Ibarat Macan Bertaring di luar Arena, bak Kucing Jinak di dalam Gelanggang

Demokrasi selalu memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengekspresikan buah pikiran dan rasa yang ia miliki. Unjuk pikiran dan unjuk rasa itu, biasanya dituangkan dalam bentuk kata dan kalimat yang disampaikan pada forum-forum tertentu. Baik dalam forum resmi maupun yang tak resmi.

Untuk ruang-ruang yang disediakan buat menyampaikan ekspresi pikiran dan rasa itu, muncullah sikap kritik dan oposan, baik dari perorangan maupun dari kelompok yang terhimpun dalam sebuah lembaga.

Maka, dari luar lingkaran kekuasaan, terdengarlah bunyi-bunyi kritikan yang lantang. Keras dan disampaikan dengan gagah perkasa. Seolah, setiap penguasa yang dianggapnya zalim, adalah penguasa yang pantas dienyahkan dari muka bumi.

Ia tampil garang dengan retorikanya yang menggelegar. Ia pun menyampaikan kritikan, lengkap dengan solusi yang ditawarkannya. Sepertinya, ide-ide yang disampaikannya itu, menjadi solusi paling jitu terhadap permasalahan yang dihadapi.

Bahasa dan argumentasinya meyakinkan. Diuraikannya dengan mengupas problem dasar, lengkap dengan jalan keluar dan solusi untuk menyelesaikannya. Ia menawarkan perubahan yang solutif.

Sadar bahwa perubahan tak bisa optimal hanya jika berada di luar lingkaran kekuasaan, ia mencoba peruntungan dengan masuk menjadi bagian dari kekuasaan.

Untuk masuk dalam lingkaran kekuasaan, setiap orang masing-masing punya cara dan pintu tersendiri. Sesorang yang perhatian di dunia pendidikan, ia berusaha masuk dalam sistem kekuasaan yang bergerak di dunia pendidikan.

Seseorang yang berorientasi kepada giat-giat sosial, ia mencoba peruntungan untuk masuk dalam program pemberdayaan sosial yang dikelola oleh negara.

Seseorang yang fokus pada giat ekonomi, ia masuk dalam sistem kekuasaan melalui program peningkatan ekonomi yang dikelola oleh negara.

Bagi orang yang konsen di dunia politik, ia pun bergerak maju, mengambil peran sebagai seorang politisi hingga dapat masuk dan menduduki jabatan di eksekutif dan legislatif.

Dan pintu-pintu lainnya sesuai dengan konsen, kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki oleh setiap orang.

Harapanya, bunyi-bunyi kritikan nan lantang itu, yang sebelumnya disuarakan dari luar arena, mampu diterapkannya ketika berada dalam arena dan lingkaran kekuasaan.

Benar saja. Di antara mereka yang tampil kritis dengan ide-ide cemerlangnya tentang sebuah agenda perubahan yang menjanjikan, dapat masuk dalam arena dan lingkaran kekuasaan.

Civil society yang selama ini menjadi fans dan pengagumnya pun, menunggu gebrakannya. Para pengikut dan penggemarnya, yang takjub ketika ia tampil berbicara, berharap segera ada perubahan. Jika tak bisa segera, mungkin bisa perlahan sedikit demi sedikit.

Pasalnya, ketika ia berada di luar lingkaran kekuasaan, saat ia menyampaikan buah-buah pikiran dan rasanya, para followers yakin betul bahwa inilah sosok dan figur yang bisa menjadi dewa penyelamat ketika “tinta keramat” itu, goresan tinta yang dapat mempengaruhi hajat hidup orang banyak itu, berada di tangannya. Espektasi perubahan begitu tinggi padanya.

Waktu terus berjalan. Ternyata perubahan yang selama ini dibunyikan dengan lantang dari luar kekuasaan, tak tampak darinya. Bahkan terkesan, ia tenggelam bersama lautan semerbak tahta dan nyamannya aroma kekuasaan.

Dalam kondisi demikian, para pengidola yang selama ini menyanjungnya, kocar kacir. Gundah gulana. Muncul kegelisahan dan terkesan mulai antipati.

Mengapa hal yang demikian dapat terjadi? Gerangan apa sehingga seseorang yang selama ini bak macan bertaring dan buas di luar kekuasaan, lalu ketika berada dalam arena kekuasaan, seperti kucing ompong nan jinak yang tak berkutik?

Berada dalam kekuasan itu tak sesederhana yang dibayangkan. Di dalamnya banyak faktor-faktor, yang pengaruhnya – pada umumnya – oleh orang luar tak terlihat oleh mata, tak terdengar oleh telinga.

Pertama, faktor birokratis. Ternyata ketika sebuah ide dan gagasan perubahan hendak dituangkan dalam bentuk kebijakan, harus melalui proses pembahasan yang birokratis. Bertingkat-tingkat dan berlapis-lapis. Mesti mendapat persetujuan dari sana-sini. Pun, disinkronkan dengan regulasi yang ada.

Kedua, faktor postur anggaran. Kebijakan dalam dunia kekuasaan, notabenenya mesti disupport oleh dukungan anggaran yang tersedia. Berapa jumlahnya, apa pos dan peruntukannya, pada umumnya sudah terpola dan terpostur dari pengambil kebijakan di atasnya.

Ketiga, faktor relasi. Ketika masuk dalam arena kekuasaan, harus berinteraksi dengan atasan, kawan sejabat, dan bawahan. Ide dan gagasan perubahan yang hendak digaungkan itu, tak selamanya begitu mudah diterima olehnya. Jika tak mendapatkan dukungan dan supporting dari relasi sekitar, maka hanya akan menjadi angin lalu. Belum lagi adanya relasi dari luar kekuasaan, yang hendak memanfaatkan posisisinya untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Keempat faktor motif personal. Ternyata teriakan dan kritikan lantang yang ia sorakkan dari luar, hanya untuk kepentingan pribadi. ia hendak membangun tawaran bahwa ia pantas menduduki jabatan itu. Ternyata, tak ada bedanya dengan pelaku kekuasaan sebelumnya? Apa sebab? Impiannya tercapai. Ia juga ingin dipadang “mulia”. Punya kedudukan terhormat. Menikmati singgasana tahta lezatnya kekuasaan, hingga kemudian terlena dan bangga dengan posisi yang ada padanya. Tenggelam dan lenyap sudah idealisme itu.

Tentu seseorang yang memiliki faktor keempat ini, hanya terjadi pada sebagian orang saja. tak semua orang begitu. Itu hanya oknum. Sebab, tak selamanya seseorang yang punya idealisme tenggelam dalam lautan semerbak harumnya tahta kekuasaan.

Namun pada faktanya bahwa ada orang/pihak yang mengidap faktor keempat di atas, ya ada. Tetapi sekali lagi, tidak semuanya begitu.

Karenanya, civil society tak boleh hilang harapan. Harus kuat menjaga asa bahwa selalu ada figur dan pihak yang mengedepankan logika dan hati dalam memandang kekuasaan. Terlebih ketika berada dalam lingkaran kekuasaan.

Didoakan dan disupport agar orang-orang yang berada dalam lingkaran kekuasaan, yang sebelumnya memiliki ide-ide perubahan hebat, dapat berbuat lebih dengan diberikan kemampuan untuk mengatasi berbagai faktor di atas.

Sembari menjaga sikap dan kewarasan bahwa penguasa bukanlah malaikat, sehingga tak pantas untuk didewa-dewakan setinggi langit. Namun bukan pula iblis, sehingga tak pantas direndahkan sehina-hinanya. Wallahu a’lam

Kredit gambar: X.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *