Antara Cinta dan Melekat

Saya pernah mendampingi seorang istri sekaligus ibu dari anak anaknya. Sebut saja Fulanah. Fulanah sudah beberapa tahun menjalani kehidupan yang sangat menderita.

Menurutnya,  penderitaan itu bermula ketika suami tercinta yang sekaligus ayah dari anak anaknya berpulang ke Rahmatullah. Setiap saat, ketika mengingat almarhum suaminya, Fulanah pun menangis dan sangat bersedih akan hal itu. Ketika saya tanya, kenapa seperti itu? Fulanah menjawab, “Sebab  saya sangat mencintai almarhum suamiku.”

Pada kesempatan yang lain,  saya pun dipertemukan dengan seorang ibu yang juga sangat menderita karena kehilangan sang buah hati, yaitu anaknya. Anaknya berpisah dengannya karena anaknya telah berpulang ke Rahmatullah.  Kejadiannya sudah beberapa tahun yang lalu, tapi sang Ibu masih  sangat bersedih dan sangat menderita. Ketika saya tanya, kenapa seperti itu? Menurut sang Ibu, karena ia sangat mencintai anaknya.

Masih sebagai terapis, saya pun pernah mendampingi seorang Ibu yang juga sangat sering bersedih, sangat menderita karena kehilangan suaminya. Sang suami meninggalkannya dan memilih wanita lain untuk kemudian menikahinya. Jadilah Ibu tersebut single parent, untuk  membesarkan anak anaknya. Ketika saya tanya , kenapa sangat bersedih dan menderita? Jawabnya, karena ia masih sangat mencintai mantan suaminya.

Saya pun pernah dipertemukan dengan seseorang yang selalu merasa bersedih, dan tentu saja menderita. Kesedihannya bermula dari ketika ia kehilangan salah satu barang kesukaanya. Ketika ia teringat dengan barang tersebut, ia pun bersedih dan sangat menyesali akan hal itu. Ketika saya tanya, kenapa bisa seperti itu? Jawabnya, karena ia sangat menyukai barang tersebut. Barang itu sangat berarti dalam kehidupannya.

Bahkan, saya pun pernah mendampingi seorang Ayah, yang kesehariaanya diliputi dengan kesedihan, karena harus berpisah dengan anaknya, karena sang anak pergi menuntut Ilmu ke luar negeri. Hal yang mirip dengan kenyataan, bahwa banyak  orang tua, yang juga bersedih, karena sang anak berpisah dengannya,  menuntut ilmu di pondok pesantren. Ketika ditanya,  kenapa seperti itu? Jawabnya, karena merasa sangat dekat dengan sang anak, dan semuanya dalam bingkai kecintaan.

Sahabat holistik, cerita di atas adalah merupakan contoh, begitu banyak orang yang bersedih, dan pada akhirnya menderita, karena kehilangan,  baik barang maupun orang. Baik sementara, maupun kehilangan permanen (meninggal).

Sekalipun beragam latar belakang kesedihannya, tapi semuanya bermuara pada penderitaan, dan katanya, semuanya,  karena cinta. Betulkah karena cinta? Betulkah mereka menderita karena cinta?

Sebelum menjawab, ada baiknya kita menengok sekilas tentang cinta. Cinta adalah sebuah kondisi yang lahir pada seseorang secara tulus, ikhlas, dan tanpa syarat. Karena cinta lahir dari ketulusan dan keihklasan, maka seharusnya cinta membuahkan kebahagiaan, bukan penderitaan.

Lalu apa yang terjadi dengan cerita cerita di atas? Yang mengatasnamakan cinta tapi membuahkan penderitaan? Sesungguhnya yang terjadi bukanlah CINTA, melainkan MELEKAT.

Kehilangan sesuatu atau seseorang dan membuat bersedih, yang berujung pada penderitaan, itu karena sesuatu atau seseorang tersebut sudah dan sangat melekat pada dirinya. Sehingga ketika kehilangan,  yang bersangkutan pun menderita.

Apakah salah jika bersedih karena kehilangan? Tentu saja tidak salah. Bahkan menjadi pertanyaan, ketika kehilangan kemudian tidak bersedih. Rasulullah saw. pun bersedih karena kehilangan sang istri tercinta. Kesedihan itu pun berulang ketika putranya berpulang ke Rahmatullah.

Namun, apakah Rasulullah saw. bersedih sepanjang hidupnya? Tentu saja tidak. Bukankah Islam melarang bersedih? Saya jadi teringat dengan judul buku, La Tahzan ( jangan bersedih ) karangan Aidh al Qarni, yang sempat sangat populer dan menjadi best seller.

Lalu gimana memosisikan kesedihan ini, sehingga tidak termasuk pada sesuatu yang terlarang? Jawabannya adalah sedih boleh, dan yang terlarang adalah ketika kesedihan itu berkepanjangan, sebab hal tersebut sudah merupakan gangguan dan akan mengakibatkan penyakit pada seseorang.

Berdasarkan penelitian, sedih berkepanjangan akan memengaruhi paru-paru, dan jikalau ini terus berlanjut, apalagi ketika ada perasaan bersalah dan tidak bisa berdamai dengan masa lalu, maka sangat bisa berujung pada penyakit  kanker.

Menyadari efek dari kesedihan tersebut, yang sesungguhnya bermula dari MELEKAT, maka saya mengajak semuanya untuk tidak melekat pada sesuatu dan seseorang. Yang seharusnya melekat pada diri kita, hanyalah Allah Swt. Dan Rasulullah saw. Bahwa kita akan sangat menderita, jikalau berpisah dengannya.

Kredit gambar: https://id.pngtree.com/


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *