Atau saya kadang kurang jeli melihat secara presisi. Cenderung kesusu. Terbuai, tercederai, terlena, terselip, terpental dengan mental ciut. Pada setiap usaha beradaptasi. Terlalu jujur dalam kebohongan mungkin, atau sebaliknya?Harus mencoba mengubah pola adaptasi, dengan tidak berlebihan lagi, pura gagap dan tidak harus larut menerima guyup. Adaptasi mulai saya batasi. Karena penyakit saya cepat jenuh tatkala intensitas terlalu berlebihan.
Sesegera mungkin harus melengkapi diri dengan pertarungan sengit dalam rangka menghadapi suasana dalam beradaptasi. Lantas bagaimana menghadapinya? Apakah dengan mulai menjaga jarak, serta jejak yang kadang sebagian orang mendepak? Seperti misalnya mengurangi pertemanan dari sekian interaksi saat sesi adaptasi?
Tetiba Stella Cristie kutemui di suatu laman, katanya kita perlu lebih pintar-pintar memecahkan masalah tanpa subjektif. Betapa pentingnya kita beradaptasi, atau bertahan pada argumentasi, seraya menggiring kepada sebuah pemahaman bernama “kognitif sains” selalu ingin tahu, bukan sok tahu.
Stella melanjutkan, bahwa bagaimana sebelum adaptasi itu mengubah persepsi? Merupakan salah satu proses yang dilakukan manusia untuk mengubah rangsangan sensorik menjadi pengalaman yang membentuk pandangan terhadap berbagai hal. Meskipun persepsi adalah hal yang sangat penting, proses ini tidak dapat diamati secara langsung oleh orang lain, melainkan hanya dapat dirasakan oleh individu itu sendiri.
Berbagai ahli berpendapat bahwa persepsi sangat dipengaruhi oleh karakteristik otak individu, serta pengalaman belajar dan perkembangan yang telah dilalui. Berarti kembali proses perjalanan, pengalaman dan adaptasi itu sendiri. Vi menambahkan. Wow keduanya hadir melengkapi. Stella merangkai kembali, merujuk pada pengalaman subjektif yang dimiliki manusia terkait pikiran dan perasaan yang muncul dari persepsi terhadap lingkungan sekitar. Istilah ini umumnya diartikan sebagai keadaan terjaga dan perhatian terhadap keberadaan sesuatu. Dari sudut pandang ilmu saraf, makna kesadaran lebih luas lagi, mencakup aktivitas otak yang melibatkan berbagai kondisi seperti kewaspadaan, pengalaman bermimpi, dan keadaan terjaga.
Maka dengan demikian persepsi membantu kita menginterpretasikan rangsangan dari lingkungan, sedangkan kesadaran memungkinkan kita untuk menyadari dan merefleksikan pengalaman tersebut.
Apakah harus saya paksakan adaptasi itu dengan berusaha mengingkari kecerdasan kognitif saya, di antara penemuan, serta beberapa teori data dan riset, tidak diakui, hanya karena tanpa identitas sebuah universitas, kurikulum bahkan ijazah? Hanya dengan modal kemampuan beradaptasi dengan ruang lingkup literasi misalnya sambil mengadu persepsi meski sebagai sensasi?Hanya sekadar membaca literatur dan menguatkan imajinasi menjadi persepsi, lalu ketika saya beradaptasi, merasakan hal berbeda dari sebuah espektasi? Ya, kata Stella kalau tanpa riset dan data itu sama dengan mengarang bebas? Danu hanya mengangguk mencari pula jawaban, serta berusaha beradaptasi dengan alam pikiran seorang Stella Cristie. Ya, sambil penasaran Danu segera menemui Stella di beberapa laman percakapannya. Danu hanya tertegun “kalabangngang” (terdiam tak bisa apa-apa), merasakan pencariannya kembali pulih, ketika adaptasinya sekian lama ini cukup dipenuh sensasi dan sensi.
Mengubah cara pandang atau mindset adalah pola pikir/cara berpikir seseorang yang memengaruhi perilaku, pandangan, sikap, dan masa depan. Mindset terbentuk dari keyakinan, nilai-nilai, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, dan pendapat seseorang. Vi memulai lagi. Mindset dapat dibentuk melalui pendidikan, pengalaman, dan prasangka. Mindset yang baik dapat membantu seseorang mencapai tujuan, menikmati hidup, dan menjadi lebih sukses.
Beberapa contoh mindset positif, di antaranya: Berani mengambil risiko, Kesalahan adalah hal wajar, bekerja untuk belajar, Selalu bersyukur, selalu ingin tahu. Namun saya masih ragu, khawatir dengan diri saya sendiri. Saat selalu ingin tahu, mengubah persepsi menjadi kesimpulan, atau saat beradaptasi masih kutemukan hal di luar ekspestasi. Merasakan kesalahan itu adalah kefatalan, kekalahan itu adalah kegagalan.
Sering mengalami dengan ditumpangi juga sirkel, dengan partikel-partikel pemikiran yang butuh saya ajak beradaptasi dulu. Sebelum menjadi bagian percakapan, mengasuh argumentasi saat menginterpretasi, bukan selera menggebu-gebu sebagaimana saya yang suka sensasi. Hem. Saya benar-benar butuh merefleksi. Risau Danu di telisik hati, jiwanya yang masih mudah terbawa, terkurung, tertelungkup dan menyerah begitu saja.
Tipikal itu juga butuh di-refresh, bukan hanya kepengecutanmu. Vi menyenggol kembali. Danu berusaha mengelak berlagak tengil. Kepengecutan itu kadang-kadang juga dibutuhkan. Bukan asal berani mengadu nyali. Lalu sejauh mana adaptasi terhadap diri sendiri, yang kemudian setelah berusaha lari dari pergumulan keramaian.
Sementara persepsi merupakan proses yang dilakukan manusia untuk mengubah rangsangan sensorik menjadi pengalaman yang membentuk pandangan terhadap berbagai hal. Meskipun persepsi adalah hal yang sangat penting, proses ini tidak dapat diamati secara langsung oleh orang lain, melainkan hanya dapat dirasakan oleh individu itu sendiri.
Berbagai ahli berpendapat bahwa persepsi sangat dipengaruhi oleh karakteristik otak individu, serta pengalaman belajar dan perkembangan yang telah dilalui. Danu menikmati, menyimak dengan khidmat.
Stella kemudian melanjutkan, merujuk pada pengalaman subjektif yang dimiliki manusia terkait pikiran dan perasaan yang muncul dari persepsi terhadap lingkungan sekitar. Istilah ini umumnya diartikan sebagai keadaan terjaga dan perhatian terhadap keberadaan sesuatu. Dari sudut pandang ilmu saraf, makna kesadaran lebih luas lagi, mencakup aktivitas otak yang melibatkan berbagai kondisi seperti kewaspadaan, pengalaman bermimpi, dan keadaan terjaga. Dan butuh kedamaian, kebahagiaan? Danu nyeletuk.
Maka dengan demikian persepsi membantu kita menginterpretasikan rangsangan dari lingkungan, sedangkan kesadaran memungkinkan kita untuk menyadari dan merefleksikan pengalaman tersebut. Begitulah Stella menjelaskan. Saya seakan terbawa suasana, apakah harus saya paksakan adaptasi itu dengan berusaha mengingkari sebuah kecerdasan kognitif? Seolah membantah beberapa teori, meski kata Stella kalau tanpa riset dan data itu sama dengan mengarang bebas? Vi hanya mengangguk menata kata, serta berusaha beradaptasi dengan alam pikiran Danu.
Merefleksi kudu juga tidak dengan gegabah menyimpulkan, karena akan menyandera hal yang lebih memiliki unsur kebenaran. Ada yang masih hipotesa, ada pula bebas bermain interpretasi, itu juga butuh beradaptasi agar lebih tahu, memahami jauh lebih dalam, tentang persepsi, reaksi, subjektivitas, secara kualitas, dari interpretasi lalu merefleksikannya kembali.
Begitulah sains bekerja terus menerus menyusuri, mencari, bukan berarti mencari kebenaran hakiki. Akan tetapi menambah rangsangan motorik otak, mengubah cara pandang. Agar kita tidak tertendang dari gelanggang dunia dan peradaban manusia. Belajar, berpikir, mengingat, bekerja, berkomunikasi, memahami, memecahkan masalah, berpikir logis.
Atau menguji diri sendiri dalam tamasya berpikir. Bukan mencari pengakuan. Tapi memikirkan hal indah, bersifat ide, keresahan terhadap peradaban, mengajukan pertanyaan, bukan mencari jawaban atau kebenaran yang mutlak. Pendekatan ini bertujuan untuk mengungkap kebodohan yang tersembunyi di balik kepastian palsu, dan memotivasi orang untuk terus mencari kebenaran. Socrates percaya bahwa kebijaksanaan sejati dimulai dari pengakuan atas ketidaktahuan diri sendiri.
Tidaklah rumit dan sengit jika cara adaptasi, persepsi, kemudian merefleksi dengan penuh reaksi, mengkritisi, membangun ide dengan megah, menafkahi imajinasi dengan terus mencari, membaca, belajar, mengulik, mengasuh jiwa bahkan mendaras diri sendiri, batasan dari kognitif itu. Secara aktif, kreatif mengolah, bukan membuat ulah seolah-olah pintar, bodoh, kreatif, agresif, adaptif. Tetapi hanya malas berpikir.
Butuh kecakapan hidup, bukan kecakepan mendulang pujian. Mengimbangi, mengapresiasi, mengaktifkan sensor kognitif itu menjadi percakapan yang membangun kepercayaan, kepekaan sebagai solusi dari adaptasi yang kini mulai saling menginterupsi.
Saya merunut pada adaptasi yang saya tekuni untuk menguji sisi lain kesabaran, refleksi, bereaksi dengan hati-hati, sebagaimana biasa kebodohan yang saya buat, dan mengurung kecakapan hidup itu, kemudian dilibas begitu cadas.
Selanjutnya dari sebagian adaptasi itu selama ini. Begitu kuat mampu mengubah cara pandang di antara manusia yang hanya selayang pandang. Menjalaninya pada ruang-ruang interaksi, menambah pengalaman, proses membuat saya teredukasi, merefleksi segala potensi yang setiap saat menguatkan dan mengingatkan.
Seberapa pentingkah adaptasi itu? Di tengah manusia mulai kehilangan humanis? Jawaban itu beragam. Ada nyaris dengan persepsi yang sentimentil, ada yang meragukan tentang kebaikan, harmoni yang kemudian terjadi tirani kemanusiaan, tidak perlu jauh, orang dekat, tetangga, yang dulu senyuman begitu manis, kini sebatas pemanis saja.
Kebaikan menjadi klise, sekian lama saling beradaptasi, mengenali satu dengan lainnya, begitu kuat mengikat, perubahan sikap di ujung waktu saling sikat. Hanya karena kepentingan, kemerasaan yang tidak terpenuhi, ekspektasi itu tergeletak sepi, kandas berujung kecewa.
Tetiba saya kalap, gegara sebuah informasi, saya lahap habis kemudian bereaksi penuh emosi yang begitu sulit terkendali. Saya semakin gagal merefleksi dari setiap ruang adaptasi, interaksi menjadi keputusan konyol.
Vi menghiburku di ujung esai saya ini, “Adaptasi itu penting, interaksi, merefleksi juga jauh lebih baik. Namun jauh lebih penting dan baik menjaga diri, mengedukasi setiap persepsi atas subjektivitas secara berkualitas.”
Sumber gambar: iiba.org

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply