Puasa dan Iklan: Sebuah Refleksi Perubahan 

Umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan. Meskipun di beberapa wilayah, terdapat perbedaan dalam menentukan 1 Ramadan. Ada yang mulai berpuasa pada 11 Maret, ada pula 12 Maret 2024. Perbedaan itu karena sudah biasa, hingga muncul candaan, sebelas duabelas ji. Maksudnya, beti (beda-beda tipis).

Bulan Ramadan, sangat dirindu dan dinantikan oleh kaum muslim. Untuk itu berbagai persiapan lahir maupun batin telah dilakukan. Bahkan jauh hari sebelumnya. Misalnya saja, persiapan lahiriah berupa perlengkapan salat baik itu sajadah, mukenah, sarung, ataupun peci untuk tarawih, telah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Telah dipilah mana yang terbaik. Dicuci, disetrika, dan dilipat dengan rapi, untuk kemudian disimpan dalam lemari. Dan akan dipakai pada saat yang tepat.

Ada juga yang coba mempersiapkan resep menu-menu sajian buka puasa, bahkan Idulfitri. Secara ruhaniyah, ada yang telah mempersiapkan kumpulan doa-doa harian dan amalan-amalan lainnya.

Bukan hanya itu, berbagai tayangan iklan komersial, terkait pelaksanaan puasa hingga lebaran, berseliweran memenuhi layar kaca, maupun media cetak lainnya. Sebagai sebuah metode penyampai berita atau pesan tertentu, iklan komersial tersebut diolah sedemikian rupa guna memantik daya beli konsumen. 

Ada satu fenomena yang sedikit menggelitik di kalangan masyarakat, yang berkelakar, jika iklan produk salah satu minuman sirup sudah ditayangkan di televise, itu berarti Ramadan sudah dekat. 

Ya, begitulah iklan membahasakan sebuah fenomena di masyarakat. Mereka mampu meramu sedemikian rupa sehingga terlihat indah, estetik, dan menawan. Dan pada akhirnya tujuan dari iklan itu sendiri tercapai dengan sendirinya.

Masih terkait iklan di televisi. Belakangan ini ada satu iklan produk susu yang begitu menarik perhatian. Pesan yang disampaikan  dalam iklan ini sangat konstruktif. Menyoal kebiasaan masyarakat pada umumnya, yang begitu selesai melaksanakan salat ied langsung meninggalkan tempat di mana mereka duduk sebelumnya dengan beralaskan koran. Koran-koran itu dibiarkan berserakan begitu saja berharap ada petugas kebersihan yang akan mengambilnya. 

Fenomena ini telah berlangsung dari tahun ke tahun. Dari zaman kolonial hingga milenial, bahkan hingga tiba pada zaman generasi Z seperti sekarang ini.  Padahal, bila setiap orang mau memungut sendiri korannya dan membuang atau mengumpulkannya pada satu tempat, maka pemandangan hamparan koran bekas yang berserakan di jalan dan di lapangan area masjid, tidak akan kita temukan lagi. Sebuah perilaku sederhana namun berdampak besar.

Hanya saja, sangat disayangkan, walaupun terbilang simpel dan enteng, masih saja sebagian besar dari kita belum menyadari betul akan pentingnya hal ini dilakukan. 

Diperlukan sebuah gerakan sosial, yang diprakarsai oleh para pemangku jabatan untuk mengubah perilaku ini secara massal. Misalnya dengan membuat iklan layanan masyarakat, berupa papan reklame, yang mana bisa disaksikan secara visual oleh masyarakat, sehingga memengaruhi alam bawah sadar mereka.

Atau pada saat pelaksanaan Idul Fitri, ada semacam himbauan kepada para jamaah dari corong-corong pengeras suara masjid untuk mengambil kembali koran masing-masing setelah beranjak dari tempat duduknya.

Dengan begitu kebersihan dan keindahan lingkungan tetap terjaga dan kita pun akan merasa nyaman. Begitulah, sebuah perilaku sederhana yang bisa membuat perubahan secara massal.

Mungkin kita masih akan terus membutuhkan pengingat berupa iklan, untuk mengembalikan perilaku-perilaku baik yang telah hilang di tengah masyarakat.

Jangan pernah berhenti atau berputus asa. Terutama bagi individu-individu yang telah tercerahkan dan memiliki kesadaran tinggi, maka di tangan merekalah perubahan perilaku orang-orang akan kembali menemukan harapannya.

Berharap akan terjadi banyak perubahan lewat momentum puasa, lebaran, serta perayaan-perayaan agama lainnya.

Kredit gambar: Pinterest


Comments

One response to “Puasa dan Iklan: Sebuah Refleksi Perubahan ”

  1. Fatmawati Sukarmin Avatar
    Fatmawati Sukarmin

    betul say. sangat setuju dgn pernyataanta di atas. sehingga kalau selembar koran saja kita pungut dan buang pada tempatnya. Insya Allah akan terjaga lingkungan kita. Semoga kesadaran kita sebagai masyarakat bisa lebih diingkatkan lagi. Saya pun sejak kuliah di biologi jadi lebih sadar untuk menjaga lingkungan. Seperti tidak membuang sampah sembarangan dll. Teringat biasa makan permen bungkusnya saya kantongi smpai dapat tempat sampah. Mungkin itu sedikit pendapat saya. karena saya tidak bisa merangkai kata dengan baik. Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *