Rutinitas sebelum memasuki bulan Ramadan adalah ziarah kubur ke makam leluhur.
Pagi ini kami bergegas melangkahkan kaki sebelum matahari bersinar sempurna. Jarak dari rumah ke makam kurang lebih 300 meter.
Kami bertiga berjalan beriringan menelusuri jalan Syekh Yusuf, sambil mengenang masa kecil di awal tahun 80-an.
Dulu pohon di sebelah kiri dan kanan berjejer sampai ke makam, daun-daunnya bertemu di atas pohon dan membentuk seperti payung yang melindungi para peziarah dari sinar matahari, jika hendak berziarah di makam Syekh Yusuf.
Suasananya sangat sakral dan pastinya adem menelusuri tiap jengkal jalan menuju makam. Banyak cerita mistik pada saat kami kecil terekam indah di hati kami masing-masing.
Di sepanjang jalan menuju makam akan kita temui para penjual kembang, kambing, dan minyak wangi yang di produksi sendiri oleh masyarakat sekitar dengan menggunakan daun jati. Hasilnya harum dan berwarna merah.
Cerita tentang kambing, berhubungan erat dengan nazar yang akan di sampaikan kepada Allah pemilik alam semesta, melalui walinya Syekh Yusuf.
Di depan makam berdiri kokoh sebuah bangunan yang kami akrab dengan sebutan “baruga”, yang lazim dipakai untuk melepaskan hajat, yang telah terpenuhi dengan cara memotong kambing dan memasaknya di dalam baruga, kemudian di santap bersama-sama dengan masyarakat sekitarnya.
Kembang yang dijual di sekitar makam, menggunakan keranjang yang sangat artistik, dianyam dari bambu dan mempunyai penutup. Anyaman tersebut lalu dibungkus dengan kain putih sebagai bentuk penghormatan kepada Syekh Yusuf, yang merupakan pahlawan nasional yang diasingkan oleh penjajah ke Afrika Selatan.
Dulu, kakek (Datok) kami salah seorang yang menemani para peziarah untuk membacakan doa. Peziarah beraneka ragam mulai dari sepasang pengantin lengkap dengan busana pengantinnya, orang yang berangkat ataupun pulang haji, dan segala kepentingan para peziarah.
Di belakang makam Syekh Yusuf ada jendela kecil, kami sering ke sana mengintip aktivitas para peziarah dan tentunya sambil berdoa dalam hati, menyampaikan hajat-hajat kami versi anak-anak di kala itu.
Sore hari menjelang malam, Datok akan pulang ke rumah dengan uang logam yang banyak di balik sarungnya. Dia kemudian akan menjatuhkannya pelan-pelan, dan kami cucu-cucu yang telah berkumpul akan berebut mengambil uang logam tersebut sebagai berkah.
Datok bertugas sebagai imam masjid, dan sesekali diminta membaca khutbah di hari Jumat.
Alhamdulillah, Datok hapal barazanji, sebuah ritual doa dan puji-pujian yang dibaca saat ada hajatan berupa kawinan, akikahan, masuk rumah, maulidan, dan lain-lain. Sepulang dari acara tersebut, rumah kami akan dilimpahi banyak makanan, mulai dari pisang, kue-kue tradisional, telur, ayam dkk.
Datok juga sebagai wakil imam di pemerintahan pada zamannya. Dulu waktu kami masih kecil selalu dikejutkan dengan kedatangan perempuan-perempuan dewasa yang jumlahnya kadang empat sampai lima orang. Tujuan kedatangannya untuk diamankan akibat dari kawin lari.
Terkadang mereka sampai berbulan-bulan tinggal di rumah, menunggu kabar dari pihak keluarga perempuan, minta kerelaannya untuk dinikahkan.
Makam Datok ada di sisi kanan sebelum makam Syekh Yusuf. Di sekitar makam Syekh Yusuf akan ditemui makam leluhur mulai datok, om, tante, kakak, adik, dan keluarga lainnya.
Semoga kuburnya menjadi taman-taman surga. Aamiin.
Kini, situasi sudah berubah. Jalan menuju makam Syekh Yusuf tidak lagi serindang dulu. Tidak lagi bisa ditemukan anyaman artistik berisi kembang. Ia sudah berganti dengan bekas kaleng cat. Ataupun untuk ringkasnya, kembang dimasukkan ke dalam kresek putih kemudian diikat. Baruga juga sudah dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru.
Andaikan dilestarikan, bisa menjadi wisata religi untuk generasi sekarang. Walaupun tetap banyak peziarah tetapi auranya sudah berubah.
Semoga Datok dan keluarga besar yang dimakamkan di sekitar makam Syekh Yusuf, mendapatkan keberkahan dari wali Allah, Syekh Yusuf, Tuanta Salamaka, begitulah sebutan yang kukenal dari dulu.

Aktif di handmade merajut dengan brand Tanaga Craft. Bersama teman-teman yang sehobi membuat UKM Makassar Rajut. Berusaha menguatkan ekonomi keluarga dengan membuat usaha rumahan. Suka membaca, mengamati, dan jalan-jalan.


Leave a Reply