Mitos Salu Cenranayya di Desa Ulugalung

Tak jauh dari pasar tradisional Dapoko, sekitar dua kilometer dari jalan poros Eremerasa, terdapat sebuah salu’ yang menarik perhatian masyarakat sekitar. Terletak di sisi barat, tepat di pinggir jalan dekat jembatan daerah Mamampang, salu’ ini mudah diakses siapa saja. Namun, bukan hanya lokasinya yang menarik—masyarakat setempat meyakini bahwa air yang mengalir dari salu’ ini memiliki khasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Keyakinan itulah yang membuat saya terdorong untuk menelusuri lebih jauh. Benarkah air itu bisa menyembuhkan? Apa yang melatarbelakangi kepercayaan warga terhadap salu’ ini? Dalam tulisan ini, saya akan mengulas lebih dalam tentang Salu’ Cenranayya dan bagaimana masyarakat menaruh harapan pada airnya yang dianggap penuh manfaat.

 “Jeknekna ri marawanging saluka ri cenranayya pakjeknekkangna natina salasayya.” Sebuah kelong yang dilantunkan oleh Dg. Dana, salah seorang kepala adat yang masih melestarikan tradisi di Desa Ulugalung, tepatnya berada di daerah Mamampang yang menjadi pembuka pada bincang-bincang saat itu. Ditemani secangkir kopi, menambah kesan hangat pembicaraan kami pada pertemuan itu.

Dg. Dana sebagai juru kunci mengatakan bahwa, “Anre intu na sambarang tau akkulle ni pauwwang anne caritayya nasaba’ akkulleki na garring,” (tidak sembarangan orang bisa diceritakan, karena bisa membuat sakit).Kemudian anak dari Dg. Dana juga membenarkan apa yang dikatakan oleh ibunya, “Annabai anjo na kuayya ka tania tau sambarang akkulle ni pau joka tompo kaloklorang naji akkulle,” (benar apa yang dikatakan tidak sembarang orang yang bisa diceritakan hanya keturunannya saja yang bisa diceritakan).

Salu’ Cenranayya adalah aliran air yang mengalir melalui sela-sela akar pohon cenrana, sebuah pohon yang menjadi ikon penting bagi masyarakat setempat. Nama “Cenranayya” sendiri berasal dari pohon cenrana, yang dikenal karena mengeluarkan air dari celah-celah akarnya. Lebih dari sekadar sumber air, salu’ ini memiliki makna simbolis yang mendalam. Dalam kehidupan sehari-hari, salu’ dipandang sebagai lambang keharmonisan, sumber kehidupan, dan kebanggaan yang diwariskan secara turun-temurun. Di Desa Ulugalung, khususnya di Kampung Mamampang, kepercayaan terhadap Salu’ Cenranayya masih begitu kuat, menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya masyarakatnya.

Kepercayaan terhadap Salu’ Cenranayya,  selalu dikaitkan dengan pemimpin pertama Kerajaan Bantaeng, yang konon telah menjadikan Salu’ Cenranayya sebagai tempat pertama kali ditemukannyaKaraeng Loe atau disebut Mula Tau. Atas perintah langsung dari Tumanurung kepada tujuh Kare’ yang mengatakan ”Sampulongappa ri singara’na bulanga ammuko ri allonna Jumaka, baribasa kanaikanna alloa, mange mako ri mamampang ri Bungayya ri Salu’ Cendranayya, niak intu nugguppa tau anrio-rio, angkaki jari pa’la’langangnu, nampa sarei gallara’ Karaeng Loe,” (empat belas malam purnama besok, pada hari Jumat, saat pagi hari, pergilah ke Mamampang di Bungayya di Salu’ Cenranayya, kamu akan menemukan orang yang sedang mandi, angkat dia menjadi pemimpin kalian, kemudian beri gelar Karaeng Loe). Peristiwa tersebut, membuat masyarakat percaya bahwa Salu’ Cenranayya  merupakan tempat yang sangat suci dan sakral.

Oleh karena dipercaya kesakralannya, terdapat aturan tertentu saat mendatangi ataupun melewati Salu’ Cenranayya, yaitu memberikan salam atau mengatakan tabe’, bertujuan sebagai bentuk penghormatan. Selain itu, air yang terdapat pada Salu’ Cenranayya ini dipercaya masyarakat, sebagai air yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, bukan hanya masyarakat setempat, melainkan juga beberapa orang dari daerah lain, yang datang untuk mengambil air, guna dijadikan obat penawar.

Pada era modern ini, Salu’ Cenranayya dipandang sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang patut dilestarikan, baik dari segi keberadaan fisiknya, maupun nilai kesakralannya. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat, bahwa Salu’ Cenranayya merupakan tempat yang menjadi saksi ditemukannya sosok Karaeng Loe, tokoh penting dalam mitologi lokal yang dipercaya sebagai cikal bakal peradaban masyarakat setempat.

Lebih dari sekadar simbol kultural, Salu’ Cenranayya juga berperan sebagai ruang sosial yang memfasilitasi interaksi antar warga. Tempat ini menjadi titik temu yang mempererat tali silaturahmi, memperkuat rasa kekeluargaan, dan membangun solidaritas masyarakat Bantaeng, maupun para pengunjung dari luar daerah. Suasana yang sakral, tetapi terbuka, membuatnya menjadi ruang yang menyatukan tradisi, kepercayaan, dan kehidupan sehari-hari.

Selain nilai-nilai budaya dan sosial, keberadaan Salu’ Cenranayya juga membawa manfaat praktis, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Aliran airnya yang jernih, dipercaya tidak pernah surut, menjadi berkah tersendiri bagi warga yang mengandalkannya untuk keperluan sehari-hari.

Sebagai generasi milenial, kita memiliki tanggung jawab moral untuk turut melestarikan warisan budaya seperti Salu’ Cenranayya. Jangan biarkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tenggelam oleh arus modernisasi. Justru, mari kita jadikan kearifan lokal ini sebagai kebanggaan bersama, memperkenalkannya kepada dunia luas, agar semakin banyak orang yang mengenal, menghargai, dan mencintai budaya kita.

Catatan: Tulisan ini telah dimuat dalam buku, Bantaeng Satu Negeri Seribu Cerita (2025), hal. 98-100.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *