Ketika Sekolah Lupa Mengajar Kehidupan

Kawan-kawan, izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah pengakuan yang tidak pernah saya bayangkan akan saya ucapkan setelah dua belas tahun menjadi guru: saya masih saja merasa sebagai greenhorn dalam urusan membuat pembelajaran menjadi bermakna. Kadang saya merasa seperti seseorang yang sudah lama hidup di kampung sendiri, tetapi baru sadar bahwa saya belum benar-benar memahami jalan-jalan kecil yang menghubungkan satu rumah dengan rumah lainnya.

Rasa itu muncul kembali beberapa waktu lalu, ketika saya membaca ulang buku-buku yang ditulis oleh kawan-kawan di Komunitas Guru Belajar tentang diferensiasi, tentang menjadi guru merdeka belajar di ruang kelas, tentang teknologi pembelajaran. Buku dengan gizi yang padat itu ditulis oleh para guru yang saya goda sebagai yankee karena keberaniannya melawan arus, menjadi cermin yang terlalu jujur. Saya mendadak berhadapan dengan diri sendiri: guru yang rajin, tapi mungkin tidak cukup peka. Guru yang sibuk, tapi tidak selalu tepat arah. Guru yang ingin berlari cepat, tapi sering lupa bahwa muridku memiliki ritme sendiri.

Membaca buku itu membuat saya mengalami semacam dejavu. Saya dibawa kembali pada wajah ayah saya yang pada sorot matanya tajam, pada kumis dan jambangnya yang selalu tumbuh lebih cepat daripada kemampuan saya untuk memahami segenap maksudnya. Dulu, ketika remaja, saya sering pura-pura tidak mendengar kalimat-kalimat pendek yang keluar dari mulutnya. Kalimat yang tidak pernah memakai kata-kata indah, tetapi selalu berhasil menancap di bagian terdalam dari harga diri seorang anak laki-laki.

Sikap beliau sederhana saja: “Sekolahmu setinggi apa pun, yang penting kamu kompeten di rumah.”

Ayah saya memang begitu. Hidup sebagai petani, berpikir sebagai petani, dan, saya kira, akan selalu begitu sampai kapan pun. Dan hari-hari terakhir ini, ketika beliau terbaring lemah di ICU, kalimat-kalimat yang dulu saya anggap sebagai bentuk kekerasan verbal itu, justru berubah menjadi semacam warisan pemikiran yang bersarang lama di kepala saya.

Tulisan ini adalah restorasi dari esai lama saya lima tahun lalu, ketika Covid baru saja mengguncang semuanya. Tetapi relevansinya kini justru lebih kuat daripada sebelumnya. Saya menerbitkannya kembali sebagai persembahan kecil untuk Hari Guru Nasional 2025. Juga sebagai salam saya untuk ayah, yang mungkin sedang berjuang dalam diam, di sebuah ruang rumah sakit yang terlalu putih dan terlalu asing di mana kopi dan sebat menjadi terlarang.

Karena darinya, banyak pemikiran saya tentang sekolah dan pendidikan berubah arah. Tidak sekaligus, tidak pula mudah, tetapi perlahan, seiring bertambahnya usia saya, kalimat-kalimat pendek ayah justru terasa semakin panjang maknanya.

Kawan-kawan, saya ini lulusan sekolah perawat kesehatan. Tiga tahun ditempah bidan Juhadiah di asrama, lalu memutuskan tidak melanjutkan karier sebagai perawat. Saya malah pindah jalur ke sekolah keguruan. Ya, ingin menjadi guru. Namun prosesnya tidak indah: tujuh tahun baru rampung kuliah, padahal seharusnya empat. Saya bahkan memilih tidak ikut wisuda. Cukup mengambil ijazah, mencium sampulnya sekali, lalu melanjutkan hidup.

Kabar baiknya, ayah saya tidak peduli itu semua. Baginya, kompetensi bukan urusan toga dan ijazah. Ia punya parameter yang jauh lebih membumi: Apakah saya bangun pagi? Apakah salat saya masih bolong-bolong? Apakah saya bisa membaca Al-Qur’an tanpa tersengal? Apakah saya paham bagaimana meratakan lumpur sawah? Apakah saya tahu bagaimana menanam padi tanpa mengundang bencana keong mas?

Kalau itu semua belum, maka saya dianggap belum kompeten. Baginya, Ijazah hanya kertas. Kompetensi adalah tindakan.

Ayah saya selalu menghubungkan sekolah dengan ekosistem rumah. Bukan artinya ia anti sekolah. Tidak. Ia hanya punya keyakinan bahwa sekolah yang baik selalu menambah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan urusan-urusan kehidupan. Sekolah tidak boleh membuat seseorang menjauh dari realitas. Seharusnya sebaliknya: semakin tinggi sekolah, semakin peka seseorang pada kerja-kerja harian yang menopang hidup. Semakin tinggi sekolah, mestinya semakin banyak yang bisa kita kerjakan.

Dan suatu hari, saya diuji dalam urusan yang paling ayah saya kuasai: menanam padi.
Hari itu musim tanam padi baru dimulai. Sebenarnya, ayah saya seorang PNS yang nyambi menjadi petani, atau mungkin sebenarnya petani yang nyambi menjadi PNS. Setiap musim tanam atau panen, saya mesti pulang kampung untuk membantu keluarga di sawah. Mungkin lebih jujurnya, saya ingin dianggap berguna.

Sebagai pemula, saya hanya memikirkan satu hal: kecepatan. Bagaimana agar pekerjaan cepat selesai, dan saya bisa kembali ke kota untuk leha-leha. Menanam padi saya anggap seperti mengisi lembar jawaban pilihan ganda. Asal terisi semua, ya sudah.

Tetapi ayah saya tidak pernah begitu. Ia tipe yang percaya bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil. Ia memeriksa setiap gumpalan lumpur. Ia lama menatap air yang menggenang. Ia mengukur kedalaman lumpur dengan kakinya. Ia memerhatikan hal-hal yang saya anggap tidak penting.

“Jangan ditanami dulu,” katanya. “Ratakan dulu lumpurnya. Kalau digenangi, keong mas akan datang. Kalau keong mas datang, selesai sudah.”

Ia menyuruh saya membuat parit kecil di sekeliling pematang, di setiap jalur tanam yang tidak rata, sebagai tempat keong mas untuk bertelur. Jika tidak, maka sang keong akan bertelur di batang padi yang lemah. Induknya akan memotong-motong batang muda usia itu dan selesai: gagal tumbuh. Bagi saya, waktu itu, itu hanyalah pekerjaan tambahan yang tidak perlu.

Saya protes dalam hati. Seperti anak SMA yang merasa sudah lebih paham hidup daripada ayahnya. Dan di tengah perdebatan sunyi itu, ayah mengeluarkan kalimat pamungkas yang hingga hari ini masih menusuk:
Poro sikolana ngaseng.”(Sekolahmu sungguh tidak berguna.)

Atau kalimat lain yang sering diulangnya: “Tinggina ngaseng sikolanna, nampa tena niak naasseng.”(Sekolahnya tinggi, tapi tidak tahu apa-apa.)

Resapilah. Saya tumbuh dalam suasana seperti itu, di mana sekolah tidak pernah hanya urusan meraih nilai bagus. Sekolah adalah soal keterampilan bertahan hidup. Soal memecahkan masalah yang muncul di rumah. Soal peka terhadap lingkungan. Dan soal merawat ekosistem sosial di mana seseorang tinggal.

Apakah ayah saya keliru? Tidak.

Ia hanya anak dari ayahnya, yang juga tumbuh dengan filosofi yang sama. Dan saya yakin, banyak dari kita tumbuh dalam keluarga dengan nalar yang mirip: sekolah harus menghasilkan manfaat nyata. Jika tidak, ia hanya berubah menjadi gedung tinggi yang tidak berpintu.

Beberapa tahun setelah itu, saya membaca cerita Benjamin Franklin tentang penolakan para tetua pribumi Amerika terhadap tawaran pendidikan formal kepada anak-anak mereka di Universitas William dan Mary. Mereka sudah mencoba mengirim beberapa pemuda, tetapi hasilnya justru membuat anak-anak itu pulang sebagai orang asing yang tidak memahami rimba, tidak mampu berburu, tidak tahan dingin, tidak lagi bisa memahami bahasa ibu mereka.
Pendidikan membuat mereka kehilangan kompetensi dasar sebagai bagian dari komunitas.

Saya membaca kisah itu sambil mengingat sawah, lumpur, dan suara ayah saya yang menegur. Rasanya, jarak antara Amerika abad ke-18 dan sawah kecil di kampung saya tidak sejauh yang saya kira.

Lalu, apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan, kawan-kawan?

Bahwa sekolah kita sedang ditantang hal yang sama: apakah sekolah berhasil membuat anak-anak kita kompeten menghadapi kehidupan?

Umur 17 tahun tapi belum bisa mengatur waktunya. Kelas XII, tapi tidak tahu apa tantangan belajarnya. Sudah berseragam lima belas tahun, tapi masih harus dipaksa untuk belajar. Nilainya bagus, tapi tidak tahu bagaimana mencari solusi ketika masalah muncul di rumah. Pembelajaran yang bermakna bukan sekadar metode baru atau strategi canggih. Ia adalah kemampuan mengaitkan sekolah dengan kehidupan nyata. Ia adalah kesadaran bahwa belajar harus menjawab persoalan kehidupan, bukan sekadar memenuhi tuntutan kurikulum.

Sekolah memiliki dua mandat besar: kecakapan berpikir dan kemampuan memecahkan masalah. Belajar matematika dan IPA bukan untuk menjadi ahli rumus, tetapi agar akal sehat anak tumbuh. Belajar bahasa bukan untuk menghafal kosakata, tetapi untuk mampu berkomunikasi dengan jernih sekaligus membangun kerja sama. Jika dua kecakapan ini kuat, dunia di luar tembok sekolah tidak lagi menakutkan. Dan saya yakin, saya tidak akan pernah dimarahi ayah hanya karena salah memperlakukan keong mas.

Hari ini, 25 November 2025, ketika banyak kawan guru berdiri di lapangan-lapangan sekolah untuk memberi hormat pada profesi yang kita cintai, saya justru duduk di samping ayah. Memegang jari-jarinya yang mulai ringkih. Dada beliau naik turun, pelan tetapi pasti. Waktu memang tidak bisa dinegosiasikan.

Tetapi di tengah ketidakpastian itu, saya ingin mengirim pesan kepada siapa saja yang hari ini berada di ruang kelas, di kantor guru, atau di lapangan sekolah. Selamat Hari Guru. Guru Hebat, Indonesia Kuat.

Dan, seperti ayah saya mengajarkan tanpa pernah mengatakannya, guru belajar sampai akhir.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *