Ammuntuli Bulang Ramalang

Salah satu tradisi  di kampung saya dibesarkan, yaitu Bungeng Desa  Pattaneteang, adalah tradisi ammuntuli bulang Ramalang (menyambut bulan Ramadan).

Tradisi ini tidak lekang dalam kenangan, karena kakek saya, H. Puang Tulung adalah seorang guru syara’ (imam kampung), salah satu tugasnya, ammaca (berdoa) di setiap kegiatan keagamaan, termasuk saat ammuntuli bulang.

Aktivitasnya dari rumah ke rumah, sehingga saya sering kali ikut, hitung-hitung makan enak, ada nasi songkolo, burasa, kaloli’, dan ayam di setiap rumah yang ditempati ammaca.

Hingga kini, tradisi ini masih ada, walau tidak seperti di masa 1980-an, ketika saya masih kanak-kanak, karena tergerus zaman, tergantikan oleh kegiatan rekreasi di akhir Syakban, yang menurut saya hanya sekadar bersenang-senang, menghabiskan energi dan materi, yang seharusnya disimpan untuk beribadah dalam bulan Ramadan.

Ammuntulli bulang merupakan tradisi yang biasanya dilakukan sehari sebelum berpuasa, di tanggal 29 atau 30 Syakban. Tradisi ini ada “seninya” tersendiri, apalagi bagi si imam, yang harus melayani hajatan warga. Terkadang utusan warga sudah menunggu di depan rumah, di mana  si imam sedang ammaca. Bahkan, kadang  tidak dapat giliran sampai waktu salat Isya dan tarawih, sehingga harus dilanjutkan sehabis salat  tarawih.

Sejatinya, kebiasaan Ammuntulli bulang bagi masyarakat Sulawesi Selatan, termasuk Bantaeng sebentuk suka cita atas datangnya bulan penuh berkah, dengan melakukan pembacaaan doa yang biasa disebut “assuro maca”. Sebuah seremonial sederhana berisi zikir dan doa-doa, yang dipimpin oleh seorang tokoh agama, disajikan aneka makanan khas yang harus ada saat acara-acara tradisi, seperti songkolo, burasa, ketupat, dan yang lebih khas lagi kaloli.

Lalu, apakah tradisi ammuntuli bulang dengan ambaca ini, sudah cukup untuk meyambut bulan suci Ramadan? Tentu tidak, beberapa hal mesti pula disegerakan.

Pertama, persiapan rohani dan jasadi, yaitu dengan banyak berdoa, berzikir, puasa sunah, bertaubat, minta maaf kepada orang tua dan tetangga, bahkan ziarah kubur. Nabi Muhammad saw. sudah mengajarkan  sejak bulan Rajab, rohani kita sudah dikondisikan dengan banyak berdoa seperti yang diajarkan, “Ya  Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban dan pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan.”

Kedua, persiapan maliyah atau  material, ini penting juga sebagai penunjang ibadah, yaitu dengan mempersiapkan peralatan ibadah anggota keluarga, seperti pakaian yang  bersih dan suci. Demikian pula persiapan untuk bahan makanan dalam bulan Ramadan.

Saya teringat dengan salah satu kebiasaan kakek dan nenek saat ammuntuli bulang, mereka sudah menyiapkan jauh-jauh hari di bulan Syakban bahan makanan untuk Ramadan seperti beras, ayam, dan bahan lainnya. Persiapan materi di sini tidak dimaksudkan untuk membeli kebutuhan berbuka dan sahur yang mewah dan mahal bahkan kadang terkesan berlebihan. Tapi ditujukan semata-mata untuk menopang ibadah zakat fitrah, sedekah, dan infaknya.

Ketiga, persiapan fikriyah, persiapan pengetahuan tentang amal-amaliah dalam bulan Ramadan, perihal puasa, zakat, salat tarawih, dan lain-lain. Salah satu persiapan penting untuk menyambut Ramadhan adalah dengan memperdalam ilmu agama. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti kajian, tausiah, atau mendaras kembali buku-buku pelajaran agama, khususnya tema yang berkenaan dengan puasa.

Dengan memahami ilmu agama, membantu kita memahami makna dan tujuan di balik setiap ibadah yang dilakukan selama Ramadan. Dengan demikian, ibadah yang kita lakukan akan lebih berkualitas.

Jadi ammuntuli bulang, hakikinya  jangan hanya dimaknai sebagai sekedar abbaca, ammaca atau assuro maca, tetapi harus dimaknai lebih dalam sebagai bentuk rasa syukur dan kebahagiaan berjumpa lagi dengan bulan mulia.

Sejalan dengan itu momen ini pula menjadi sarana  keluarga berkumpul di rumah. Orang tua, anak-anak yang sekolah di daerah lain, biasanya pulang kampung untuk bersama-sama menyambut hari pertama puasa, bahkan pengalaman saya sewaktu sekolah di MAN Model Makassar dan kuliah IAIN Alauddin Makassar, tidak afdal rasanya jika menyambut Ramadan tanpa pulang ke rumah, berdesak-desakan di bus adalah hal biasa.

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadan 1445 H. Bulan yang penuh rahmat, berkah, dan pengampunan dari Allah Swt. Sebagai umat Islam sudah selayaknya kita mempersiapkan diri menyambut Ramadan

Membaca doa pada awal bulan Ramadan sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw sebagai permohonan kita agar dapat menjalani ibadah dengan baik. Berikut doa yang diajarkan Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan Ubadah bin Shamit.

Allahumma salimnî min ramadlâna wa sallim ramadlâna lî wa tasallamhu minnî mutaqabbalan.” Ya Allah, sampaikan aku (dengan selamat menuju bulan) Ramadhan. Sampaikanlah Ramadan kepadaku, dan terimalah (amal-amal)ku (di bulan) Ramadan.”

Dan doa lainnya, “Allahumma adkhilhu ‘alayna bil amni wal iman, was salamati wal islam, wa ridwanim minar Rahman, wa jiwarim minash shaytan.” “Ya Allah, hadirkanlah (Ramadan) kepada kami dengan membawa keamanan, iman, keselamatan, kesenangan, dan perlindungan-Mu dari setan.”

Doa-doa ini dapat baca pada saat ammutuli bulang tahun ini.

Selamat menyambut bulan Ramadan 1445 H/2024 M, semoga Ramadan tahun ini lebih baik dari tahun lalu.



Comments

3 responses to “Ammuntuli Bulang Ramalang”

  1. Mengingatkan kembali dimasa2 kecil yg indah.
    keren

  2. Muh. Saing, S. Ag, M. Sos.I. Avatar
    Muh. Saing, S. Ag, M. Sos.I.

    Trzdisi anmuntuli bulang hampir tahun demi tahun terkikis/ habis ditelan zaman, utamanya di kota kota, akan tetapi di Desa dan perkampukangan tradisional masih di pertahankan, di hari jumat ada salah satu teman kantor cari ayam kampung 6 ekor untuk dibeli persiapan abbaca baca Amuntuli bulang, saya teringat masa anak anak saya , kita keliling anak mengaji mendampingi guru kampong/ tukang baca baca rumah kerumah makan enak dan gratis, karna sakin banyaknya rumah maka kita kekenyangan akhirnya bungkus pulang, di masa anak anak terkadang makanan ini yg membatalkan puasa pertama karna di cokko cokko dan ada yg memakan sebunyi sembunyi dan menurutnya puasa karena tidak ada yg tau ( ayam panggang 1 ekor ) siapa tdk tergiur kalau imannya lemah anak mengaji di Tahun 80 an

  3. Masya Allah… Teringat jg dgn kenangan bersm ke2 oetuku ku,, kebetulan tettaku adalah guru Syara’ jg, sampai beliau wafat di thn 2006. Kegiatan Ammuntuli Bulang rutin kami laksanakan,, orang2 kampung antrian menunggu beliau u/ assuro maca, terkadang tdkmi na cicipi saking bnyaknami rmh dikunjungi, Sy jg dirmh sangat gembira Krn byk makanan enak yg dibw kermh😍, Biasax klo tdk sempat dicicipi oleh tettaku si tuan rmh pasti mengantar kan kermh…. Masya Allah…

Leave a Reply to Nurlinda Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *