Di Tana Beru, tempat perahu-perahu phinisi bertolak dan kembali dari lautan luas, terdapat kelapa dengan pohon bercabang dua. Kelapa tersebut adalah saksi abadi janji yang diingkari oleh hati yang mendua, dan tentang nasib yang tak bisa dihindari.
Pada suatu hari sebuah kapal yang tampaknya telah hantam badai berlabuh di Tana Beru. Kapal tersebut dikemudikan oleh seorang lelaki muda nan gagah. Kerusakan yang cukup parah membuat sang pemuda harus tinggal lama di daratan menuggu kapalnya diperbaiki.
Selama tinggal di daratan, ia bertemu dengan seorang gadis dengan mata seteduh lautan. Seiring waktu, pelaut muda dan gadis bermata teduh semakin dekat. Hari-hari dihabiskan bersama, berbagi cerita, berbagi harapan. Perlahan-lahan tumbuhlah cinta di antara mereka.
Ketika kapalnya akhirnya siap untuk kembali berlayar, hati pelaut itu diliputi kegelisahan. Ia tahu bahwa lautan adalah rumahnya, tetapi ia juga merasa tak ingin meninggalkan gadis yang telah membuatnya jatuh cinta.
Di hari perpisahan, mereka berjalan berdua menuju tepi pantai. Di sepanjang pesisir, pohon-pohon kelapa tumbuh kokoh, daunnya melambai-lambai diterpa angin laut. Saat itu, mereka menemukan sebuah kelapa tua yang sudah bertunas. Sang pelaut muda memungut kelapa tersebut, dan menanamnya bersama gadis bermata teduh.
“Jika pohon ini tumbuh subur dan kokoh, begitulah cinta kita. Batangnya yang lurus tidak bercabang adalah lambang hati kita lurus, setia saling menanti. Aku akan berlayar, namun aku pasti kembali untuk meminangmu.” Sambil menggenggam tangan kekasihnya, pelaut itu berbisik.
Sang gadis menatapnya penuh keyakinan, “Aku akan menunggumu. Aku percaya pada janjimu.”
Lalu, pelaut muda itu berangkat, berlayar kembali ke lautan luas.
Janji yang Terabaikan
Hari-hari berlalu, bulan berganti, dan tahun pun bergulir. Setiap pagi dan sore, sang gadis berdiri di tepi pantai, menatap cakrawala, berharap melihat layar perahu kekasihnya muncul di kejauhan.
Namun, yang dinantikannya tak kunjung datang. Hanya angin laut yang berhembus membawa berita kapal-kapal yang hilang, badai yang mengamuk, dan pelaut yang tidak pernah kembali.
Tahun demi tahun berlalu, dan gadis itu tetap menunggu. Tidak ada surat, tidak ada pesan, tidak ada perahu yang datang membawa kepastian. Kesedihan dan kerinduan membuat mata teduhnya jadi sembab. Pohon kelapa yang mereka tanam bersama tumbuh semakin tinggi, batangnya kokoh, daunnya melambai setiap kali angin laut bertiup. Seperti pohon itu, gadis tersebut tetap berdiri teguh dalam kesetiaannya.
Ia tetap menunggu, meski orang-orang mulai mengatakan bahwa tidak ada kepastian dalam janji seorang pelaut. Ia percaya, seperti kelapa yang tumbuh perlahan namun pasti, janji kekasihnya juga akan ditepati.
Hingga suatu hari, datanglah kabar dari orang-orang yang baru kembali dari pelayaran panjang.
“Pelaut yang kau tunggu itu telah menikah dengan gadis lain di seberang pulau. Ia sudah lama berumah tangga dan tidak pernah berniat kembali,” bisik seorang nelayan tua.
Hati sang gadis seketika hancur. Ia menolak percaya, tetapi waktu membuktikan segalanya. Kekasihnya tidak pernah kembali, dan pohon kelapa yang mereka tanam bersama kini menjadi satu-satunya saksi janji yang telah diingkari.
Beberapa waktu setelah kabar itu menyebar, sesuatu yang aneh terjadi. Pohon kelapa yang mereka tanam bersama tiba-tiba tumbuh bercabang dua, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pohon kelapa yang normalnya hanya memiliki satu batang lurus.
Orang-orang di desa mulai berbisik-bisik. Mereka percaya bahwa cabang kedua yang tumbuh dari pohon itu adalah wujud dari janji yang terpecah, cinta yang terkhianati, dan hati yang terbelah karena luka.
Bagi gadis itu, pohon kelapa bercabang dua adalah pengingat akan cinta yang tidak selamanya bisa bertahan, janji yang kadang hanya menjadi kata-kata, dan harapan yang akhirnya harus dilepaskan.
Sejak saat itu, pohon kelapa bercabang dua di Tanah Beru menjadi simbol dari janji yang diingkari dan takdir yang tak bisa dielakkan.
Makna dan Pesan Cerita Kelapa Bercabang Dua
Di Kabupaten Bulukumba, khususnya di wilayah pesisir hingga ke bagian tengah, cerita ini cukup terkenal dan sering dikisahkan oleh orang tua pada anak-anaknya.
Menurut Puswandi, selain menjadi cerita pengantar tidur bagi masyarakat pesisir, cerita ini juga sering dikisahkan di bagian tengah seperti Baji Minasa dan Bonto Haru, di mana banyak masyarakat yang bekerja membuat gula dari aren atau kelapa.
Wandi meyakini bahwa kisah pohon kelapa bercabang dua menyimpan pelajaran yang berharga bagi siapa saja yang mendengarnya. “Manusia akan dikenang bukan karena ucapannya, tapi karena perbuatannya,” ucapnya.
Menurut Wandi, kisah tentang pelaut muda yang mengingkari janji dan gadis bermata teduh yang setia menanti adalah pengingat bahwa janji bukanlah sekadar rangkaian kata yang mudah diucapkan. Di kalangan masyarakat pesisir, janji adalah sesuatu yang suci, seperti laut yang selalu berjanji untuk membawa pulang kapal-kapal yang pernah dilepaskannya ke cakrawala.
“Orang-orang di sini percaya, janji yang tidak ditepati akan meninggalkan jejak dalam kehidupan, bisa juga diabadikan oleh alam,” ujar Wandi.
Orang-orang tua di Tana Beru percaya bahwa alam memiliki caranya sendiri untuk mengungkap kebenaran. Pohon kelapa yang bercabang dua itu, misalnya, dianggap sebagai pertanda ketidaktulusan, sebuah pesan yang dikirim oleh alam untuk mengingatkan manusia agar tak mudah mengingkari kata-katanya sendiri.
Kelapa dikenal sebagai tanaman yang tumbuh lurus tanpa cabang, menjulang ke langit dengan satu batang kokoh, melambangkan kejujuran dan kesetiaan. Namun, di Tana Beru, satu pohon kelapa tumbuh dengan cara yang berbeda, ia bercabang, seperti hati yang terpecah karena janji yang diingkari.
“Itu bukan kebetulan,” ujar Sri Puswandi. “Alam memberi tanda. Pohon ini ingin mengingatkan kita bahwa seharusnya manusia tetap lurus dalam kata dan janji, seperti kelapa yang tumbuh tanpa bercabang.”
Namun, legenda ini juga mengajarkan bahwa kesetiaan memiliki batasnya. Seperti pohon kelapa yang tak bisa terus-menerus menunggu hujan untuk tumbuh, manusia pun tak bisa terus terjebak dalam penantian tanpa kepastian. Sang gadis dalam kisah ini telah belajar dengan cara yang pahit bahwa tidak semua janji dapat dipegang, dan tidak semua penantian akan berakhir dengan kebahagiaan.
“Masyarakat di sini masih menceritakan kisah ini kepada anak-anak mereka,” lanjut Sri Puswandi. “Bukan karena ingin mengenang kesedihan, tapi sebagai pelajaran. Agar mereka tahu bahwa dalam hidup, tak semua yang kita nantikan akan kembali.”
Legenda pohon kelapa bercabang dua di Tana Beru bukan hanya cerita tentang cinta yang kandas, tetapi juga cerminan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh masyarakat pesisir. Ia mengajarkan tentang pentingnya menepati janji, bahwa alam selalu menjadi saksi bagi setiap tindakan manusia, dan bahwa menunggu sesuatu yang tidak pasti bisa menjadi luka yang tak kunjung sembuh.
Bagi Sri Puswandi, legenda ini adalah pesan dari masa lalu yang tetap relevan hingga hari ini. “Karena pada akhirnya, hidup adalah perjalanan seperti kapal di lautan. Dan setiap perjalanan, setiap keputusan, akan selalu meninggalkan jejak.”
Kisah ini adalah bagian dari seri tulisan “Kelapa: Tradisi & kisah-kisah dalam ingatan masyarakat” yang dikumpulkan oleh Ramadhany di sepanjang bentang alam DAS Balantieng.
Kredit gambar: Pinterest.

Penggiat lingkungan asal Bantaeng, tinggal di Jakarta. Buku favorit Kepulauan Nusantara. Film favorit “Naga Bonar”


Leave a Reply