Agar tidak ”Korslet” dengan Remaja, Lakukan 4 D

Hal yang paling dihindari setiap orang adalah bentrok atau berselisih paham dengan orang lain. Termasuk orangtua yang rawan mengalami miskomunikasi atau missunderstanding dengan anak remajanya. Sayangnya justru banyak yang terjebak dalam situasi seperti ini, dan harus mengalami kejadian-kejadian yang tidak mengenakkan di antara mereka.

Karena seringnya terjadi relasi orangtua-remaja yang bermasalah seperti ini, terbentuklah sebuah permakluman di kalangan awam dengan munculnya kalimat-kalimat seperti: remaja memang seperti itu. Bukan remaja jika tidak mngalami krisis. Masa remaja hanya sekali, jangan disia-siakan.

Masih banyak bentuk ungkapan permakluman lagi lainnya, seolah kehidupan remaja memang identik dengan kebrutalan, hura-hura, dan pemberontakan.            

Namun, saya pribadi sangat percaya, jika pada dasarnya remaja tidaklah identik dengan pernyataan-pernyataan di atas. Sebab di antara mereka yang dikesani negatif, masih banyak remaja yang tak kalah membanggakannya karena prestasi-prestasi yang berhasil diukirnya atau kreativitas-kreativitas yang telah mereka lakukan.

Seperti ulasan pada harian Tempo beberapa waktu lalu. Sekumpulan remaja dalam rangka memperingati Hari Remaja, yang menonton bareng sejumlah tayangan video yang menggambarkan beragam gaya kehidupan remaja era milenium ini.

Mulai kisah cinta remaja yang posesif, hingga cerita tentang budaya suap yang bahkan sudah menyerempet kehidupan mereka. Tujuannya, agar mereka bisa lebih sensitif merasakan kehidupan remaja lainnya yang berbeda dengan tempat tinggal mereka.       

Jika anak-anak remaja kita ternyata tertarik, untuk menjadi bagian dari komunitas-komunitas seperti di atas, maka sebagai orangtua kita sangat layak bersyukur.

Kita jadi terbantu dengan pengaruh-pengaruh positif yang bisa ia dapatkan dari lingkungan luarnya. Akan tetapi jika tidak, maka kita akan perlu berjuang membebaskan dia dari pengaruh-pengaruh lingkungan yang negatif.

Biasanya situasi ini akan menjadi lebih berat karena tekanan dari dua sumber. Pertama, dari sumber pergaulan yang negatif.

Kedua, berjuang menjalin komunikasi yang ramah dan bersahabat dengan mereka. Ini yang sulit, karena respons orangtua saat remaja mereka ketahuan bergaul dengan orang-orang yang “tidak beres”, biasanya justru tindakannya akan sangat reaktif dan emosional.            

Dulu sebagai orangtua yang belum mengenal dengan baik seluk-beluk dunia remaja, kami pun cenderung beraksi dan merespons permasalahan mereka dengan cara-cara yang umum dilakukan oleh orangtua kebanyakan.

Seperti: menasihati (tanpa diminta), mengkhotbahi, menguliahi, menggurui, mengritik, dll. Ternyata jadi orangtua selain terus belajar tentang dunia mereka—cukup praktikkan 4D.  Datang, Duduk, Dengar, dan Diam.

Datang. Dalam artian saat remaja mengalami masalah, hendaknya orangtua hadir di samping anak. Sehingga anak tidak merasa sendirian di tengah kekalutannya.

Duduk.  Setelah datang, orangtua hanya perlu duduk di sampingnya. Milikilah cukup waktu agar tampak tidak terburu-buru dan terkesan hanya mampir saja. Duduk bersebelahan atau berdampingan dengan seseorang bisa mengurangi sebagian dari kecemasannya.

Dengar. Beberapa saat setelah orangtua  duduk di sampingnya, biasanya si remaja akan mulai merasa aman untuk mulai berucap sesuatu. Orangtua tugasnya cukup mendengar saja. Lebih baik lagi jika mendengarnya disertai dengan bahasa tubuh (gestur), pertanda orangtua sedang menyimak pembicaraannya.

Diam. Setelah selesai mendengar cerita atau uneg-unegnya, orangtua sebaiknya diam saja. Tapi dengan tetap menunjukkan ekspresi yang menyimak dengan penuh perhatian disertai sikap tubuh yang tepat.            

Jika ternyata si anak ingin kita berbicara, biasanya dia akan bertanya lebih jauh, atau meminta pendapat orangtuanya. Namun, jika tidak, dengan langkah-langkah yang sudah ditempuh di atas, secara perlahan perasaannya akan membaik.

Malah solusi akan muncul justru dari idenya sendiri, setelah selesai mengungkapkan semua yang mengganjal pikirannya.            

Masih banyak cara yang dapat kita lakukan dalam usaha membantu permasalahannya dan mengakrabkan diri dengan mereka. Langkah-langkah di atas hanya sebagian kecil saja, tapi saya anggap mudah, sederhana, dan efektif.

Pada konteks ini, amat patut menimbang perkataan Imam Ali bin Abi Thalib, tentang bagaimana memperlakukan anak remaja. Nasihatnya, mengedepankan agar anak remaja diperlakukan sebagai sahabat oleh orang tuanya.

Lebih jauh Imam Ali menandaskan, tentang siklus 3 kali 7 tahapan kepengasuhan anak. 7 tahun pertama, 0-7 anak diperlakukan seperti raja. Berikutnya, 7-14 anak diasumsikan sebagai tawanan. Selanjutnya, 14-21 anak sudah menjadi sahabat orang tuanya. Tentunya, tahapan ini bisa diadaptasi sesuai kebutuhan.

Sebagai sahabat sang anak remaja, maka 4 D (Datang, Duduk, Dengar, dan Diam) merupakan proses yang dinamis dalam interaksi. Sikap 4 D akan memantik dialog, berdiskusi tentang tanggung jawab atas setiap pilihan dari tindakan. Mengedapankan rasa tanggung jawab sama saja telah memberi alas, untuk menjadi pribadi yang dapat dipercaya


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *