Sejarah dan Budaya Hanya Tipu Daya

Sejarah disuplai oleh pemenang, yang kemudian bersenang-senang, meninggalkan kisah sesungguhnya tergeletak sepi, tanpa pusara dan baru nisan (hanya karena literasi yang tidak tersuluhi) lenyap, terkoyak-koyak, dan dijual murah kepada  pelaku dan pencatut sejarah. 

Mengapa harus meredam dentuman meriam Belanda? Agar kita bisa tahu dalang yang mendulang keuntungan sejarah kita. Dengan mahar yang mahal untuk mencari dan menemukan sejarah kita sendiri. Padahal isinya juga masih rekayasa, propaganda dan tipu daya. 

Healing kita masih sekitar mencatut cerita, kisah yang sekadar mendesah. Saat kita terdesak digasak budaya lain. Tetiba kita merasa ingin menjadi sesuatu melawan kegenitan dan ketimpangan sejarah kita sendiri. Saat kepunahannya diujung tubir. Barulah kita sadar, bahwa kita punya sejarah walau masih didongengkan. Cerita bersambut meski masih minim catatan tertulis. Hanya kisah heroik seorang masa lalu.

Namun, apa boleh buat tai kambing bulat-bulat,  tercecer di atas rumput bekas kotoran manusia yang katanya menjaga akar tradisi  dan adab.  Seperti pungguh sebatas menunggu bulan turun. Padahal kodratnya bulan hanya meminjam cahaya matahari, hanya saja pungguh malas mencari tahu, dengan menggunakan sayap-sayapnya terbang menemui sanadnya, bagai bulan tidak menipu lagi. 

Seperti hendak menginterupsi, namun rasanya masih saja terpesona slogan dan percakapan kebudayaan yang didebatkan. Seingatku hanya bisa menggugat dan sepakat di tengah pergumulan. Tapi guyupnya masih rada sayup dan enggan menuntun, karena sejarah dan budaya tidak menarik untuk mencari untung.  Yang ada hanya ketersiasaan dan buntung. Dari masyarakat, hingga yang punya tanggung jawab (pemerintah) serta pihak terkait. Semua hanya serimoni saja. Di bibir manis, semua merasa prihatin. Akan tetapi semua hanya basa-basi.

Saya terkecoh! Danu menyelinap di tengah pergumulan, mendekatiku, mengingkari semua yang terjamu, hanya kelak menjadi semu.  Begitu lirih dan risih. Sambil meraih kopi yang juga kopi brand yang palsu.  Lalu dia pura menikmatinya. Hem. Danu tersenyum sambil duduk bersila ala adab dan adaptasi yang juga basa-basi.

Tetiba semua gara-gara Belanda. Tertuduh dan merasa kepincut untuk bangga bahwa sejarah dan budaya kita telah tercatat dan terjaga begitu ketat di sebuah museum. Yang kemudian membuatku memaksakan berpikir mesum saja. 

Lalu terdengar kabar Belanda mengembalikan keris milik Pangeran Diponegoro ke Indonesia dalam kunjungan Raja dan Ratu Belanda (10/03).

Pada akhir tahun lalu, Belanda juga mengembalikan 1.500 benda budaya Indonesia dari Museum Nusantara di Delft yang ditutup akibat keterbatasan dana.

Disebutkan Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Provenance Research, dilakukan untuk memastikan apakah benda yang ada di Belanda itu diperoleh dengan cara “tidak pantas”.

“Diskusi terkait hal itu akhirnya bergulir di negara Eropa lain,” ujar Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid.

“Langkah Perancis ini disambut di seluruh Eropa. Inggris mulai berdiskusi, Belanda juga mulai berdiskusi,” ujar Hilmar, yang mengestimasikan ratusan ribu artefak Indonesia ada di Belanda.

Seperti yang dilansir dari surat kabar Belanda NRC, 07 Maret 2019, dalam artikelnya yang berjudul Koloniale Roofkunst (Seni yang Dicuri Oleh Negeri Kolonial), museum di Belanda tidak akan menunggu sampai ada klaim dari negara yang pernah dijarah benda budayanya.

Betapa sejarah begitu mudah dan murahnya  mereka raih dengan dalih nan klasik.  Hingga pada akhirnya kita bertengkar, bertaruh, merasa paling update, mungkin merasa benar, tentu juga ada yang paling merasa paling tahu sejarah. Meski lewat cerita atau dongeng.

Saling berasumsi, berusaha bertahan pada hal-hal yang masih bisa terbantahkan oleh alur sejarah lain (referensi) meski juga masih minim literatur.  Saya mulai ngelantur. Mendengar dan menyaksikan bahwa ini hanya “kedok budaya” saja.

Terlepas dari argumentasi saya, serta interpretasi tentang sejarah dan budaya penuh tipu daya, juga menuai protes. Itu sah-sah saja.  Sebab sejarah berserial seribu dongeng, budaya lahir dengan rekayasa pemikiran, atau menyesuaikan zaman.   Hem. Sebagai pengakuan sejarawan dan budayawan. Ini sekadar interpretasi dan interupsi yang juga butuh solusi. Bukan sebatas seremoni perayaan, dan menjadi pengakuan  semata. Sementara kita tidak pernah tahu bahwa sejarah kita telah dijarah sekian ratus tahun,  kemapanan yang katanya merdeka tetapi sebatas pengakuan saja. Di mana sesungguhnya kita masih terjajah di negeri sendiri. 

Percakapan itu masih sebatas mitos dan cocoklogi. Tanpa referensi. Atau riset yang kuat dengan data yang cukup mencakup jejak-jejak sejarah yang dulu mereka jarah.

Di sebuah laman, didefenisikan bahwa Sejarah adalah peristiwa atau kejadian yang terjadi pada masa lalu yang dipelajari dan diselidiki untuk menjadi acuan serta pedoman kehidupan masa mendatang. Menurut etimologi atau asal katanya, sejarah berasal dari bahasa Arab, yakni syajarotun, yang artinya pohon.

Ilmu sejarah mempelajari tentang peristiwa masa lalu melalui artefak, manuskrip, maupun peninggalan lainnya dalam sejarah Indonesia, dunia, zaman kuno, hingga modern. Ilmu sejarah tak hanya mencakup bidang budaya, namun juga ekonomi, geografi, sosial, politik, militer, bahasa, agama, pariwisata, bahkan teknologi. Saya terdiam terkibuli selama pengetahuan berlangsung beradab. Lalu saya didogma dan dipaksa untuk ikut alur sejarah dan kultur budaya yang juga masih simpang siur dan aur-aur bin ngawur.

Tapi kita terbuai memilih menjadi budak dan tertidur di dada berbulu,  yang suka mengadu domba pula, kerjanya hanya membuat polemik dan menjamah warisan budaya, lalu kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya tahu dari dongeng, hingga beberapa tatanan sosial, hukum, budaya, bahasa, asal mula kata kita juga diperbudak oleh istilah yang kita jadikan bahasa kita sendiri, padahal kita meminjam dan menyadur menjadi “bahasa Indonesia”? Warna kulit tak sawo matang. Putih dan merah merona, serta rambutnya yang berwarna.

Bahkan  terlena pula. Demi sepetak harapan, kita menjual kultur dari nomenkelatur negara dalam budaya dijadikan kedok semata. Dari kesenjangan sosial masyarakat, terguling tak tahu bahwa kita telah dipenjara di negeri yang kaya raya, tapi dimiskinkan oleh sesama anak negeri sendiri.  Sejarah mereka jarah. Kita kehilangan identitas. Bertengkar sesiapa yang patut, dan ke mana arah sejarah dipelintir, sembari memecayai sebuah yang katanya  budaya hadir, walau hanya tipu daya. 

Kekacauan semakin merambat, sebatas diskusi dan debat kusir. Jewantahannya  kemudian  tertunda hanya bertikai pada risalah dan masalah yang tidak kunjung usai. Sesiapa lebih pantas, merasa benar, atau merasa paling tahu sejarah, sementara literatur, minim dan tidaklah cukup untuk menjadikannya kebenaran mutlak.

Mereka, para pencerita sejarah dan budaya suka bilang begini, “Sejarah di tulis oleh pemenang!” Saya berkilah menabalkan alasan, walau tak setebal buku-buku mereka. Bahwa justru itu juga keliru.  Betapa nistanya yang kalah tersudut dan tersikut di setiap sudut sejarah. Bahkan justru bagi saya kevalidan di atas sekian persen dari sang pemenang sejarah itu sendiri.  Ada kalah, justru jauh lebih mendeskripsikan secara detail, jujur dan sangat heroik memegang teguh prinsip, tanpa menyandera sisi lain cerita pemenang, serta periodik dari abad sampai babad.

Kemarin  Bincang Literasi Budaya sebagai agenda tahunan sebuah komunitas bernama Komplen, juga masih terseok-seok dan hampir keok. Mencoba membuka ruang, cakrawala berpikir. Tidak harus mangkir. Walau sebagian sekadar hadir menutupi kemerasaan, ada yang pamit sebelum acara inti. Ada yang lewat WhatsApp izin karena ada agenda lain lebih penting, katanya. Ada juga pura-pura lupa padahal jauh sebelumnya telah dikoordinasikan. Pelaku seni dan budaya juga hadir menghiasi, lalu beranjak izin juga dengan alasan ada keperluan mendesak. Akhirnya saya merancang kembali kelak, jika agenda kebudayaan, maka butuh doorprize, atau pejabat saya harus paksa hadir, biar pengikutnya ikut hadir walau terpaksa pula. 

Apakah saya dongkol? Tidak. Ini hanya hal konyol. Hanya uji coba satu teori bantahan. Bukan tanpa  paradigma etika yang kebanyakan hanya kedok “tunduk pulando“misalnya. Tetiba Vi hadir  meneguhkan di tepian sore, saat senggangnya saya menulis, yang katanya nama jenis kelaminnya “esai” ini.  Menyederhanakan hal pelik.

“Kau bukan bagian dari masa lalu, kau hanya petaka masa sekarang, untuk petualang peradaban selanjutnya. Buatlah kembali ruang-ruang itu. Terlepas suka dan tidak suka.,” ucap Danu. Sejarah hanya kisah yang telah terkoyak-koyak dari perjalanannya sampai sekarang. Ada secara ilmiah,  lengkap dengan urutan fakta, tafsiran, dan penjelasan. Sejarah terbentuk dari ingatan individu yang disusun secara sistematis dan ilmiah. Ingatan-ingatan tersebut kemudian ditafsirkan dan disampaikan kepada generasi selanjutnya.

Menurut mereka meliputi empat bagian:  Sejarah sebagai ilmu, sebagai peristiwa kisah, sejarah sebagai seni. Lalu, berjamaah dengan budaya?  Sebagai kebiasaan, harapan, ide, imajinasi, dan daya pikir manusia untuk mencipta.

Saya menikmati kesengsaraan ide dan imajinasi, sambil mengobatinya dengan  menyeruput kopi pemberian  karib Rahmat, saat berkunjung rindu ke mukimku malam itu. Terseduh  nikmat nan khidmat di tengah sejarah budaya hanya “duplikat dan muslihat”,  agar kekacauan kembali hadir sebagai peradaban baru, pencatat dan pencatut yang  juga baru.  Hanya bertengkar pada dongeng sejarah dan kebudayaan yang minim literasi.  Hanya kesedapan lidah dan khasiat terasi, kita santap dengan lahap sebagai kebanggaan yang semu.

Sumber gambar: Freepik.com


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *