Bukan tafakur, tetapi bisa saja tetiba saya mendengkur, di tengah temperatur dunia dan manusia yang masih suka sekonyong-konyong.
Tidak jua merenungi nasib, sambil merasa bertaubat. Padahal masih sering saya lakukan peran muslihat di antara kerumunan manusia. Secara berkelompok atau secara individu, saya bangun identitas itu. Untuk mengajak manusia lain menerjemahkan lalu menjadi pengakuan.
Bukan juga berzikir, duduk meratapi dosa. Ingin surga dan menempati ruang sebagai manusia yang baik. Padahal saya tidak baik-baik saja. Runut hanya istilah seolah mengantar identitas dan kualitas dari unsur keindahan kata saja. Tanpa harus mencari laman, dan jejak pengertian yang paling benar perihal “runut” itu sendiri.
Tidak pula membuat pertapaan dengan nestapa yang dipapah oleh sekelompok manusia yang menyangsikan individualitas, dengan kualitas yang tidak mampu diretas. Karena sama-sama ternyata pemburu identitas.
Saya kemudian seakan merekahkan pengetahuan, lalu kugugurkan sendiri. Mencoba mengubah suasana dengan meretas segala kecerdasan yang terjungkal. Membiarkannya tergeletak sepi di tengah peradaban.
Pengetahuan hendak saya gugat. Apakah pilih kasih? hanya karena seorang anak tidak pandai matematika, fisika saja yang dianggap punya kualitas? Mereka menjambaki sampai ke tipuan dunia pendidikan. Seolah ampuh menuju hamparan ilmu, tetapi sesungguhnya hanya kehampaan bin rapuh.
Jalur ditempuh antara nominal dan seberapa tebal muka untuk berbagai peran. Akal mulai berjalan dengan mulus melenggang meraih identitas. Apa yang mengidentifikasi terhadap diri? Dikutip dari situs Encyclopedia, identitas diri adalah definisi diri yang berkaitan dengan karakteristik pribadi yang unik juga istimewa. Wow. Saya terdiam dan senyum-senyum kecut saja.
Sepertinya saya harus mengulik diri sendiri, sambil mengikuti ritme setiap watak, tanpa harus gamblang menjelaskan sebuah definisi, pengertian identitas diri yang katanya sebagai proses pengenalan dan penghayatan diri sendiri untuk menemukan pengakuan. Agar perlu diingat pula bahwa identitas diri, berbeda dengan identitas sosial yang berusaha mengonstruksi peran individu dalam suatu kelompok sosial.
Identitas diri adalah penggabungan peran individu sepanjang hidupnya yang membentuk cara pandang mereka terhadap dirinya sendiri, menurut penjelasan di suatu laman. Kemudian tidak harus juga saya memaksakan diri, untuk tercebur dan semau-maunya mencatut sebagai bagian dari kesesuaian, padahal kadang saya mengarang untuk menjadi individualis, pura merasa. Walau itu saya buat satu rekayasa. Meski saya sering terjebak bahkan tersesat dalam ambiguitas.
Berpikir secara bebas, analisa terbangun sepadanan dengan pemikiran orang-orang yang punya identitas filosofi, penganut pengetahuan yang paten, atau menciptakan kekacauan yang masih diracak-racak menjadi rujak. Apatahlagi berpikir dengan jernih, toh juga masih terpahamkan agak sulih. Mereka punya dalih, sembari saling mencurigai, menjadi bunglon dengan beradaptasi, atau masih meremah-remah dengan berpura menjadi ramah.
Runut? Itu juga jebakan, seketika sunyi menyembunyikanmu dari ramai. Yang ramai menyiasatimu, menjadi buai-buai mengibuli. Konyol juga jika harus kau merasa. Karena jalur dan alur hidup kau sendiri yang memilihnya. Vi memantik bukan menghardik. Menyuplaiku asupan kembali di tengah gerah siang yang bising.
Terlalu berlebihan mendermakan diri, atau mencerdikkan diri, bahkan terlampau barbar jalan pikiran, sementara kau masih butuh nutrisi, biar tidak begitu paradoks, ekstrim memilih kata “runut” yang setiap detik kau pikirkan, terjemahkan dari setiap tingkah laku. Sedetik itu mengubahmu, bahkan kau menjadi semakin kalap melumpuhkan kecerdasanmu, Vi semakin menohok menguraiku. Sementara celoteh Petong saat melintas seakan hendak balas dendam dengan ciri khasnya suka patoa-toai (mengejek).
Kau bukan petualang seperti Santiago dengan seorang alkemis. Kau masih pengemis yang berkumis tipis, dan masih sembarang tempat untuk pipis. Wow. Ceruk hati Danu seakan remuk.
Runut bagi saya cara sederhana melatih Mentalitas labil atau labilitas emosi. Di mana kondisi ini sangat rawan, ketika seseorang mudah mengalami perubahan suasana hati dan emosi yang tiba-tiba dan intens. Kondisi ini dapat ditandai dengan tangisan, tawa, kemarahan, atau ketakutan yang tiba-tiba. Dan saya ada dalam bagian dari ini. Bukan merenungi, menyesali, menambat hendak wangsit dari langit. Bertapa, jalan sunyi seperti sufi katanya. Atau merenungi. Sementara dunia dan kehidupan, manusia butuh kita mengarungi.
Bukan, bukan untuk meniru gaya Rumi dengan sunyinya, lalu membaitkan kata-kata indah, cinta serta pemaknaan penuh khidmat katanya kepada Tuhan. Juga bukan seorang Umbu memilih jalan senyap untuk bersembunyi diantara kesunyian karya-karya semesta jiwanya. Lalu diabadikan seantero jagad dalam syair-syairnya yang menawan penuh kiasan.
Untuk tidak sekadar menaruh kata, istilah, saya harus punya alasan memilih judul dan menguraikannya menjadi narasi biar ada kesesuaian. Dan menemukan kembali satu uraian sebagai penguatan dengan menambahkan tiga entri ini, layaknya kembar tiga saudara dalam sebuah kalimat. Merunut: mengikuti jejak, menelusuri kembali. Runtut: selaras, bersesuaian (adjektiva).Runtun, beruntun: berturut-turut, berderet, berjajar (verba). Agar lebih mewakili kevadilan realitas, kausalitas sebelum manusia memburu identitas tapi minim kualitas.
Keterbatasanku mulai kutemukan. Kelemahan menguatkanku bertahan. Bukan untuk seolah tegar dan optimis. Tetapi merunutnya, meruntut, sebagai dalil (alasan) menguatkan. Kenapa labilitas dan kualitas kemudian tertunduk lesu. Hilang terkendali oleh hawa nafsu? Atau karena faktor sekitar, suasana ruang lingkup keseharian. Hingga cukup mungkin bisa menjerumuskan pada sirkel yang membuat kita dipaksa bertaruh. Toh pada akhirnya luruh juga. Memaksakan paradigma maka berdampak menemukan stigma.
Semakin terasa, suasana mendesak Danu untuk memainkan perannya. Mulai tempramen walau sesungguhnya itu sebenarnya hanya metode melampiaskan kemarahan. Atau dengan tegas cara seperti itu, orang-orang baru bisa mengerti. Sebab Danu terlampau sering mengalah. Taringnya tumpul, mudah terpengaruh. Terbang bersama pujian, tetapi tidak lantas puji-pujiang. Hehe.
Ini hanya peringatan, pada diri yang kudu dirunut. Tanpa harus mengubah “akting” cara jujur dalam kepalsuan. Hem. Petong kembali hadir menimpali. Vi membiarkan keduanya bertarung sambil menikmati hidangan poteng makanan khas Makassar katanya, walau sebenarnya jenis tape dari singkong.
“Kau tetap pecundang Danu!” Vi menyambar begitu saja. Kau harus tahu cara merunut tidak harus banyak menuntut. Butuh mengasah, mengasuh mentalitas. Di sana akan menentukan kualitas hidup seseorang. Sebagaimana refleksinya bahwa mentalitas adalah cara berpikir, konsep pemikiran, aktivitas jiwa, dan berperasaan manusia. Mentalitas juga dapat diartikan sebagai sikap mental yang bersifat kebiasaan atau karakteristik yang menentukan bagaimana seseorang akan menafsirkan dan menanggapi suatu situasi.
Kata mentalitas berasal dari kata Latin mens yang berarti jiwa, nyawa, sukma, roh, dan semangat. Mentalitas dapat dilatih, salah satunya dengan mengenali diri sendiri. Mengenali diri sendiri dapat dilakukan dengan mencari tahu kekuatan dan kelemahan, apa yang dibutuhkan, dan apa yang menjadi minat. Tidak harus kau larut terus merunut jauh ke alam bawa sadar. Sementara saat kesadaran itu tertuai. Justru mengalami sifat ambigu persis mengigau kurang lebih. Vi seakan mencabik-cabik. Dan memang harus demikian. Danu seakan terjun bebas, saat lepas landas. Di tengah sabana manusia yang juga mulai terpangkas.
Benar kata karib Laode saat ngopi sore di teras mukimku, “Jangan terlalu terbuka dalam mengajak mereka meruang bersama. Buat privasi, tapi tidak harus lalai menjaga sifat dan sikap yang terlalu terlalu terbuka. Benar belum tentu baik, begitu juga sebaliknya. Sebab tiap tindakan, akan menghasilkan reaksi yang seperti ereksi.”
Terlalu percaya juga bisa kebablasan, tertutup juga akan tertuduh kurang sosialisasi, saat interaksi, kita akan merasakan tarikan yang kuat, antara bertahan atau kabur. Kalau juga merunut setiap detik bisa saja akan terlampau merasa paling tahu dan kadang merasa paling baik. Makasih akan tergolong musyrik juga. Petong termangu, belum paham kayaknya. Vi hanya tersenyum. Sementara Laode kembali seperti biasa tidak harus banyak berkata-kata mengemudikan layar gawainya.
Merunutlah untuk sebatas meraba saja keburukan, jangan menganalisa kebaikan. Menemukan jejakmu sebagai referensi untuk bertutur, bertindak tidak ngawur serta mulai berhati-hati pada jejak selanjutnya.
Sungai mengalir sesuai yang ada di hulu, di muara dia bersiap berbaur pasrah dengan sekelumit sampah, bekas pesing dan akan menjadikannya tersaring sendiri dengan proses alamiah bernama hujan. Manusia hanya bisa mengetahui dengan pengetahuan. Bukan memastikan kebenaran yang hakiki.
Sebagaimana merunut, bukan untuk menaruh ekspestasi untuk mengubah tindakan, tetapi mengajak kita kembali merasakan segala tindakan, pikiran agar tidak lagi gegabah, minimal meminimalisir segala tafsir, yang tidak harus lama menjadi buah pikir. Pada akhirnya semua tidak terpungkiri akan menjadi irisan pada ruang waktu.
Pelan-pelan saja. Begitulah hidup, demikianlah interaksi bagai nada mengalun menutupi segala resah, mengajak kita menjadi pelupa sesaat tentang hal luka, perjamuan yang tertuang dengan anggur kemesraan. Setelahnya akan kembali meluap menjadi kemarahan.
Bertahan, tidak harus memangku diri sebagai penyabar. Karena kita masih tipikal pengumbar dan penggambar yang kurang imajinatif. Ya, pasif kau dituduh apatis. Aktif kau dituding posesif. Lalu apa guna merunut? Jika itu hanya membantai segala kebaikan dan keburukan. Apakah bijak masih saya bajak selama ini!?
Sumber gambar: Syamsulrijal.com

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply