Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir atas nama kepentingan anak dan masa depan bangsa. Di atas kertas, program ini membawa harapan besar: menekan angka stunting, memperbaiki kualitas gizi anak, dan memastikan setiap anak Indonesia tumbuh dengan kondisi kesehatan yang layak.
Namun, seiring pelaksanaannya, publik berhak mengajukan pertanyaan mendasar: apakah tujuan mulia itu tetap dijaga, atau perlahan bergeser menjadi ruang bisnis baru yang dibungkus narasi kepedulian?
Pertanyaan ini bukan bentuk sinisme, melainkan wujud kewaspadaan warga negara terhadap kebijakan publik yang menyedot anggaran sangat besar. Dalam sejarah kebijakan sosial, banyak program lahir dengan niat baik, namun gagal menjaga integritas ketika tata kelola melemah dan pengawasan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Secara konseptual, memperbaiki gizi anak bukan sekadar soal membagikan makanan. Ia adalah investasi jangka panjang yang menyangkut kualitas sumber daya manusia, kecerdasan generasi, dan daya saing bangsa di masa depan. Karena itu, MBG seharusnya ditempatkan sebagai program kesehatan dan perlindungan anak, bukan sekadar proyek pengadaan logistik pangan.
Masalah mulai muncul ketika peran lembaga negara tidak lagi berada pada fungsi aslinya. Dalam sistem demokrasi, pembagian peran adalah kunci check and balance. Pemerintah bertugas sebagai pelaksana, sementara DPR menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Ketika fungsi pengawasan melemah atau bahkan bercampur dengan pelaksanaan teknis, ruang kritis menjadi sempit. Pengawas yang ikut terlibat dalam eksekusi berisiko mengawasi dirinya sendiri.
Di titik inilah kekhawatiran publik menemukan relevansinya. Program dengan anggaran besar selalu mengundang kepentingan ekonomi. Vendor penyedia bahan pangan, jasa distribusi, hingga pengelola dapur menjadi bagian dari mata rantai yang rentan disusupi praktik bisnis yang tidak sehat. Jika orientasi kebijakan bergeser dari kualitas gizi ke sekadar penyerapan anggaran, maka anak-anak yang seharusnya menjadi subjek utama justru terpinggirkan.
Indikatornya dapat dilihat secara kasat mata. Apakah kualitas makanan benar-benar memenuhi standar gizi dan keamanan pangan? Apakah distribusi tepat sasaran? Apakah mekanisme pengadaan transparan dan dapat diaudit publik? Atau justru yang lebih dominan adalah siapa mendapat proyek, siapa mengelola dapur, dan siapa menguasai rantai pasok?
Tanpa pengawasan yang kuat, MBG berisiko berubah menjadi program populis jangka pendek. Program tetap berjalan, makanan tetap dibagikan, laporan tetap disusun, tetapi dampak gizi jangka panjang tidak pernah benar-benar dievaluasi. Lebih berbahaya lagi, masyarakat dibuat percaya bahwa persoalan gizi selesai hanya karena anak mendapat makan di sekolah, tanpa edukasi gizi yang berkelanjutan di rumah dan lingkungan.
Padahal, perbaikan gizi tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan pendekatan holistik: edukasi orang tua, perilaku konsumsi sehat, sanitasi lingkungan, serta jaminan keamanan pangan. Tanpa itu semua, MBG hanya akan menjadi solusi sementara yang berhenti ketika anggaran berhenti.
Di sinilah pentingnya mengembalikan program ini pada ruh awalnya. MBG bukan tentang siapa yang paling terlihat bekerja, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga tujuan. Bukan tentang seberapa besar anggaran yang dihabiskan, melainkan seberapa nyata dampaknya bagi kesehatan anak. Bukan tentang kepentingan politik atau ekonomi, tetapi tentang tanggung jawab moral negara terhadap generasi penerus.
Pada akhirnya, publik tidak menolak MBG. Justru sebaliknya, publik ingin memastikan program ini tidak kehilangan arah. Kritik dan pertanyaan harus dipandang sebagai alarm dini, bukan ancaman. Karena memperbaiki gizi anak adalah soal menyelamatkan masa depan bangsa, bukan sekadar menyelesaikan proyek anggaran tahunan.
Jika negara sungguh-sungguh ingin membangun generasi sehat, maka MBG harus dijaga dari godaan bisnis kebijakan. Transparansi, pengawasan independen, dan pembagian peran yang tegas adalah syarat mutlak. Tanpa itu, niat baik kebijakan akan selalu kalah oleh kepentingan jangka pendek.

Takdir Mahmud, lebih akrab disapa Abhy, lahir dari pasangan orangtua Mahmud dan Kumina. Pendiri Serambi Baca Tau Macca, inisiator Kemah Buku Kebangsaan (KBK) dan relawan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.
Email: takdir@pplhpuntondo.or.id


Leave a Reply