Pak Guru,
Aku menulis surat ini dari tempat yang kau tinggalkan, dari ruang yang sering kau penuhi dengan harapan, semangat dan senyummu yang hangat. Biasanya, saya tidak perlu menulis untuk berbicara dengan Anda. Pak guru ada di hadapanku, menyandarkan badan, menyeruput kopi hitam pelan-pelan, lalu memulai percakapan panjang yang hanya berhenti jika ibu aji, istrimu menelepon untuk dijemput.
Hari ini sunyi, kopimu tinggal kenangan, uapnya hilang seperti doa-doa yang tak selesai diucapkan. Kursi tempat kau biasa duduk hanya berisi bayangan kenangan, seolah menunggu seseorang yang tak akan kembali. Di sudut kantormu, di balai-balai bambu yang menjadi tempat kita berbincang panjang, tidak ada lagi suaramu yang bercerita tentang sekolah-sekolah, tentang murid, tentang GenRe, tentang kolaborasi atau tentang rencana-rencana besar pendidikan.
Tiga hari lalu kita masih berkomunikasi, bertanya banyak hal dan menjawab hal lain. Kita berjanji bertemu hari Senin untuk melanjutkan percakapan, minum kopi seperti biasa. Tapi Ahad kemarin kau benar-benar pulang. Bukan ke rumah kecilmu nan sederhana, melainkan ke tempat abadi yang sering kau eja dalam doa-doamu. Kau benar-benar pulang. Aku mencoba menerima, mencoba meyakinkan diriku bahwa ini adalah takdir terbaik untukmu. Tapi, setiap sudut masih menyimpan jejakmu, Pak. Bagaimana mungkin kami bisa benar-benar merasa kau pergi? Kupikir aku siap kehilanganmu, tapi aku salah. Bagaimana mungkin siap ketika kehilanganmu adalah kehilangan sebagian jiwa pendidikan yang kau titipkan kepada kami semua?
Pak Guru Muhammad Haris—saya sering bertanya-tanya, apakah Anda tahu arti namamu? Muhammad, nama Rasul yang mulia, pemimpin sederhana, tapi agung dalam setiap langkahnya. Haris, penjaga, pelindung, yang menjaga dengan segenap cinta dan ketulusan. Dalam setiap langkahmu, kau hidup sesuai namamu, menjaga bukan hanya sebatas tugas, tapi juga mimpi dan masa depan orang-orang di sekitarmu. Namamu sepadan dengan kesederhanaan hidupmu. Seperti di rumah kecilmu, yang ruang tamunya merangkap garasi mobil, selalu penuh dengan kehangatan. “Untuk apa mengejar rumah besar yang malah menyusahkan,” katamu waktu itu. “Yang utama adalah kebahagiaan. Aku hanya butuh cukup, Ndik.”
Hari pemakamanmu menjadi saksi cinta yang begitu besar dari mereka yang pernah mendengar suaramu, menjabat tanganmu, atau sekadar melihat senyummu dari jauh. Ribuan orang datang, Pak. Guru-guru yang pernah kau bimbing, kepala sekolah yang kau pandu dengan sabar. Mereka semua tumpah di hari pemakamanmu, mengantar kepulanganmu ke tempat istirahat yang sejati. Semua berkumpul. Para pelayat datang dengan mata sembab, membawakan cerita tentang kebaikanmu yang tak pernah selesai mereka ceritakan. Air mata tumpah tanpa bisa dicegah. Laki-laki, perempuan, tua, muda—semua yang mengenalmu menangis. Seorang guru dari pelosok bercerita tentang bagaimana kau mengunjungi sekolahnya saat hujan deras, hanya untuk mendengar cerita tentang siswa-siswanya. Kepala sekolah, yang sudah lama tak bertemu denganmu, berdiri di sudut makam sambil memegang fotomu, mengenang bagaimana kau pernah membantu melawan rasa putus asa. Dan aku, berdiri di antara mereka semua, mencoba tegar, tapi akhirnya air mataku tumpah juga.
Pak Guru, saya takkan lupa momen-momen kecil yang Anda tinggalkan. Suatu waktu tiba-tiba masuk ke ruanganku. Waktu itu aku sedang mengingat sambil memiting rokok terakhirku. Pak guru tersenyum, lalu berkata, “Pasti tidak adami rokokta, Ndik.” Kau tak perlu mengatakan apa-apa lagi, cukup meletakkan sebuah amplop di mejaku. Aku tahu itu adalah honor narasumber yang baru saja kau terima.
“Kau tahu, Pak, aku ingin bilang tidak usah. Tapi matamu, munculmu, membuatku teringat. Amplop itu kau tinggalkan begitu saja, tanpa basa-basi, lalu kau pergi. Baru kemudian aku sadar, itu caramu memberi tanpa membuatku merasa kecil. Itu caramu berbagi, tanpa perlu kata-kata panjang. Menjadi kebiasaanmu, memilih tindakan di atas segalanya.” Aku tersenyum setiap kali mengingat kejadian itu. Amplop sederhana itu bukan soal uangnya, tapi soal kepekaanmu, soal caramu membaca kebutuhan orang lain bahkan sebelum mereka berbicara.
Awal Januari 2020 kau mengajak kami semua bermimpi. Satu guru, satu inovasi, katamu. Itu bukan sekedar program, itu adalah revolusi kecil di Bantaeng. Saat berdiri di depan para guru, suaramu tegas namun penuh harap. “Buatlah sesuatu yang tidak hanya menjadi karya, tapi juga bermanfaat.” Maka lahirlah lima jilid buku, 1300 judul inovasi guru—semuanya adalah bukti bahwa mimpi-mimpimu menular. Sesuai namamu, terus menjaga mimpi-mimpi kecil itu tetap menyala.
Dari pantai pesisir hingga puncak pegunungan, Anda mengunjungi sekolah-sekolah, membawa semangat untuk setiap guru, kepala sekolah, bahkan murid-murid. Tidak ada sekolah yang terlewatkan dari penayanganmu. Rapor pendidikan, kurikulum berbasis kontekstual, akses akun belajar.id—semuanya adalah jejak langkahmu yang tidak hanya membawa perubahan, tapi juga harapan. Pak Guru, saya masih ingat betapa Anda selalu berbicara tentang kolaborasi. Bahwa tidak ada mimpi yang bisa diwujudkan sendirian. Kau melibatkan semua pihak—komunitas belajar, organisasi profesi, bahkan kami yang hanya murid-murid kecil di hadapanmu. Tidak pernah membedakan siapa yang hebat dan siapa yang biasa-biasa saja. Bagi Anda, semua orang punya tempat untuk belajar dan berkontribusi.
Dan meski tugasmu berat, kau selalu membawa senyum yang tak pernah padam. Aku tidak pernah melihatmu marah di depan orang banyak. Jika ada kesalahan, kau selalu mencari cara untuk menyampaikannya dengan ramah. “Tidak ada bawahan yang salah,” katamu, “yang ada hanyalah pimpinan yang keliru memberi Arah.”
Syahdan, malam itu kita berbincang panjang setelah salah satu guru dari ujung timur bercerita tentang praktik pembelajaran berbasis tradisi setempat. Kau begitu bersemangat, seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Setelah pertemuan selesai, mengajakku keluar mencari kopi hitam, melintasi jalanan Jakarta yang rumit, melewati gang sempit, sampai akhirnya menemukan kedai kecil yang menjual kopi pekat. Anda sungguh menikmatinya. Di kedai kecil itu mendedahkan kembali tentang impianmu: bagaimana praktik baik itu bisa kita adaptasi di Bantaeng, bagaimana kau ingin melihat guru-guru tumbuh dengan cara mereka sendiri, tanpa paksaan. Itulah dirimu pak. Selalu begitu. Berpikir jauh ke depan, merancang mimpi yang lebih besar daripada dirimu sendiri.
Aku bertanya-tanya, apa pak guru pernah merasa lelah? Tapi kau menjawabnya dengan tindakan: mendatangi setiap sekolah, membaca setiap data, menemui setiap guru, setia menenangkan hati. “Kelelahan itu hanya untuk mereka yang berhenti bermimpi, Ndik Omenk,” katamu malam itu mengakhiri percakapan.
Pak guru pernah sakit sebelumnya. Tidak sadarkan diri. Seminggu kemudian kembali ke kantor, ceria dan kembali bercerita: dalam ketidaksadaranku itu saya sadar meminta pada Tuhan. Tuhan, saya tidak takut mati, tapi mohon beri waktu lebih panjang lagi. Masih ada janji yang belum dipenuhi. Setahun lalu, Tuhan mengabulkan permintaanmu. Kau menunaikan ibadah haji, hajat besar yang kau tunggu-tunggu. Aku tahu itulah tanda bahwa kau telah siap. Dan kini, Pak, aku duduk di sini sendirian. Tak ada lagi telepon dari ibu aji yang memintamu pulang beristirahat. Tak ada lagi yang memuat panjang tentang pendidikan, tentang inovasi, tentang mimpi-mimpi. Tapi jejak langkahmu ada di mana-mana. Di setiap program pendidikan yang Anda inisiasi. Di setiap kepala sekolah yang kau bimbing. Di setiap guru yang Anda percayai mampu berubah.
Dan sekarang, kami mencoba melanjutkan mimpi-mimpimu, Pak. Karena kau tak pernah pergi sepenuhnya. Kebaikanmu tinggal di setiap sudut ruang kelas yang kau kunjungi, dalam setiap semangat guru yang kau bangkitkan, dalam setiap anak yang kau bantu untuk percaya diri menghadapi masa lalu. Selamat jalan, Pak Guru Muhammad Haris. Kau pergi dengan khusnul khatimah, diiringi cinta ribuan orang yang pernah merasakan kebaikanmu. Segala amalmu mengiringi langkahmu tempat istirahat menuju yang abadi. Mimpimu telah selesai, walaupun tak sempurna. Percayalah, mimpimu hidup dalam setiap langkah kami, dalam setiap guru yang kau yakinkan untuk terus belajar, dalam setiap murid yang kau bantu mencapai masa depannya. Waktumu untuk beristirahat panjang, Tuhan memanggilmu di saat terbaik, di hari terbaik.
Selamat jalan, Pak Guru Muhammad Haris. Semoga pulang dalam damai, seperti senyummu yang tak pernah hilang.
Hormat dan rindu,
Omenk

Lahir di Sungguinasa, Gowa, 19 Juni 1981. Bekerja di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, selaku Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan. Menjabat Ketua Umum Komunitas Guru Belajar Nusantara Periode 2019-2022. Selain menulis, juga suka baca karya sastra, dan olahraga badminton.


Leave a Reply to Rahman Ramlan Cancel reply