Rasa itu menjelma menjadi ornamen dari setiap momen. Setiap jiwa dilengkapi cara bersikap dan bertaruh. Ada geliat, ada getar menyelinap melewati nadi-nadi, dan menembus hingga ke sebuah hulu. Tempat bersemayam sebuah rahasia.
Teringat kisah Rahwana antara amarah meluapkan dendam kematian adiknya di tangan Rama. Dan rasa cinta kepada Sinta yang membuatnya mengubah segala perangai yang tersemat buruk (dasamuka). Pada akhirnya luluh nan luruh jiwa, hati dan kesatriaannya hanya karena asmara.
Rahwana memahami, keduanya begitu membuatnya mengabaikan sesuatu, yaitu terbawa asmara. Hingga amarah membuatnya takluk di ujung tombak seorang Rama.
Rahwana sekadar umpama, sebagai sang kesatria yang menunjukkan amarah dan perkasa selama ini, tetiba merasakan sesuatu dalam dekapan rasa di hatinya menderanya atas nama cinta. Tiada bisa dibendung, hingga menyerahkan dan merelakan semuanya, sampai pada napas akhir hidupnya, dia berucap, “Tuhan mengapa kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?”
Betapa kekuasaan itu runtuh seketika. Lebih kuat mendata setiap denyut dan mendikte, mengaliri nadi-nadi, pada jiwa setiap manusia. Tetapi itu sering terabaikan. Seperti kebiasaan kita terlalu merasa nyaman pada seseorang. Di antara pasangan, teman, kawan, besti, atau eforia dan meluapkan secara berlebihan.
Terkadang kita terlena, merasakan keagungan dan tertiup angin sepoi pujian dan pengakuan. Padahal, itu ancaman terbesar menakutkan sesungguhnya. Semua terasa indah. Akan tetapi berpotensi menjadi musibah tanpa kau kenali musababnya.
Begitulah pergolakan hidup dalam perjamuan di mana saja berinteraksi, bersama siapa, merawat dan meraut. Semua terasa gula, rasa pahit sekalipun, walau dibohongi bahwa itu manis.
Seolah membuat kita terbang melayang, padahal kita mendustai diri sendiri. Bagai ilusi yang menguasai. Ibarat pasangan sejoli satu episode mengucap janji. Namun, di akhir saling melukai.
Begitulah asmara dan amarah, keduanya bagai setubuh, yang sama-sama punya hasrat, harkat martabat, tetiba tersulut orang ketiga. Rasa sayang hanya selayang pandang.
Seketika punah. Hubungan mesra saat asyik-asyiknya menikmati aroma romantika, gejolak yang penuh kejujuran, pada akhirnya menjadi kehancuran. Memuncah, mencacah, menerobos apa saja. Mengunyah sampai dengan renyah. Saling menghardik, meluap penuh amarah.
Ini sering terjadi hubungan yang beracun (toxic) artinya, hubungan yang beracun sangat umum terjadi saat ini. Jenis hubungan ini dapat menghalangi seseorang untuk mencapai hal-hal hebat dalam hidup, seperti karier yang baik, atau saling memahami, penuh ketulusan berubah menjadi kisah yang buruk.
Danu tetiba muncul tanpa bersama si Vi seperti biasanya. Apakah hubungannya baik-baik saja? Duga menduga! Namun, segera kucegat pertanyaan itu muncul. Entah dari mana saja selama ini. Sementara karibku, Mubarak mengajak kami ke sebuah telaga (warkop) dan mengajak Ibra ikut menyulam rindu.
Ruang percakapan itu kemudian membahas beberapa hal. Bahwa yang ramah mulai terlihat marah. Yang ramah itu banyak, walau di antara yang banyak belum tentu baik. Seperi saya misalnya. Mubarak memicingkan mata. Ibra masih meyakini sesuatu, untuk tidak berlebihan katanya dan jangan gegabah.
Kurangi interaksi dan biasa saja setiap bereaksi ke siapa saja. Danu menawarkan ajakan seperti biasa. Mubarak menagihnya tentang asmaranya. Tetapi Danu baru pulih dari rasa sakitnya yang terdalam, bagai lagu, “Karamnya cinta ini, tenggelamkanku di duka yang terdalam”. Suasana pecah. Betapa luka menggugat, tapi tak tergugah.
Saya mulai ragu dengan diri sendiri. Paranoid dan trauma untuk meluapkan rasa sayang, cinta, dan perhatian. Hem. Kesumat yang lamat-lamat menyikapi tanpa harus klarifikasi. Selayaknya dan seadanya menaruh sesuatu kepada hal yang akan membuatmu menjadi pemarah.
Sama pula kisah Arok dan Dedes menemui antara mustika dan petaka. Menjadikan Tunggul Ametung seakan karma dibalas tunai ketika dia memaksa membawa Ken Dedes ke Istana menjadi permaisuri. Lalu seketika terenggut oleh sebuah siasat, taktik, intrik seorang bernama Ken Arok.
Betapa suasana politik mencekam kala itu. Hanya karena bisikan bulus untuk tahta, dan seorang Ken Dedes, semua mengubah menjadi petak. Hingga penempah ampuh bernama Gandring, menjadi bagian kisah tragis, di ujung keris yang ditempah sendiri menghujam jantung dan riwayat empuhnya musnah.
Semua berkaitan, antara strategi, cinta, politik propaganda menempuh segala cara demi asmara, cinta, dan tahta. Berakhir tragis semuanya di ujung keris. Cukup miris kan?
Kebanyakan di antara sedikit, atau tidak sedikit juga dari banyaknya kejadian, walau tak semirip di rimba belantara politik dan demokrasi saat ini . Kusaksikan betapa setiap detik orang-orang paling suka marah.
Sejatinya, awalnya merawat asmara yang membara. Jiwa yang awalnya terpana telah punah. Seperti pengembara hendak pergi membuang lara. Tetapi jiwanya belum tangguh bertaruh.
Kemesraan yang tampak, tetapi sesungguhnya hambar, dalam sanubari telah pudar. Debar-debar membakar api asmara, lantas meremukkan hanya demi kepentingan. Sementara amarah bergemuruh di setiap kepala, dan sekian juta pasang mata menyaksikan sandiwara keduanya. Sebagaimana teatrikal politkal “drama turgi”, yang tadinya salain mengumpat dan penuh amarah, lalu sebaliknya menjalin asmara kemudian saling meremah-remah.
Kembali menyusuri kisah seorang Arok. Bagaimana asmara itu menjadi amarah atau sebaliknya. Demi hasrat memiliki Ken Dedes, Ken Arok menhabisi Tunggul Ametung. Dan memimpin memerdekakan Tumapel dari Kerajaan Kediri, lalu bertahta sebagai raja pertama Singasari sejak tahun 1222 Masehi.
Dari asmara menjadi amarah selanjutnya, kerajaan dibangun oleh siasat jitu, beralaskan mimpi dan bisikan, bahkan membawa asmara berulah menjadi amarah. Sampai pada akhirnya kisah ini adalah menghasilkan kesumat yang setiap saat kumat. Dendam bertingkat sampai tujuh turunan. Cukup dramatis juga.
Sejatinya kesatria, menawan dan seolah paling empuh dengan ilmu kanuragan. Memiliki kelebihan dari manusia lainnya. Dipenuh pujian, bahkan pujaan. Toh juga berakhir di ujung keris. Hem. Betapa tragis.
Danu sambil mengepulkan asap tembakaunya, nyeletuk seperti biasa, Katutui sikiddia, surang kana ta’bebea, (berhati-hatilah berucap yang kadang berdampak buruk terhadapmu). Teaki ero’ napakabeleng-beleng lino (jangan mau dikelabui kepentingan sesaat, dan dunia).
Mubarak menyimak sejenak. Berulang-ulang saling tatap, menunggu sesiapa di antara mereka hendak nyeletuk juga. Ibra seperti biasa, diam saja menikmati ponselnya. Lalu tawa kami pecah dan melanjutkan obrolan dilanjutkan, bahas apa saja.
Karib Dirhas menyusul tetiba pula kemudian hadir, menambah khasanah perjamuan yang di luar dugaan dan rencana. Begitulah adanya di antara kami sekian lama jeda menahan gejolak bertemu. Lalu bertemunya sungguh khidmat.
Dirhas menghela napas, lalu memesan kopi, Danu menyambutnya dengan pelukan rindu sekian lama tak bertemu. Danu kembali ke posisi duduknya dan menyulam sebuah kalimat tak terduga!
Suasana sepertinya tak baik-baik saja. Setelah pesta ada yang terpukau, ada yang gamang menentukan sikap. Bagai penantian panjang di ujung setapak tampak kericuhan. Debat sengit, seperti tawuran kata-kata saja, di medsos hingga rukun kampung, tetangga bahkan keluarga baku bombe-bombe (merajuk, bermusuhan) pada sebuah ranah di tahun yang sumpek di suguhi aroma politik, saling membusur dengan kata. Hem.
Bagai jalin asmara telah punah, ibarat cinta yang lama sekian lama bersemi telah sekarat. Hanya karena gagap, kalap menerjemahkan dan menempatkan sebuah diksi, terbawa sebuah alur dan eforia.
Begitulah asmara, di awal jumpa penuh kata manis, sangat romantis. Di ujung masa asmara itu menukik tajam menjadi amarah yang telah tertukar dan tertakar. Saya menukil kembali kalimat-kalimat dari seorang Kahlil Gibran:
Mengapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Ketika kita menangis?
Ketika kita membayangkan?
Itu karena hal terindah di dunia tak terlihat.
Ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita ikut merasakannya.
Dengannya dan jatuh ke dalam keanehan
serupa yang dinamakan cinta.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru.
Tetiba saya memecahkan sebuah cermin. Hanya karena saya belum bisa menuntaskan diri. Belum tunai mencari suaka cinta, dari sekian lama asmara yang sesungguhnya hanya gairah semata, lantas kemudian menyandera dan mendera.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply to Dion Syaif Saen Cancel reply