Gedung kadang menjadi saksi atas hadirnya lintasan percakapan unik dan berdimensi ke masa depan. Mengimajinasikan masa datang, berlapik pikiran kekinian, usai mengeja minda masa silam. Eloknya lagi, bila percakapan itu dihelat oleh sekelompok kaum muda-mahasiswa, buat satu negeri, demi tanggungjawab selaku agen perubahan.
Bangunan berupa kantor, di dalamnya ada satu sudut ruang, bernama Studio Mal Pelayanan Publik Kabupaten Bantaeng. Kapasitasnya tak begitu luas, memuat sekira lima puluh orang, dengan kursi permanen plus sedikit area yang bisa ditambahkan sesuai kebutuhan. Lebih tepat bila dikatakan sebagai studio mini, tapi perlengkapan audio visualnya, lebih dari memadai.
Bentangan pikiran-pikiran dipercakapkan dalam studio ini, lewat tajuk acara Simposium Kepemudaan, di gelar oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Bantaeng, pada Jumat, 28 November 2025. Tema utamanya tertulis, “Literasi Insan Cita: Insan yang Bertanggungjawab atas Terwujudnya Masyarakat Adil Makmur yang Diridai Allah Swt.”
Tema tersebut diperas oleh masing-masing pemantik, Kajari Bantaeng dengan literasi hukum untuk umat, HMI Badko Sul-Sel via lintasan pemuda dalam perubahan sosial, dan KAHMI menyodorkan nalar literat sebagai fondasi peradaban adil makmur.
Selaku Ketua Dewan Pakar Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Bantaeng, meskipun di flayer tercantum sebagai penulis dan pegiat literasi, rasa-rasanya, saya lebih memantaskan diri saja sebagai representasi KAHMI. Pasalnya, saya merasa berkepentingan untuk menegaskan kembali, konsep-konsep dasar HMI, ketika mempercakapkan tema utama tersebut, sehingga dengan gamblang saya dedahkan lagi, makna-makna tafsir, mengapa ber-HMI sekaligus ber-Indonesia dan ber-Islam.
“Nalar Literat sebagai Fondasi Peradaban Adil Makmur”, sebentuk sub tema yang didapukkan kepada saya, guna memantik salah satu sub tema dari tema utama simposium. Agar pantikan percakapan tetap berlapik pada tema utama, maka saya ulik dulu beberapa konsep kunci, khususnya terkait dengan istilah “Insan Cita” dan “Peradaban Adil Makmur”.
Suasana hening menghidu ruangan, tatkala saya mulai mengajak penghadir, agar lebih khusyuk memahami konsep-konsep kunci. Apatah lagi, saya pun mengondisikan keseriusan mengimajinasikan dimensi masa depan. Bahwasanya, dalam kitab suci Al-Qur’an, ada tiga konsep kunci berkaitan dengan manusia: Basyar, Insan, dan An-Nas.
Supaya terkesan percakapan dalam simposium bernuansa akademik, saya rujukkan minda pada seorang scholar kelahiran Mazinan berkebangsaan Iran, Ali Syariati, yang menjelaskan, Basyar, menunjukkan kita sebagai manusia apa adanya. Basyar berasal dari kata basyarah yang berarti kulit, tubuh, atau raga. Sebentuk makhluk fisik-biologis, terikat kebutuhan makan, minum, tidur, dan seks. Inilah manusia level paling dasar, mencerminkan manusia masih berparas turab (dari tanah).
Insan, ditafsir secara beragam dan diperdebatkan oleh ulama. Kata insan paling sering dikatkan dengan dengan uns (keakraban, kebersamaan, dan cinta), nasiya (pelupa), dan ins (makhluk berkesadaran). Insan merupakan manusia dengan kesadaran, kehendak, akhlak, dan kemampuan memilih. Eksistensinya memiliki akal budi, etika, dan kebebasan. Mampu belajar, mengingat, dan membangun peradaban. Sanggup bertanggung jawab atas amanah, menyadari keberadaan Tuhan dan misinya dalam sejarah. Insan inilah yang dimaksud jenis manusia digambarkan Al-Qur’an, mampu mengemban tugas kekhalifahan, sebab ia adalah manusia sadar, bebas, kreatif, dan bertanggung jawab.
An-nas, serupa dengan manusia sebagai kolektif-sosial. Konteksnya, berupa masyarakat, umat, maupun komunitas sosial. Paras An-Nas bisa bersifat positif (umat beriman) atau negatif (kerumunan tak sadar), menggambarkan prilaku massa-struktur sosial-hubungan kekuasaan, dan memiliki dinamika sosial-budaya-sejarah, serta menjadi objek dakwah-bimbingan-hukum sosial.
Jadi, literasi insan cita, sesungguhnya mencakup tiga dimensi kemanusiaan (basyar, insan, dan an-nas). Sebab, semua manusia pasti basyar dan terlibat dalam an-nas, meskipun tidak semuanya mampu mewujud menjadi insan. Konteks inilah, kehadiran HMI yang memadatkan tujuan organisasinya, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernapaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridai Allah Swt.” menjadi amat elok dicitakan, mendidik manusia kualitas basyar menjadi insan, buat hadirnya an-nas berwajah positif.
Bukankah insan cita HMI, serupa manusia ideal? Dicitakan menegedepankan kualitas sosok cendekia (akademis), kreatif (pencipta), berdedikasi (pengabdi) berakhlak islami (bernapaskan Islam), dan berkomitmen pada perubahan sosial (masyarakat adil makmur). Konsep Insan adalah koentji bagi HMI, mengangkat manusia kualitas basyar yang masih berparas tanah, menuju insan citra ilahi, yang akan menghidu an-nas dalam selimut masyarakat manifestasi ilahi.
Secara praksis, HMI butuh nalar literat sebagai strategi mewujudkan insan cita idealnya. Sebab, nalar literat sebentuk cara berpikir yang mampu memahami, mengolah, menafsirkan, dan menggunakan informasi-pengetahuan secara kritis, mendalam, serta bertanggung jawab. Dengan nalar literat, seseorang tak hanya mampu membaca teks, tetapi juga meng-iqra realitas: mampu membedakan fakta dan opini, melihat motif di balik informasi-pengetahuan, membangun argumen yang logis, serta menghasilkan minda yang relevan dan bermakna. Pastinya, nalar literat mengandung unsur pokok, berupa sikap kritis, analitis, reflektif, kreatif, dan etis.
Arti penting nalar literat bagi HMI, khususnya Cabang Bantaeng yang ikut menghidu negeri Butta Toa-Bantaeng, sebab nalar literat menjadi fondasi peradaban modern. Dengan nalar literat, memungkinkan masyarakat berpikir jernih, adil ketika menjatuhkan keputusan, dan memajukan kebudayaan negeri. Bentuk taktisnya dalam konteks pembangunan sosial, budaya, maupun keagamaan, nalar literat serupa alat buat mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan beradab.
Akankah hangatnya percakapan, waima Studio Mal Pelayanan Publik Bantaeng berpendingin, menjadi saksi moncernya pendar minda, untuk satu negeri yang bertekad untuk bangkit? Sawala dalam Simposium Kepemudaan ini, barulah upaya kecil buat mencicil jalan panjang, dari satu kaum yang berhimpun, menegaskan ke-insan-annya, membebaskan diri dari kualitas manusia basyar, berbekal tekad: Yakin usaha sampai (Yakusa).

Pegiat Literasi. Telah menulis buku: Air Mata Darah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023), serta editor puluhan buku. Pendiri Paradigma Institute Makassar dan mantan Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com. Kini, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, sekaligus Pemimpin Redaksi Paraminda.com.


Leave a Reply