Beberapa hari lalu, seorang sahabatku di Chicago bertanya, satu pertanyaan yang selalu mengusik perjalanan batinku: “Bagaimana sebenarnya peran perempuan ketika bekerja?”
Pertanyaan itu tidak hanya teoretis bagiku, ia menyentuh pengalaman, luka, dan pemahaman yang kujumpai sepanjang perjalanan hidup.
Pertanyaan itu mengembalikan ingatanku pada tokoh dalam “Menuju Jalan Pulang”, yang rumah tangganya perlahan retak karena kesibukan masing-masing. Sang istri sibuk bekerja hingga ke luar negeri, sang suami larut dalam urusannya; komunikasi tipis, jarak tumbuh, dan kekosongan pun hadir di relung-relung yang dulu hangat.
Dalam memoarku, kisah itu hadir dalam bentuk lain: karier yang melejit namun menggerus keintiman rumah tangga, hingga akhirnya ikatan yang lama dipertahankan pun runtuh. Pada masa itu, aku selalu berpikir bahwa perempuan harus “maju”, harus “berdaya”, harus menggunakan seluruh potensi yang Allah titipkan.
Namun seiring waktu, jawaban itu berubah.
Ketika dulu: “Perempuan Harus Berdaya” dan beberapa tahun lalu, tanpa ragu aku akan berkata: Perempuan punya hak untuk bekerja, berkarya, dan mengembangkan potensinya. Ilmuku akan sia-sia jika tak kugunakan. Pekerjaanku juga meringankan suami.
Dan betul bahwa Islam tidak melarang perempuan bekerja. Nabi saw. tidak melarang perempuan mengambil peran publik selama menjaga batasan syar’i. Istri-istri sahabat pun ada yang berdagang, merawat orang sakit, bahkan ikut menjadi saksi perjuangan umat.
Namun pada masa itu, aku memahami semuanya hanya dari satu sisi: potensi. Aku lupa bahwa potensi bukan satu-satunya takaran kebahagiaan.
Ketika sekarang: “Fitrah itu menghidupkan.” Ya, setelah kuberanikan diri berhenti bekerja dan pulang ke rumah, aku justru menemukan sesuatu yang dulu tak pernah kusangka: ketenangan dari peran yang paling sederhana, dan paling fitrah.
Islam mengingatkan bahwa tugas utama perempuan adalah menjaga inti rumah: “Tinggallah kamu di rumah-rumahmu…” (QS. Al-Ahzab: 33).
Ayat ini bukan larangan mutlak untuk keluar, tetapi ajaran bahwa rumah adalah pusat peran perempuan, tempat ia menanamkan kedamaian dan membangun generasi.
Rasulullah saw. bersabda: “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kepemimpinan perempuan bukan hanya soal domestik, tetapi soal kehadiran: kehangatan, perhatian, cinta, dan pendidikan yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu.
Chicago dan dilemanya sahabatku berkata, “Di Amerika, banyak perempuan Islam justru ingin anak perempuan mereka bersekolah setinggi mungkin agar tidak seperti ibu mereka: yang hanya tinggal di rumah.”
Aku terdiam.
“Hanya di rumah” terdengar menyakitkan dan seakan rumah adalah ruang keterbatasan, bukan ruang kemuliaan.
Padahal Nabi saw. bersabda: “Dunia ini perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim).
Namun, aku juga paham dilema para ibu di Barat: mereka tidak ingin putrinya terikat pada ketergantungan yang menyakitkan. Mereka ingin anaknya kuat.
Dan di sinilah dilema perempuan Muslim modern: antara suara dunia yang mendorong kami keluar, dan suara fitrah yang memanggil kami pulang.
Tidak semua Perempuan sama. Aku tidak ingin menghakimi perempuan yang bekerja—Islam pun tidak. Selama tidak menelantarkan amanah keluarga, perempuan boleh bekerja; Rasulullah saw. pun memberi ruang itu.
Namun, Islam mengingatkan bahwa pernikahan dan keluarga dibangun atas ketenangan (sakinah), kasih (mawaddah), dan rahmat (rahmah), dan itu bukan sekadar pencapaian. (QS. Ar-Rum: 21).
Dan sakinah hanya tumbuh jika ada kehadiran, bukan sekadar keberadaan fisik, tapi kehadiran hati.
Kini ketika sahabatku bertanya, aku menjawab dari perjalanan panjang yang penuh luka, belajar, dan pulang: Perempuan boleh berdaya, boleh bekerja, boleh menjadi apa pun yang ia mampu. Tapi ia juga harus jujur pada fitrahnya, di mana Allah menitipkan ketenangan bagi jiwanya.

Lahir dan besar di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ia menyelesaikan pendidikan S1 pada Program Studi Statistika, Jurusan Matematika FMIPA Universitas Hasanuddin, kemudian melanjutkan pendidikan S2 pada Jurusan Administrasi Publik di Universitas Muhammadiyah (UNISMUH) Makassar.
Selain sebagai seorang ibu rumah tangga, Atte aktif menulis karya-karya fiksi yang sarat makna kehidupan. Novel-novel yang telah diterbitkannya antara lain: Titisan Cinta Leluhur, Djarina, Surat Cinta untuk Djarina, dan Sang Anak Guru. Juga sebuah Otobiografi berjudul Menuju Jalan Pulang.
Ia percaya bahwa setiap tulisan adalah doa yang menjelma kata, dan setiap kisah yang lahir dari hati akan menemukan pembacanya sendiri.


Leave a Reply