai, abai dan takabur menjadi tirai penghalang selamanya ini.
Tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan nalar, selain memiliki keterbatasan, nalar pula tidak dapat mengetahui hakikat sesuatu. Olehnya itu, seseorang mesti memilki kecerdasan spiritual (SQ).
Setidaknya terdapat lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, menurut Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya berjudul, SQ for Kids Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak Sejak Dini.
Pertama, kemampuan mentransendensikan yang fisik dan material. Kedua, kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak. Ketiga, kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari. Keempat, kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah. Kelima, kemampuan untuk berbuat baik.
Orang yang cerdas secara spiritual, manakala memecahkan persoalan hidup, tidak melulu menyelesaikan pendekatan secara rasional dan emosional, tapi lebih dari itu, ia mampu terhubung dengan makna kehidupan secara spiritual. Biasannya, mereka terhubung dengan warisan teks-teks kitab suci atau wejangan para leluhur.
Sesungguhnya, spritualitas kehidupan tidak sekadar mengenal atau memahami, tetapi lebih dari itu, seorang gembala spiritualitas memahami kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. Definitnya, ia sudah menemukan makna hidupnya dan menjalani hidup yang bermakna.
Walakhir, kata Ibn Arabi, dikutib dari tulisan Wiliam C. Chittik, “Semua kembali kepada Tuhan, tetapi sebagian besar kembali kepadanya persis ketika mereka datang.”
Kredit gambar: https://www.warungsatekamu.org/

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply