Bagaimana Jika Aku Mati Hari Ini?

Gelap. Begitu gelap, hingga aku merasa bisa tenggelam dalam malam ini. Aku, Qawi Hutsam Ghaitsa, berjalan tanpa arah, seakan jalan poros Samata yang kosong ini adalah satu-satunya tempat yang bisa menerima keberadaanku yang tak berarti.

Langkahku terdengar berat, teredam dalam keheningan. Setiap detik yang berlalu terasa semakin menyakitkan. Seperti ada batu yang menumpuk di dada, semakin lama semakin menekan. Aku tahu apa yang membuatku merasa seperti ini.

Entah, aku masih bingung, ragamu tak ada di sini, tapi kau selalu ada di sini, sebentar, dari tadi, baru saja, selamanya, dan abadi.

Dan aku tetap di sini, bertahan dengan sisa-sisa kenangan yang mulai pudar. Berusaha melangkah, meskipun tubuhku enggan memapah atau bergerak. Rasanya tak ada lagi yang penting di dunia ini. Tak ada lagi yang bisa membuatku merasa bahwa aku measih memiliki rasa selain seleraku terhadapmu, tak ada lagi yang bisa membuatku merasa bahwa aku masih hidup.

Rani bukan segalanya, hanya saja di setiap arah yang kuhadapi, atau suara gemuruh, riuh, sendu, dan merdu pasti ada Rani. Rani sekali lagi bukan segalanya, hanya saja segala sesuatu yang ada memiliki sub bagian dari Rani.

Selama ini, tak ada pelipur lara, kekuatan dalam kelemahanku. Justru kami pernah berbagi tawa, berbagi impian, berbagi cinta, mungkin. Aku menganggap itu akan bertahan selamanya. Hampir benar, lebih tepatnya itu salah. Semua itu hancur begitu saja. Seperti ilusi yang mudah lenyap hanya karena angin berembus.

Mengendus nafsuku, menguntai setiap jemariku untuk mengnungkap apa isi dalam rok terjuntai itu, dalam wangi minyak telon selepas kerudung tergantung basah keringat itu.

Aku merasa sendiri memahami, lebih dari sebelumnya. Tidak ada yang bisa mengetahui, tidak ada yang bisa merasakan apa yang kurasa. Bahkan langit malam ini tampak begitu acuh tak acuh, tak peduli dengan kesendirianku. Angin yang berembus dingin tak menyentuh hatiku. Semua terasa begitu kosong.

Kucoba memantik hangat memlalui percikan colo’ mengisap semerbak yang kuhimpit dalam jemariku, menggosok moncongku pada rangka tenggorokanku, kuisap dalam-dalam penuh desak. Setelahnya itu menyeruak terhambur memecah keheninganku, jelas bermakna sesak.

Aku berhenti di tengah jalan. Mataku terpejam, mencoba menghalau rasa sakit yang datang begitu mendalam. Kenangan akan Rani datang menghantui. Wajahnya, senyumannya yang dulu selalu ada, kini menjadi bayang-bayang yang tak pernah bisa aku genggam. Rani pergi marah begitu saja, tanpa memberi penjelasan, sebab pantas tak dijelaskan.

Tak mungkin juga aku akan membela semua maksudku dan menjelaskannya dalam sebuah pernyataan yang kurangkai. Bagaimana pula itu kubangun?

Aku tak tahu harus merasa apa. Terkadang, aku merasa marah. Marah karena dia memilih untuk terus melangkah tanpa aku. Namun, lebih dari itu, aku merasa hampa. Kehilangan. Kekosongan yang menggerogoti seluruh jiwaku.

Sejak kepergiannya, aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana ini? Apa yang kurang? Tapi semakin lama aku merenung, semakin aku sadar bahwa ini bukan tentang apa yang kurang dariku. Ini tentang apa yang hilang dari dalam diriku sejak pertama kali dia pergi. Kepergian merobek segalanya. Cinta yang aku percayai, yang aku genggam erat, berubah menjadi serpihan-serpihan yang menyakitkan.

Dalam satu tarikan panjang yang kuisap, bara dari rokok itu memerah membawaku pada lamunan, terdapat tiang listrik berkarat dengan lampu remang-remang, kuembuskan dengan penuh kepasrahan yang lepas. Aku telah memproykesikan diriku dalam lamunan itu.

Aku mengangkat tangan kananku, meraba saku jaketku, dan menemukan benda kecil yang sudah lama terpendam di sana—pisau yang hampir terlupakan. Pisau kecil yang seolah-olah menjadi jawaban untuk semua pertanyaan yang tak terucapkan. Aku menatapnya, bingung. Sejenak, aku bertanya pada diriku, apakah aku benar-benar akan melakukannya? Tetapi jawabannya sudah jelas. Kucoba menelusuri malam melawan cahaya agar tak datang pagi dan membawamu pergi, secara bersamaan jelas itu menyiksaku. Sebab aku abadi Bersama gelap dan tengah malam ini.

Kepergian telah membuatku kehilangan alasan untuk terus bertahan. Apa gunanya hidup tanpa memiliki empati? Apa gunanya semuanya? Aku bukan siapa-siapa lagi. Hanya seorang pria yang terjebak dalam kenangan, yang tak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu.

Mataku memerah, namun tak ada air mata yang jatuh. Aku terlalu lelah untuk menangis. Aku terlalu lelah untuk merasakan apa pun. Sekarang yang ada hanyalah rasa sakit, rasa yang semakin menyesakkan pada tiap helaan napas. Setiap kali aku mencoba untuk bergerak maju, kenangan tentang Rani menarikku kembali ke dalam lubang yang semakin dalam. Aku merasa terjebak, dan pisau ini—pisau kecil yang sudah ada di tanganku—adalah satu-satunya jalan keluar yang bisa kutemukan.

Aku tahu, mungkin aku akan dianggap lemah. Tetapi ini bukan tentang itu. Ini adalah tentang rasa sakit yang sudah terlalu dalam, yang tak bisa lagi kuhindari. Kepergian dan sikap plin-plan yang ditinggalkan telah membuatku kehilangan semua arah. Tanpanya, aku hanyalah setengah manusia yang berjalan tanpa tujuan. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidup ini lagi. Mungkin inilah saatnya untuk mengakhiri semuanya.

Aku menatap pisau itu lagi, rasanya dingin di telapak tangan. Sambil memejamkan mata, aku merasakannya semakin dekat dengan hatiku. Apa yang kupikirkan dulu, tentang filsafat dan hidup yang harus diterima, kini terasa kosong. Di hadapan rasa sakit ini, semua teori itu tak lagi berarti. Aku hanya ingin berakhir. Aku ingin berhenti merasa.

Aku disaksikan beberapa setan dan dituding melakukan tindak pidana, pembunuhan harap, menikam sisa rasa menggunakan “kepergian”.

Aku tertegun. Pikiran dan perasaanku tercabik-cabik.

Aku membuka mata, memandang pisau yang masih ada di tanganku. Aku merasakan beratnya keputusan ini. Tapi saat itu juga, rasa sakit yang begitu dalam membuatku terjatuh. Aku tahu bahwa ini adalah akhir dari semuanya.

Dengan satu gerakan yang cepat dan penuh keteguhan, aku menekan itu lebih dalam. Tapi justru saat itu—saat yang seharusnya mengakhiri semuanya—aku merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan dari apapun yang pernah kurasakan sebelumnya. Rasa sesak yang begitu menyesakkan, lebih dalam dari luka yang baru saja kutorehkan. Keputusan ini—keputusan yang kupilih dengan keyakinan yang salah—ternyata tak memberikan kelegaan sama sekali.

Dan di sana, di jalan poros Samata yang gelap ini, aku jatuh. Kepergian Rani kuhadiahkan dengan kematian, yang tak pernah bisa kuterima, akhirnya menghancurkanku lebih dalam daripada apa pun yang pernah aku bayangkan.

Tepat Ketika isapan terakhir rokok ini, aku mengembuskannya dengan lepas, kulihat diriku mati, kematian menghidupkanku dalam sajak dan puisiku.

Tepat Ketika baranya ingin kumatikan aku sedikit tertawa atas lamunanku, dan bertanya Bagaimana jika benar-benar aku mati hari ini.

Mungkin lusa aku tak memakai topi rimba kecintaanku di acara sempro.

Kredit gambar: Viva Banyuwangi.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *