Selalu Ada Jalan

Saya terinspirasi membuat tulisan ini, karena banyaknya orang yang menjalani hidupnya dengan sekadarnya saja. Yah… sekadar menunggu takdir dan malaikat maut pun datang menjemput. Kehidupannya sangat jauh dari hidup berkualitas. Mengapa? Karena terdapat “penjara-penjara” pada pikirannya. Semua penjara itu hadir, bermula dari adanya vonis-vonis dari dokter terhadap dirinya.

Vonis-vonis tersebut  sudah tidak asing lagi di telinga kita. Vonis tersebut berupa (1) tidak lagi bisa sembuh (2) minum obat seumur hidup (3) tidak ada obatnya dan (4) berpantang makanan dan minuman tertentu selamanya.

Vonis-vonis di atas sungguh membuat orang yang divonis merasa terpenjara. Bahkan, sangat mungkin keluarganya pun ikut terpenjara. Tidak hanya itu, bisa jadi sahabatnya pun ikut terpenjara. Penjara yang dimaksud bukan penjara di lembaga pemasyarakatan, melainkan penjara di pikiran yang membuat seseorang tidak bisa lagi menikmati hidupnya,  bahkan sangat sering berujung pada kepasrahan dan keputusasaan.

Saya sangat bisa merasakan efek dari vonis vonis tersebut. Mengapa? Karena saya pernah divonis oleh dokter , bahwa saya tidak lagi bisa sembuh, karena tidak ada obatnya. Saya divonis oleh dokter spesialis saluran cerna dan hati. Penyakit yang saya derita saat itu adalah sirosis hati. Berdasarkan hasil CT-SCAN, organ hatiku sudah mengecil 2/3 bagian, berarti sisa 1/3 bagian. Kata dokter, jikalau sudah 1/8 bagian, maka itu berarti sudah gagal hati. Dan betul adanya, tanda-tanda gagal hati memang sudah ada, berdasarkan link terpercaya di Goegle.

Selain  sirosis hati,  pada saat yang sama, juga ada kolesterol tinggi di atas 300 poin, trigliserida tinggi hampir 500 poin, fibrosis hati stadium lanjut, batu empedu, fatty liver (perlemakan di hati), TMD (Tombora Modibular Disorder), sinusitis (sudah disarankan operasi), ensefalopati hepatik stadium akhir, dan juga racun di hati sangat tinggi, berdasarkan gamma GT hampir 900 poin. Asites atau pembengkakan pada perut karena adanya cairan juga saya alami. Perutku seperti orang yang sedang hamil.

Kala itu, dokter menyarankan untuk disedot cairannya. Edema atau pembengkakan di seluruh tubuh pun juga kualami. Awalnya, saya mengira gemuk, semua cincinku sempit,  ternyata terjadi edema pada tubuhku. Gangguan semakin menguat, sebab hasil laboratorium menunjukkan,  bahwa darahku bukan lagi encer,  melainkan beku. Begitu pun dari segi warna, bukan lagi merah segar, tapi sudah berubah kecoklatan khas darah penyakit sirosis hati.

Mendengar vonis seperti itu, ditambah dengan adanya komplikasi, dan dari komplikasi tersebut, masing-masing  memberikan gangguan yang khas, membuat langit seperti mau runtuh, dunia serasa mau kiamat, dan segera ingin mati saja.

Saya diliputi keputusasaan. Apatah lagi, sangat sering mendengar informasi, baik dari teman, sahabat,  keluarga,  tetangga yang membuat saya semakin terpuruk. Berdasarkan pengalaman mereka, penderita penyakit sirosis hati tidak berumur panjang. Bahkan, harus masuk keluar rumah sakit.

Saya mencoba peruntungan dengan berselancar di dunia maya. Berbagai link saya kunjungi, termasuk pendapat para professor hati /liver di Indonesia. Semuanya sama, tak ada yang menggembirakan..

Karena dokter sudah memvonis tidak bisa lagi sembuh, dan juga tidak ada lagi obatnya, maka saya pun putus hubungan dengan medis. Dengan akal sehat, untuk apa menghabiskan energi, waktu, biaya dan yang lainnya, kepada sesuatu yang tidak lagi memberikan harapan. Iya bukan?

Hingga suatu malam, tepatnya malam Jumat, saya minta ke anak-anakku untuk mengajikan surah Yasin. Saya merasa tidak lagi ada jalan. Pikiranku hanya kematian. Sebelum anak-anakku mengaji, mulutku spontan berucap, “Nak… niatkan untuk kesembuhan yah.” Saya tidak tahu, kenapa mulutku spontan berucap seperti itu.   Padahal yang menguat di pikiranku adalah, khasiat surah Yasin untuk mempermudah jalannya kematian.

Setelah khatam surah Yasin yang kedua kalinya, saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Perutku terasa ringan. Saya penasaran, kemudian saya melihat perutku. Wow… ternyata perutku mengecil. Saya tidak dapat mengurainya dalam kata dan kalimat, rasa syukur dan terima kasihku pada Allah Swt. 

Saat itu, butiran bening pun mulai keluar dari mataku . Yah… saya pun menangis terharu plus bahagia, yang sebelumnya sangat sering menangis karena sedih akibat kondisi yang semakin  terpuruk. Dari sinilah situasi berbalik. Saya seperti disadarkan akan kehadirannya Allah Swt.

Harus ku akui, bahwa sebelum momen ini, saya kafir, karena saya berputus asa dari rahmat Allah Swt. Bukankah Al Quran melarang kita untuk berputus asa dari rahmat Allah? Sebab, yang berputus asa itu hanyalah orang kafir. 

Duhai Tuhanku, kumohon ampunan, karena selama ini, saya lebih percaya makhluk berlaku dokter, dibandingkan pencipta makhluk yang bernama Allah Swt. Astaghfirullah… astaghfirullah… astaghfirullah…

Alhamdulillah, setelah malam Jumat yang luar biasa itu, saya semakin optimis, bahwa Allah Swt. sebaik-baik penolong, pemberi petunjuk sekaligus perlindungan kepada hamba-Nya. Saya semakin yakin, bahwa selalu ada jalan untuk kondisi yang saya alami. Keyakinanku akan Tuhan, semakin menguat. Sekaligus penyesalanku yang selama ini lupa akan kehadiran Allah Swt., juga semakin menguat.

Perasaan berdosa senantiasa muncul. Tapi, karena saya meyakini, bahwa Allah Maha Pengampun, maka saya pun meyakini,  bahwa Allah sudah mengampuni saya, sehingga perasaan berdosa itu tidak berkelanjutan. Kala  itu, saya tidak menemukan orang yang bisa mendampingi saya, seperti saya mendampingi pasien pasienku sekarang ini. Sama sekali tidak ada sentuhan kesehatan holistik .

Saya semakin bersemangat. Putus asa tergantikan dengan harapan yang sangat besar. Pesimis berubah menjadi sangat optimis. Saya pun mencoba berikhtiar dengan pengobatan alternatif. Kata terapisnya, untuk kondisiku, itu memang sudah parah. Tak ada tindakan lagi semacam akupuntur,  akupreusur, dan bekam yang bisa mengatasi hal tersebut. Herbal pun juga tak ada. Terapisku justru merekomendasikan untuk terapi nutrisi, sambil mempertahankan kondisi yang sudah ada, supaya tidak bertambah parah. Dari sinilah, semakin  muncul angin segar, dan harapan itu semakin terang-benderang.

Dengan penuh semangat, saya kembali berselancar di dunia maya. Alhamdulillah, semakin banyak informasi menggembirakan. Saya seperti dituntun untuk berjalan dan terus berjalan, mencari dan terus mencari, hingga pencarian itu semakin menguatkan, bahwa selalu ada jalan. Pencarian dan perjalanan itulah yang dikemudian hari terbingkai dalam ilmu kesehatan holistik.

Keyakinan akan pertolongan Allah membuat saya semakin optimis. Bahkan, menjadi kesimpulanku, bahwa jikalau bukan karena Allah, bukan karena pammase puang, maka saya mungkin sudah tinggal  nama saja, atau setidaknya, kalaupun masih hidup, maka dipenuhi penderitaan seperti layaknya penderita sirosis hati pada umumnya.

Karena rasa syukurku kepada Allah, saat itu, saya kemudian berjanji untuk berbagi dengan siapa pun itu, berkhidmat atas orang-orang yang membutuhkan. Alhamdulillah,  atas izin dan kehendak Allah, janji dan sekaligus keinginanku terwujud, dengan saya menjadi terapis.

Slogan selalu ada jalan saya tularkan. Pammase puang sebagai keberkahan atas keyakinan akan Allah saya doktrinkan. Terapi holistik sebagai sebuah sistem kesehatan semakin saya kampanyekan. Dan kesemuanya itu termuat dalam “Terapi Holistik Pammase Puang” dengan slogan “Selalu Ada Jalan”.

Alhamdulillah,  atas izin dan kehendak Allah,  semakin banyak yang merasakan keberkahan dari terapi holistik ini. Yang dulunya putus asa karena tidak bisa sembuh, karena tidak ada obatnya versi dokter, sudah disembuhkan oleh Alah Swt.

Begitupun yang divonis minum obat seumur hidup dan berpantang makanan /minuman tertentu, juga sudah teratasi, karena sudah lepas obat dan makan semuanya. Alhamdulillah, mereka semuanya sudah bebas dari “penjara”, dan vonis-vonis tersebut hanyalah bagian dari kehidupannya. Dan kini, vonis-vonis tersebut menjadi masa lalunya.

Atas dasar inilah sahabat holistik, baik karena pengalaman pribadiku, maupun pengalaman mendampingi pasien-pasienku, saya semakin merasakan kehadiran Allah Swt., semakin bersyukur atas semuanya, menjadi semakin bahagia, sehingga yang dulunya ingin mati saja, sekarang berubah menjadi ingin hidup seribu tahun lagi.

Kredit gambar: https://janganmenyerah.org/


Comments

One response to “Selalu Ada Jalan”

  1. Rahman Ramlan Avatar
    Rahman Ramlan

    Masya Allah. Sungguh sangat menginspirasi. Terima kasih banyak atas budi baiknya utk selalu berbagi. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan dlm kehidupanta

Leave a Reply to Rahman Ramlan Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *