Seorang anak remaja nekat menerima tantangan para nitizen TikTok. Tantangan diterimanya, berjalan kaki dari Kota Makassar hingga Kota Manado. pada pertengahan bulan september 2024, perjalanan jauh itu dimulai. Jarak yang mesti ditempuh kurang lebih 1.800 Km. Umumnya, bila menggunakan angkutan darat, memangsa waktu hingga kurang lebih 60 jam. Perjalanan itu, sekaligus akan memecah rekor pejalan kaki terjauh lintas Sulawesi.
Semenjak booming aplikasi TikTok, kebanyakan pengunaan aplikasi video singkat itu, adalah anak remaja kekinian atau generasi Z. Aplikasi tersebut memberi ruang penggunanya berekspresi, jika beruntung akan dibalas reward oleh pengguna lainnya. Bagi pengguna aktif, memberi peluang untuk mendapatkan penghasilan. Tak jarang orang melakukan hal-hal unik untuk mencuri perhatian publik.
Satu dari hal unik yang dilakukan TikTokers, melakukan aktivitas jalan maraton. Mereka rela berjalan kaki berpuluh kilometer jauhnya untuk mencuri perhatian publik. Entah dari mana ide berjalan kaki itu muncul, sehingga menarik perhatian publik. Itupun yang dilakukan seorang remaja bernama Anpes. Pemuda Makassar, berasal dari Maros, Sulawesi Selatan.
Postur tubuhnya kecil, layaknya orang pada umumnya. Namun, tekadnya menaklukan jalan trans Sulawesi sangat besar. Perjalanan panjang Anpes dari Makassar menuju Manado tidak seorang diri. Anpes mengajak dua orang sahabatnya yang baru beranjak remaja. Menempuh perjalanan panjang tidak menjadi halangan bagi kedua sahabatnya, meski keduanya relatif berusia sangat muda. Menurut mereka, perjalanan bukan sekadar kuat secara fisik, melainkan mampu bertahan hingga sampai tujuan.
Perjalanan panjang nan jauh itu dijalani dengan suka cita. Tiga orang remaja itu perlahan-lahan melintas dari kota ke kota. Simpati warga sepanjang jalan makin hari makin besar. Mereka tak perlu repot hanya sekadar makan dan minum, setiap warga yang ditemuinya sering memberi bermacam penganan serta minuman, tak jarang pula diberi uang dan tempat menginap. Jika tak ada tempat menginap, mereka biasanya mencari mesjid atau pertamina sebagai pilihan terakhir.
Setiap saat kita bisa saksikan momen perjalanan mereka melalui live TikTok. Berbagai komentar dan reward mereka dapatkan. Secara tidak langsung akumulasi dari bermacam reward itu, bakal dikompensasi dalam bentuk nilai rupiah. Selain menghasilkan pundi, algoritma TikTok mengundang berbagai followers ikut menyaksikan. Makin banyak disiarkan, makin bertambah pula followers. Begitulah algoritma digital bekerja.
Seiring waktu, perjalanan mereka makin jauh. Cobaan pun makin berat. Jika tak kuat mental, akan tergilas oleh alam. Bukankah seorang pelaut ulung tidak lahir dari laut tenang. Begitu pula seorang pejalan, lebih baik gugur dari pada pulang kembali. Semboyan itu tak semudah diucapkan, bila tak pernah merasa getirnya menempuh perjalanan jauh.
Tak semua orang mampu melakukan perjalanan jauh. Walau perjalanan jauh memerlukan kekuatan fisik, kekuatan mental dan keteguhan hati jauh lebih penting. Ketiga remaja yang melakukan perjalanan jauh itu, hanya mereka yang memiliki keteguhan hati dan mental mampu bertahan. Belum saja sampai tujuan, dua orang dari tiga remaja itu, terpaksa menghentikan langkahnya menuju puncak perjalanan.
Meski sedih ditinggal seorang diri oleh kedua temannya, Anpes terus berjalan mewujudkan impiannya, memecahkan rekor pejalan pelintas Sulawesi. Kadang, keluh kesah kerap kali datang menghidu dirinya. Saat ditanya, apa membuatnya terus bertahan? “Apa yang telah saya mulai, harus saya selesaikan, meskipun keadaan dan mental dihajar habis-habisan di sepanjang jalan”, Jawabnya.
Sesungguhnya, ujian terberat bagi seorang pejalan bukan fisik, melainkan kekuatan hati dan jiwa. Walaupun kedua temannya meninggalkannya, Anpes tetap bertahan memenuhi janjinya. Bukankah ciri seorang lelaki sejati manakalah mampu membuktikan kata-katanya. Setiap Perjuangan akan menemui takdirnya. Perjuangan seorang pejalan mengajarkan tentang kesabaran dan keteguhan, bahkan, hal itu jauh lebih penting dari kekauatan fisik sekalipun.
Hari-hari yang dilewati seorang pejalan bagaikan derita. Boleh dikata, lebih banyak peristiwa pahit dialami ketimbang menyenangkan. Meskipun demikian, hasil yang akan dicapai, lebih membahagiakan bagi seorang pejalan seperti Anpes.
Tanda-tanda kebahagian itu makin nyata adanya. Semakin mendekati puncak perjalanan, eforia warga menyambut sang pejalan meluap-luap. Sepanjang jalan Anpes disamput bagai raja. Kata Anpes, dalam sejarah hidupnya, baru kali itu dirinya diperlakukan sebagaimana manusia adanya. Kelamnya kehidupan masa lalu membuat dirinya dipandang tak adil oleh sebagian orang, maka tak ada yang tahu nasib seseorang kelak, kecuali hanya kepada-Nya.
Puncak perjalanan sang pelintas sudah di depan mata, antusias warga makin menggeliat menyambut sang pejalan. Tinggal beberapa waktu Anpes sampai tujuan. Setelah derita bertubi-tubi sepanjang jalan, perlahan-lahan kebahagian meyelimuti sepanjang jalan. Tinggal menunggu waktu, kemenangan nyata akan tersingkap. Keberanian, keteguhan hati dan kesabaran jiwa menjadi kunci kemenangan sang pejalan.
Kisah Anpes sang pejalan lintas Sulawesi menelusuri jalan panjang dari Makassar-Manado, membawa kita pada makna hidup, bahwa kehidupan tak lebih dari sebuah perjalanan panjang tak bertepi. Anpes telah membuktikan berkat keteguhan hati, kesabaran mampu berjalan berkilo-kilo meter jauhnya melintasi daratan Sulawesi. Begitu pun manusia dalam perjalanan menuju alam maknawi. Perjalanan ruhani yang tak bertepi itu merupakan kehendak jiwa manusia sebagai hamba pecinta yang hendak berjumpa dengan Sang Kekasih.
Seperti halnya setiap pejalan tak mudah melewati ujian dan cobaan. Dibutuhkan kesungguhan hati untuk memutuskan menjadi seorang pejalan. Hanya menjadi seorang pejalan, manusia menemukan makna diri sesungguhnya. Sebagaimana Rumi menabalkan mindanya dalam kitab Mastnawi, “Ketahuilah bentuk lahir itu fana, alam makna itu abadi. Sampai kapan kau bermain-main cinta dengan bentuk kendi? Lewati bentuk kendi. Pergi cari air.”
Sesungguhnya, kehidupan tidak lain perjalanan ke dalam diri menemukan makna-makna batin. Perjalanan sepanjang hayat itu bak mengarungi lautan tak bertepi. Tugas manusia hanya berjalan, hingga Tuhan sendiri mengantarkan pada singgasana-Nya.
Kredit gambar: Tribun Manado

Lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Desa. Sekarang bertugas di Kabupaten Bantaeng. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan oleh Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.


Leave a Reply