Kak Sulhan yang saya hormati,
Izinkan saya memanggilmu dengan sapaan yang selama ini terasa begitu hangat, kak. Sebuah kata pendek yang bukan hanya menggambarkan keakraban, tetapi juga rasa hormat yang dalam atas pemikiran, kepercayaan, dukungan, nasihat, dan percakapan yang renyah dan menggairahkan. Dalam sunyinya literasi, dirimu adalah penjaga obor. Dalam riuh rendahnya Bantaeng, kau tempatkan dirimu sebagai pendengar sekaligus perekam. Tulisanmu menjadi pengingat bahwa perjalanan ini bukan hanya soal jabatan, tetapi soal nilai.
Saya telah membaca tulisanmu kak, “Tarimakasi lompo Bung Ilham Azikin”, di Paraminda.com (5 Desember 2024). Saya baca, lalu berhenti. Saya baca lagi, lalu mengingat. Dengan hati yang bercampur-aduk—ada haru, bangga, dan sekaligus rasa syukur. Haru karena kenangan kita terasa begitu nyata, bangga karena mengetahui jejak kebersamaan kita diabadikan dengan indah, dan syukur, karena Allah mengizinkan kita berkolaborasi selama ini.
Tulisanmu tentang saya yang terbit kemarin itu bukan hanya narasi, tetapi juga semacam monumen kecil, bukan untuk saya secara pribadi, tetapi untuk ide-ide yang pernah kita perjuangkan bersama. Kata-katamu membawa saya melangkah ke lorong-lorong kenangan, pada malam lepas sambut di Anjungan Pantai Seruni itu. Terasa baru kemarin. Ya, padahal waktu telah berlari sejauh enam tahun. Kata-kata “Siap perintah, Kak Sul,” kini seperti gema di ruangan kosong. Sederhana, tapi ternyata mencipta jejak panjang, menjadi jembatan menuju percakapan besar berikutnya. Malam itu mungkin sederhana bagi sebagian orang, tetapi bagi saya, itu adalah awal dari perjalanan yang sarat makna.
Warisan yang tidak Terlihat, tetapi Dirasakan
Kak, kita sepakat bahwa fisik itu penting, tetapi jiwa manusia jauh lebih utama. Saya masih ingat obrolan kita sambil berbicara tentang pembangunan budaya literasi. Anda sering kali memulai dengan pertanyaan ringan, lalu percakapan kita beralih menjadi sesuatu yang mendalam. Dari sana lahir ide-ide besar, seperti buku, Kader Promkes untuk Literasi Kesehatan, Menulis Desa Membangun Indonesia, hingga Binar dari Selatan: Ragam Inovasi dari Kabupaten Bantaeng, dan sederet buku lainnya.
Buku-buku itu bukan sekadar tumpukan kertas berjilid; adalah bukti nyata bahwa kebudayaan literasi di Bantaeng telah mengambil tempatnya. Aksi itu adalah warisan yang tidak berbentuk gedung, tetapi mengakar dalam jiwa masyarakat kita. Anda dan saya sama-sama percaya bahwa membangun manusia berarti membangun pikirannya. Dan ini, kak, adalah hal yang saya banggakan.
Tidak mudah memilih jalan ini. Anda pun tahu, membangun “jiwa” sering kali dianggap kurang seksi di mata banyak orang. Tetapi seperti yang pernah saya utarakan, ini bukan soal popularitas. Ini soal tanggung jawab sejarah. Sebagai kakak, tolong ingatkan jika keliru menukil ungkapan Khalifah Umar bin Khattab, bahwa Takdir Allah selalu baik, meskipun air mata harus kita teteskan untuk menerimanya. Saya memegang prinsip itu dengan erat. Apa pun hasilnya, saya percaya bahwa jalan yang kita pilih adalah jalan yang benar.
Kak Sul, jabatan ini memang hanya titipan. Saya tahu itu sejak awal. Seperti yang sering kau bilang, jabatan itu alat untuk mengabdi, tapi mengabdi itulah yang abadi. Kenanglah saya, bukan hanya sebagai bupati. Saya ingin dikenang sebagai seorang teman, seorang manusia biasa yang berusaha melakukan yang terbaik untuk tanah kelahirannya. Bantaeng masih punya jalan panjang, Kak Sul. Jalan yang akan dipenuhi anak-anak cerdas yang lahir dari kualitas jiwa yang kita bangun bersama. Kita tidak pernah benar-benar kalah, selama kita masih percaya pada apa yang kita perjuangkan. Dan politik memang begitu adanya, seperti sepak bola yang sering kita bicarakan.
Lima Tahun yang Penuh Arti
Kak Sulhan, lima tahun mungkin terasa singkat bagi sebagian orang. Tetapi bagi saya, itu adalah rentang waktu yang penuh pelajaran. Saya belajar bagaimana kata-kata kecil bisa menjadi kekuatan besar, bagaimana kolaborasi bisa menghasilkan karya monumental. Saya belajar dari Anda, dari para penggiat literasi lainnya, dari masyarakat Bantaeng yang tak pernah lelah mendukung.
Saya ingin menyampaikan terima kasih atas setiap percakapan kita, setiap tawa di sela-sela diskusi serius, setiap canda yang menyelipkan kritik membangun. Anda pernah berkata bahwa politik itu tidak hanya soal menang atau kalah, tetapi soal meninggalkan jejak. Saya ingin percaya bahwa jejak kita akan tetap hidup, menjadi pengingat bahwa pembangunan itu harus seimbang—antara jiwa dan raga.
Hari ini, saya tetap berdiri. Melihat ke belakang, ada haru. Melihat ke depan, ada tekad. Ada rasa syukur atas setiap momen, bahkan atas peristiwa politik hari ini. “Now is not the time to think of what you do not have. Think of what you can do with what there is.” Saya sepenuhnya percaya ungkapan Ernest Hemingway itu. Menjadi pengingat bagi saya untuk tetap berdiri tegak, meskipun angin politik tidak selalu berpihak. Saya bangga atas apa yang telah kita capai bersama. Budaya literasi yang kita bangun adalah bukti bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari tinggi menara atau panjang jalan, tetapi dari dalamnya pikiran yang diisi dan jiwa yang dicerahkan.
Kak Sulhan, perjalanan kita mungkin berbeda jalur, tetapi arah kita tetap sama. Mengabdi, dalam bentuk apa pun, adalah tugas kita yang paling mulia. Jabatan mungkin sementara, tetapi pengabdian adalah abadi. Saya akan terus mengenang momen-momen bersama Anda, baik di forum resmi maupun di ruang yang senggang. Kata-katamu, seperti kopi yang pernah kunikmati di teras rumahmu, hangat, pekat, dan sarat makna.
Terima kasih, Kak Sul, atas kepercayaan, atas persahabatan kita, dan atas inspirasi yang tak pernah henti. Kata-katamu selalu mengingatkan saya pada bait dalam Indonesia Raya: Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Kata-kata itu bukan sekadar lirik lagu, tapi janji yang harus kita teruskan. Untukmu, Kak Sul, saya titip salam hormat dan doa terbaik. Untuk warga Bantaeng, saya haturkan terima kasih tak terhingga atas perjalanan indah ini. Dan untuk semua yang pernah tersakiti oleh keputusan atau kekhilafan saya, saya mohon maaf dengan segala kerendahan hati.
Salam hangat, Ilham Azikin.

Bupati Bantaeng Periode 2018-2023


Leave a Reply to NA Cancel reply