Letting Go

Semulia-mulianya harta pribadi adalah hati yang tidak banyak berkeinginan”. (Imam Ali bin Abi Thalib)

Setiap hati akan terkesima bila melihat seseorang rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk tujuan kemanusiaan. Baru-baru ini, melalui gawai menguritakan, Jackie Chan, seorang seorang aktor legendaris asal Hongkong, memutuskan seluruh hartanya untuk badan amal kemanusiaan. Menariknya, beliau bilang, tak akan mewariskan kekayaannya kepada anak-anaknya, sepenuh hartanya akan diberikan untuk kepentingan kemanusiaan.

Tak mudah melakukan hal seperti yang dilakukan Jackie Chan. Harta yang dikumpulkan sepanjang kariernya, disumbangkan seratus persen. Bukankah hal yang paling sulit dalam kehidupan, yakni letting go (melepaskan). Kebanggaan yang dimiliki selama hidup berupa harta, jabatan, status sosial, dll, akan lepas tatkala kematian menimpa seseorang.

Tak ada yang abadi, kecuali sang pemilik keabadiaan. Namun, melepaskan sesuatu yang dibanggakan, atau yang diraih atas capaian, terasa sulit apabila kecenderungan manusia masih sebatas aksesoris kehidupan. Kemelekatan atas seluruh yang disandang oleh manusia, bersumber dari hal-hal berupa keinginan, perhatian, pemikiran, pemaknaan, dll. Sekotahnya akan memengaruhi suasana hati.

Ayatullah Muhammad Taqi Mishbah Yaszdi dalam kitabnya berjudul Dzikrullah, menukas, tingkat perhatian seorang hamba kepada Tuhan, itu tergantung pada tingkat pengendalian hatinya. Singkatnya, untuk mengukur tingkat perhatian seseorang, hendaknya memeriksa dan mempelajari hati masing-masing, sudah sejauh mana kita mampu mengendalikan, atau menaklukkan hati itu sendiri dengan segala yang ada di dalamnya.

Manusia dengan segala kecenderungannya akan menentukan nasibnya. Keterlepasan sesuatu yang menawan hatinya merupakan pilihan sadarnya guna  memerdekan dirinya dari penjara jiwanya. Imam Ali bin Abi Thalib, menabalkan, yang menjadi bagianmu dari duniamu hanyalah apa-apa yang dapat memperbaiki tempat berpulangmu(akhiratmu).

Melepaskan harta sepenuhnya dengan orientasi amal kemanusia, adalah cara keluar dari penjara-penjara dunia. Tentu, tidak mudah melakukan hal demikian, jika kita masih pada kondisi ketergantunga pada materi. Dr Hawkins dalam bukunya berjudul  Letting Go, memperkenalkan metode melepaskan dengan jalan kepasrahan. Menurut Hawkins, sikap pasrah (surrender) adalah jalan yang paling pasti untuk menuju pemenuhan total. Hal itu memungkinkan kita mengalami sifat dasar alam semesta, yaitu kehendak untuk mewujudkan kebajikan terbesar dalam sebuah situasi.

Lebih lanjut, Hawkins menerangkan, mekanisme pasrah bisa diaplikasikan untuk seluruh perjalanan batin: mulai dari melepaskan kekesalan masa kanak-kanak, hingga pemasrahan tahap akhir terhadap ego itu sendiri. Ketika kita tahu bagaimana cara berpasrah, seluruh perasaan apa pun bisa dilepaskan kapan saja dan di mana saja. Sekejap, berpasrah bisa dilakukan dengan mudah dan berkelanjutan.

Tak ada mesti dikuatirkan di alam materi, sebanyak dan sebesar apa pun dipunyai, lambat laun akan sirna oleh waktu. Pada akhirnya, hanya laku baik menjadi artefak (legecy) peradaban selanjutnya. Seseorang yang mampu melepas dari tawanan-tawanan jiwanya akan merasakan kemerdekaan. Kata Rumi dalam kitabnya, Matsnawi, “Jangan cari menjadi terdepan di dunia ini, pelan-pelan saja. Jadilah pemimpin pada saat kau kembali.

Saat kita perlahan-perlahan mengalami keterlepasan, di saat yang sama, kita merasakan kebebasan. Hati yang tak terpikat akan sesuatu, bukan berarti membeci atau menolak sesuatu, namun pada kondisi itu, sesuatu tidak lagi memberi kesan di hati. Artinya, hati tidak lagi merana jika sesuatu itu tiada, begitu pula, hati tidak riang gembira jika sesuatu itu datang menghidu. Kata Muh. Nur jabir, penerjemah kitab Matsnawi Rumi, rahasia membebaskan adalah melepaskan.

Keterlepasan dari sesuatu yang melekat termasuk materi menjadi langkah awal keluar dari tawanan jiwa. Selanjutnya, segala derita maupun bahagia sama saja dirasakan, keduanya manifestasi Ilahi. Keterlepasan mengubah segala persepsi kita tentang kehayatan. Hidup menjadi bahagia, sebab burung jiwa terbang bebas, lepas dari sangkar jiwanya.

Upaya sungguh-sungguh  meraih kebahagiaan menuai hasilnya manakala mampu melampaui seluruh kemelekatan diri. Pada kajian sufistik, dunia adalah tawanan jiwa, kecuali mereka yang memiliki kesadaran Ilahia akan terbebas dari kemelekatan jiwa. Dalam kitab Matsnawi, “atau jangan-jangan kau tak tahu, cahaya matahari dunia ini adalah bayangan matahari hakikat yang ada di balik tirai?” Tanya Rumi.

Keterlepasan dari kemelekatan dunia membutuhkan kesungguhan jiwa, selebihnya kehendak Tuhan. Segala bentuk nafsu menjadi penghalang jalan menuju kebebasan. Sesuatu yang melekat berupa kekayaan, kekuasaan, dll kerap membuat kita mabuk, baik yang telah meraihnya, lebih-lebih mereka yang tidak mampuh meraihnya. Andai saja kita mampu melepaskan dari kemelekatan, berarti kemerdekaan telah menghidu diri.

Jalan keterlepasan menjadi cara alternatif manusia modern keluar dari derita zaman. Metode keterlepasan ini sering dibahas guna pengembangan  diri. Abu Marlo, seorang pendakwah muda, pernah membahas tema keterlepasan di media sosialnya, menurutnya, salah-satu sifat dasar alam semesta adalah melepas. Ada waktunya segala sesuatu di alam semesta akan melepas, kembali ke asalnya. Olehnya itu, seyogianya kita tak perlu merasa memilki. Ibaratnya, kita adalah tamu yang tak punya hak milik. Rasa memiliki serta merta membawa pada derita. Kuncinya, dalam praktek kehidupan, kita mesti merelakan, dengan cara menolong sesama manusia.

Lamat-lamat, kepedulian terhadap sesama makhluk, akan melepaskan kita dari tawanan jiwa. Agar terlepas dari tawanan itu, tidak cukup hanya mempelajari teorinya. Sesungguhnya, jalan keterlepasan manakala kita melakoni secara langsung, seperti halnya orang-orang yang merelakan harta dan jiwanya demi kemanusiaan.

Kredit gambar: Depositphotos

                  


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *