Ramadhan Sayyidusy Syuhur

Dari dua belas bulan qamariah, hanya bulan Ramadhan yang ditemukan penggunaannya dalam al-Quran, seperti disebutkan dalam QS. al-Baqarah/ 2: 183. Sebelas bulan qamariah lainnya tidak pernah disebutkan, termasuk 4 bulan yang mulia dan dimuliakan, yang disebut dengan bulan haram, seperti disebutkan dalam QS. Taubah/ 9: 36. Kenyataan ini menunjukkan kemuliaan bulan Ramadhan melebihi sebelas bulan lainnya. Oleh karena itu, bulan Ramadhan disebut sayyid al-syuhur yakni pemimpinnya bulan-bulan.

Dalam doa memasuki bulan Ramadhan, oleh Imam Ali Zainal Abidin, anak dari Imam Husain, dari keturunan Rasulullah saw. menyebutkan banyak nama yang dilekatkan pada bulan Ramadhan. Di antara nama yang dimaksud adalah Ramadhan dinamai bulan puasa; bulan Islam; bulan pensucian (syahruth thahur); bulan pembersihan (syahru al-tamhiish) dan bulan menegakkan malam dengan ibadah (syahru al-qiyam). Banyaknya pelekatan nama kepada bulan Ramadhan, cukup menjadi bukti kemuliaan bulan Ramadhan.

Kemuliaan Ramadhan juga dapat dipahami dari beberapa riwayat hadis Rasulullah saw, yang menegaskan:

 إذا إستهَلَّ رمضان غُلِّقت أبواب النار وفتحت أبواب الجنان وصفِّدت الشياطين

Artinya, “Ketika memasuki Ramadhan, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka dan setan-setan terbelenggu.”

Sabda Rasulullah saw lainnya:

إن ابواب السماء تفتح في أول ليلة من شهر رمضان ولا تُغْلَق إلي أخر ليلة منه

Artinya, “Sesungguhnya pintu-pintu langit dibuka di malam pertama bulan Ramadhan dan tidak ditutup sampai akhir malam dari bulan Ramadhan.”

Kedua hadis di atas menegaskan, bulan Ramadhan merupakan bulan penegakan kebajikan, pembumian amalan-amalan saleh, penegakan berbagai ragam jenis ibadah, sebagai jalan menuju dan memasuki surga. Di sisi lain, bulan Ramadhan, sejatinya menjadi bulan segala jalan dan bentuk kejahatan, pembuatan dosa dan kemaksiatan, terkendali dan bahkan tertutup. Dengan demikian jalan memasuki neraka juga tertutup. Demikian pula bisikan-bisikan jahat dan gerakan penyesatan yang dilakukan iblis dan setan menjadi disfungi. Iblis dan setan terantai atau terbelunggu.

Semua ini menggambarkan, bulan Ramadhan, sebagai bulan religius-spiritual Ilahi. Bulan perjuangan menuju ketinggian spiritual yang istimewa dan paripurna. Konteks makna ini digambarkan dan diserupakan dengan istilah langit-langit yang terbuka lebar, mulai dari malam pertama bulan Ramadhan hingga malam terakhir. 

Kemuliaan Ramadhan, juga tergambar dengan jelas dalam perkataan Imam Ali kw, “Sesungguhnya suatu hari Rasulullah saw. berkhotbah kepada kami, seraya bersabda: ‘Wahai manusia sesungguhnya telah datang kepada kalian bulan Allah dengan (membawa) keberkahan, rahmat dan ampunan. Ia (bulan Ramadhan) di sisi Allah adalah seutama-utama bulan; hari-harinya adalah seutama-utama hari, malam-malamnya adalah seutama-utama malam dan waktu-waktunya adalah seutama-utama waktu. Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya kalian diundang untuk menghadiri jamuan Allah dan di dalamnya kalian dijadikan sebagai orang-orang yang mendapatkan kemuliaan Allah. Nafas-nafas kalian di dalamnya dihitung sebagai tasbih, tidur kalian dicatat sebagai ibadah. Amal kalian di dalamnya diterima. Dan doa kalian di dalamnya dikabulkan.’ Kemudian Aku (Imam Ali) seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama di bulan Ramadhan ini? Rasulullah saw. bersabda kepadaku: ‘Wahai Abal Husain, seutama-utama amal di bulan Ramadhan adalah menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Allah.”

Keterangan yang menarik dipertegas dari perkataan menantu Rasulullah saw. di atas, antara lain: Pertama, bahwa bulan Ramadhan adalah bulan keberkahan, bulan rahmat atau kebajikan dan bulan ampunan atau maghfirah.

Terkait dengan Ramadhan sebagai bulan keberkahan, relevan dengan doa yang diajarkan Rasulullah saw. yakni: “اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلّغنا رمضان.” Artinya: “Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab dan di bulan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan.”

Pembelajaran yang dapat dipahami dari doa Rasulullah saw., bahwa Rasulullah saw, sungguh telah mempersiapkan dirinya untuk memasuki bulan Ramadhan selama dua bulan sebelum Ramadhan, yakni dimulai dari bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Eksistensi bulan Rajab dan Sya’ban sebagai bulan persiapan, sekali lagi telah menunjukkan makna kemuliaan bulan Ramadhan.

Makna lain yang penulis juga pahami dari doa di atas , bahwa modal utama kekuatan spiritual dalam memasuki bulan Ramadhan adalah keberkahan. Adapun yang dimaksud dengan keberkahan adalah konsisten dalam kebajikan atau kebajikan yang terus-menerus bertambah.

Dari makna keberkahan tersebut, maka sejatinya atau paling tidak, sejak dua bulan sebelum Ramadhan, yakni sejak bulan Rajab dan Sya’ban, umat Islam telah menegakkan aneka ragam kebajikan dan menjauhi segala bentuk keburukan dan kejahatan.

Pembiasan diri dalam kebajikan pada dua bulan sebelum Ramadhan, akan menjadi kekuatan dahsyat, untuk menegakkan kebajikan-kebajikan atau amal saleh di bulan Ramadhan di satu sisi. Sebaliknya, pembebasan diri dari keburukan sejak dua bulan sebelum Ramadhan, akan menjadi benteng atau perisai yang kuat dan kokoh dari bisikan-bisikan penyesatan iblis dan setan, yang senantiasa mendorong melakukan keburukan dan kejahatan.

Bukankah Allah memang menegaskan larangan yang keras yakni agar tidak menzalimi diri sendiri pada bulan-bulan yang dimuliakan termasuk pada bulan Rajab (QS. at-Taubah/ 9: 36)?

Sementara pada bulan Sya’ban, yang merupakan bulan yang disandarkan kepada Rasulullah saw., beliau senantiasa menegakkan kebajikan yang sangat banyak. Beliau pada bulan Sya’ban lebih banyak berpuasa melebihi bulan-bulan lainnya, kecuali bulan Ramadhan.

Berdasarkan keterangan mengenai sunnah Rasul yang beliau tegakkan baik di bulan Rajab dan Sya’ban, maka dapat ditegaskan , sejatinya telah banyak melakukan aneka ragam ibadah dan kebajikan dan menegakkan gerakan menjauhi keburukan dan kejahatan, sejak dua bulan sebelum Ramadhan. Dengan demikian, aneka ragam ibadah yang ditegakkan pada bulan Ramadhan akan menjadi kenikmatan dan bukan menjadi beban.

Kenikmatan aneka ragam ibadah, hanya dapat dirasakan, apabila keutamaan ibadah dimakrifati. Berdasar makrifatul ibadah, akan menghadirkan kecintaan menegakkan ibadah. Dengan perkataan lain, makrifatul ibadah dan mahabbah, serupa doa, sebagai modal utama dalam menegakkan ibadah di bulan Ramadhan. Dalam konteks inilah, Rasulullah saw. bersabda:

 لو يعلم العبد ما في رمضان لَوَدُّ أن يكون رمضان السنة

Artinya: “Seandainya seorang hamba mengetahui apa yang terdapat pada bulan Ramadhan niscaya seorang hamba akan menginginkan Ramadhan itu setahun.”

Kedua. Memperoleh ampunan Allah di bulan Ramadhan merupakan salah satu pencapaian tertinggi di bulan Ramadhan. Oleh karena itulah, bulan Ramadhan dinamai sebagai bulan ampunan (syahru al-maqfirah). Terkait dengan pentingnya memperoleh ampunan di bulan Ramadhan diajarkan sebuah doa yang dianjurkan dibaca di hari-hari sisa di bulan Sya’ban. Adapun doanya:

اللهم إن لم تكُن غفرْتَ لنا فيما مضي من شعبان فاغفر لنا فيما بقي منه

Artinya: “Jika Engkau (Allah) belum mengampuni kami di hari-hari yang telah berlalu di bulan Sya’ban. Maka ampunilah kami di hari-hari yang tersisa dari bulan Sya’ban.”

Doa di atas mengisyaratkan makna, umat Islam yang memasuki bulan Ramadhan sejatinya sudah terlebih dahulu memperoleh pengampunan dari Allah di akhir bulan Sya’ban. Dengan demikian, ia menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan kesucian tanpa dosa. Keadaan spiritual ini bersenergi dengan Ramadhan sebagai bulan suci dan kesucian. Berdasarkan doa tersebut, juga dapat dipahami, keterbebasan dari dosa merupakan modal kekuatan spiritual memasuki dan menyambut kedatangan bulan Ramadhan.

Terkait dengan keberadaan ampunan yang mesti diperoleh baik sejak bulan Sya’ban juga di bulan Ramadhan Rasulullah saw. Bersabda:

من أدرك شهر رمضان فلم يُغفر له فأبعده الله

Artinya: “Barangsiapa menjumpai bulan Ramadhan, sedangkan dirinya tidak diampuni berarti Allah telah menjauhkannya.”

Sabda lainnya juga menegaskan:

إن الشقي من حُرم غفران الله في هذا الشهر العظيم

Artinya: “Sesungguhnya orang sial itu adalah orang yang dicegah dari ampunan Allah di bulan Agung ini.”

Berdasarkan kedua hadis di atas, dapat ditegaskan, memperoleh ampunan Allah, merupakan salah satu puncak pencapaian tertinggi dan istimewa yang mesti diperoleh di bulan Ramadhan. Sebaliknya, kegagalan memperoleh ampunan Allah merupakan petanda keterjauhan dari Allah dan sekaligus menjadi orang yang paling sial.

Dikatakan demikian, karena jika di bulan Ramadhan saja, yang merupakan bulan religius-spiritual terbaik dan termulia, tidak dapat diperoleh ampunan Allah, lalu bagaimana dapat memperoleh ampunan Allah swt. pada bulan-bulan lain, yang tidak lebih baik kondisi religius-spiritualnya dibanding bulan Ramadhan?

Terkait dengan pertanyaan di atas, Rasulullah saw. bersabda:

من لم يغفر له في رمضان ففي أي شهر يُغْفَرْ له؟

Artinya: “Barangsiapa yang tidak memperoleh ampunan di bulan Ramadhan. Maka di bulan apa dirinya akan memperoleh ampunan.”

Adapun bulan Ramadhan disebut sebagai bulan religius-spiritual terbaik, tergambar dalam perkataan Imam Ali kw. di atas,  “Ia (bulan Ramadhan) di sisi Allah adalah seutama-utama bulan; hari-harinya adalah seutama-utama hari, malam-malamnya adalah seutama-utama malam dan waktu-waktunya adalah seutama-utama waktu. Bahkan pada bulan Ramadhan, umat Islam yang memasukinya dijadikan sebagai orang-orang yang mendapatkan kemuliaan Allah. Nafas-nafas kalian di dalamnya dihitung sebagai tasbih, tidur kalian dicatat sebagai ibadah. Amal kalian di dalamnya diterima. Dan doa kalian di dalamnya dikabulkan….”

Ketiga. Umat Islam yang memasuki bulan Ramadhan menjadi tamu Allah dan memperoleh jamuan Ilahi. Menjadi tamu Allah, merupakan sebuah kedudukan yang paling terhormat dan termulia. Oleh karena yang mengundang adalah Allah, pemilik kehormatan, keagungan dan kemuliaan. Jamuannya pun adalah jamuan yang terbaik dan terlezat. Sekiranya ditanyakan, apa bentuk jamuan Allah tersebut? Jawabannya, al-Quran yang telah diturunkan di bulan Ramadhan.

Dari sini, dapat ditegaskan, hanya umat Islam yang senantiasa berinteraksi dengan al-Quran secara haqqan, yakni interaksi dengan sebenar-benarnnya interaksi, benar, baik dan sempurna yang akan merasakan kenikmatan religius spiritual Ilahi di bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, jadilah tamu yang terbaik, dengan cara mengikuti seluruh keingingan, kehendak, dan perintah yang mengundang dan menjadikan kita sebagai tamu-Nya. Dengan pula menjauhkan diri dari segala yang dimurkai-Nya.

Puncaknya, yang hadir hanyalah keingingan dan kehendak Allah, sementara keinginan dan kehendak kita melebur di dalam kainginan dan kehendak-Nya. Dengan begitu, umat Islam terbebaskan diri dari sifat dan sikap ananiyah atau egoisme.

Walakhirin, dapatlah dikemukakan kandungan QS. al-Baqarah ayat 185-186, sebagai pedoman praktis tentang apa yang mesti dilakukan pada bulan Ramadhan, sehingga kita dapat mencapai kemuliaan, kesucian dan keridhaan Allah di bulan Ramadhan. Dengan begitu, puncak tertinggi kualitas religius-spiritual dapat diperoleh dan dicapai.

Adapun aneka ragam ibadah yang dilakukan terkait dengan bulan Ramadhan adalah pertama, berinteraksi dengan al-Quran dengan sebenar-benarnya interaksi. Kedua, menegakkan ibadah puasa.

Ketiga, senantiasa menegakkan zikrullah dalam bentuk seluas-luasnya, khususnya penegakan shalat sebagai zikrul akbar. Keempat, senantiasa berdoa dan bermunajat kepada Allah. Kelima, menjadi hamba yang pandai bersyukur. Wallahu a’lam.

Kredit gambar: Pinterest


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *