Puang Guru Janggo konon pernah terukir sebagai salah satu sosok tupanrita atau tokoh terpandang yang konon juga memiliki pengaruh dalam penyebaran agama Islam di beberapa daerah di Sulawesi Selatan.
Bagi banyak kalangan, Puang Guru Janggo dikenal sebagai sebuah gelar kehormatan yang disematkan kepadanya karena wibawa dan kedalaman ilmunya. Namun, di balik gelar besar tersebut, sejarah keluarga mencatat nama bangsawan aslinya, yaitu I Manrakkai. (Nama tersebut hanya gelar bangsawan, mungkin saja beliau memiliki nama lain.)
Perjalanan hidup I Manrakkai atau Puang Guru Janggo adalah kisah tentang ketaatan, syiar agama, dedikasi literasi, serta ikatan kekeluargaan yang membentang dari Gowa, Bantaeng, hingga ke pesisir Bulukumba dan Sinjai.
Pada masa hidupnya, Puang Guru Janggo mendharmabaktikan dirinya untuk menyebarkan syiar agama Islam. Langkah kakinya menyusuri beberapa wilayah di Sulawesi Selatan. Beliau mengawali dakwahnya dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya, di Bantaeng lalu melanjutkan perjalanan syiar ke kawasan pesisir Bira di Bulukumba dan Sinjai.
Kehadiran beliau di tanah Bira meninggalkan kesan mendalam hingga dibangun sebuah petilasan. Tempat untuk mengenang jejak langkah dan tempat beliau bermusyawarah serta mengajar ilmu agama. Menariknya, terdapat cerita tutur di tengah keluarga yang diwariskan secara turun-temurun terkait keberadaan “makam” beliau di Bulukumba dan Sinjai.
Tetua keluarga menyaksikan bahwa lokasi yang sering dianggap masyarakat sebagai makam di Bulukumba dan Sinjai sebenarnya bukanlah tempat beliau dikuburkan, melainkan tempat ditanamnya barang-barang peninggalan beliau berupa keris dan sorban. Hal ini menjadi simbol keberadaan dan pengaruh spiritual Puang Guru Janggo di wilayah tersebut.
Ketika usia Puang Guru Janggo makin senja dan fisiknya mulai digerogoti sakit, beliau sempat menyampaikan sebuah keinginan terakhir. Beliau berharap, jika kelak meninggal dunia, jasadnya dapat dimakamkan di Gowa. Daerah tersebut merupakan kampung halaman dari salah satu istrinya yang sangat beliau cintai, seorang putri bangsawan asal Gowa bernama Te’ne.
Namun, takdir menentukan jalan lain. Pada masa itu, sarana transportasi masih sangat terbatas. Perjalanan darat dari kawasan Bulukumba-Bantaeng menuju Gowa membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan hingga berminggu-minggu. Kondisi geografis dan keterbatasan sarana zaman dahulu tidak memungkinkan untuk membawa jenazah beliau melakukan perjalanan sejauh itu tanpa merusak jasadnya.
Akhirnya, Puang Guru Janggo menghembuskan napas terakhirnya di Bantaeng. Mengingat situasi transportasi saat itu, pihak keluarga sepakat untuk memakamkan beliau di Bantaeng, tepatnya di wilayah Jagong. Hingga hari ini, makam beliau di Jagong menjadi saksi bisu peristirahatan terakhir seorang tokoh besar yang dicintai masyarakat kala itu.
Puang Guru Janggo bukan hanya seorang syiar Islam, tetapi juga seorang cendekiawan yang melek literasi pada zamannya. Salah satu peninggalan paling berharga dari beliau yang masih tersimpan hingga saat ini adalah sebuah buku Lontarak tulisan tangan.
Buku Lontarak tersebut menjadi bukti otentik keahlian dan wawasan Puang Guru Janggo. Uniknya, kertas yang digunakan dalam penulisan Lontarak ini bukanlah kertas biasa, melainkan kertas khusus impor yang memiliki watermark atau tanda air bergambar “Propatria”, kertas khas buatan Eropa yang banyak digunakan pada abad ke-18 hingga ke-19 mungkin.
Keberadaan kertas bernilai tinggi ini, makin menegaskan posisi sosial Puang Guru Janggo, sebagai sosok bangsawan dan ulama terpandang, yang memiliki akses terhadap media tulis bermutu tinggi pada zamannya. Buku Lontarak tersebut kini menjadi peninggalan bersejarah yang sangat dijaga oleh keturunannya.
Di samping peninggalan berupa Lontarak ber-watermark Propatria, terdapat satu lagi artefak berharga yang dijaga ketat oleh rumpun keluarga besar Puang Guru Janggo. Peninggalan tersebut adalah sebuah batu landasan penempaan yang oleh rumpun keluarga secara turun-temurun dinamai Tanrassang (landasan atau anvil kuno).
Bagi keluarga besar, tanrassang bukan sekadar benda peninggalan mati. Batu khusus yang digunakan sebagai alas untuk menempa logam berharga—seperti besi pusaka hingga emas—ini menjadi saksi bisu kemahiran dan keahlian tinggi yang dimiliki Puang Guru Janggo pada zamannya.
Dalam tradisi masyarakat Sulawesi Selatan, proses penempaan logam (khususnya untuk membuat pusaka atau perhiasan) tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik semata, tetapi juga melibatkan kekuatan spiritual, doa, dan laku tirakat yang mendalam.
Keberadaan tanrassang menguatkan pandangan bahwa Puang Guru Janggo adalah sosok yang multidimensi. Beliau tidak hanya dikenal sebagai sosok yang pernah ikut menyebarkan syiar Islam di Bantaeng, Bulukumba, dan Sinjai, tetapi juga seorang figur serba bisa yang menguasai seni menempa logam. Kemampuan ini makin mempertegas kedudukan beliau sebagai tokoh terpandang dan berpengetahuan luas, yang karyanya mencakup dimensi spiritual, literasi, hingga pertukangan logam.
Hingga saat ini, batu tanrassang dipelihara dengan penuh rasa hormat oleh keturunannya. Artefak ini menjadi simbol keteguhan hati, ketangkasan, dan warisan nilai spiritual-budaya dari sosok Puang Guru Janggo yang tak lekang oleh waktu.
Dari pernikahannya dengan Te’ne, salah satu putri bangsawan dari Gowa, lahirlah beberapa anak yang melanjutkan garis keturunan beliau. Salah satu di antaranya yang terkenal adalah Marica Daeng Bambang dan Rabiah (Beberapa anak yang lain belum terdeteksi namanya dengan jelas).
Dalam perjalanannya, Marica Daeng Bambang menikahi Batari. Keturunan dari pernikahan inilah yang kemudian berkembang pesat dan menyebar ke berbagai daerah.
Dalam silsilah keluarga besar Puang Guru Janggo, terdapat satu fenomena keunikan fisik yang diturunkan ke beberapa anak dan cucunya, yaitu adanya anggota keluarga yang memiliki gen Vitiligo (bercak putih pada kulit) dan Albino (putih menyeluruh/tau buleng/tau poto’).
Secara ilmiah dan medis, kemunculan gen Vitiligo dan albino pada rumpun keluarga ini dipicu oleh tradisi pernikahan antar-sepupu (consanguinity) yang cukup sering terjadi di antara anak-cucu keturunan beliau pada masa lalu untuk menjaga kerabatan dan martabat keluarga, pun juga untuk menjaga Budele/warisan biar tidak jatuh ke tangan keturunan luar.
Namun, di dalam tradisi lisan dan kebiasaan keluarga, terdapat mitos atau kepercayaan lokal yang diyakini secara turun-temurun. Keluarga percaya bahwa keunikan fisik kulit putih tersebut muncul sebagai akibat dari melanggar pantangan memakan daging kerbau putih. Kepercayaan ini menjadi salah satu legenda keluarga yang unik dan mewarnai cerita identitas rumpun Puang Guru Janggo hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya zaman, anak cucu keturunan Puang Guru Janggo terpisah oleh jarak. Banyak di antara mereka yang merantau dan menetap di berbagai daerah yang berbeda, termasuk di kawasan Bulukumba, Bantaeng, Gowa, dan sekitarnya. Sebagian dari mereka bahkan sempat kehilangan kontak satu sama lain.
Titik balik pertemuan keluarga kembali terjadi pada bulan Juli lalu di wilayah Campaga, di mana wilayah tersebut juga merupakan cicit-cicit dari beberapa jalur keluarga dari Puang Guru Janggo menetap. Salah satu di antaranya rumpun dari H. Hasbullah (H. Sabollah) yang memperistrikan salah satu putri dari Palaguna Pajokka (Gallarrang Campaga).
Sebuah momentum bersejarah tercipta ketika digelar acara pertalian keluarga besar rumpun Puang Guru Janggo. Pertemuan yang penuh kehangatan tersebut berhasil mengumpulkan kembali sanak saudara dari berbagai jalur keluarga dan berbagai daerah.
Pertemuan di bulan Juli itu bukan sekadar acara kumpul-kumpul biasa, melainkan menjadi wadah untuk merajut kembali tali silaturahmi yang sempat merenggang, menyambung kembali garis silsilah yang hampir terlupakan, serta mengenang kembali jasa-jasa sang leluhur, I Manrakkai atau Puang Guru Janggo.
Melalui momen tersebut, generasi muda rumpun keluarga kini dapat mengenal kembali sejarah, warisan Lontarak Propatria, batu tanrassang, serta nilai-nilai luhur syiar Islam yang telah ditanamkan oleh Puang Guru Janggo sejak ratusan tahun yang lalu.

Guru di SMP Negeri 2 Eremerasa Bantaeng, sekaligus Coach Renang, Founder Ayra’S Swimming Club dan Seruni Swimming Lessons.


Leave a Reply