Nasib si Cat

Kawasan rumah ini jauh dari kata ramai. Bahkan ia tak pernah melihat kucing-kucing lain, selain dirinya sendiri. Itu pengamatannya sejauh ia berjalan. Kiri-kanan kawasan ini dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang tampak kosong terbengkalai, atau diisi oleh bangunan yang berisikan burung-burung yang sarangnya konon bisa bernilai jual tinggi.

Jarak antar rumah pun lumayan berjauhan. Ada pekarangan yang luas yang membatasi antar rumah. Rumah-rumah ini saling membatasi dengan tembok yang dihiasi dengan gulungan kawat yang tajam, dan ujung pagar yang runcing. Jika terkena matahari, kawat dan ujung pagar itu bisa memantulkan sinar. Si Cat jadi mengurungkan niatnya untuk berjalan di atas sana, dan memilih berjalan melewati tanah yang penuh dengan genangan air dan lumpur.

Di sini ia bertemu dengan ayam hitam. Makhluk berkaki dua yang menghasilkan banyak telur-telur terbaik. Ada pula makhluk berkaki empat yang memakai lonceng di lehernya, yakni sapi. Susunya sering diambil untuk dijual atau dikonsumsi oleh keluarga pemilik. Juga, babi yang dipelihara hingga gemuk dan cukup usia. Jika akan ada perayaan, satu dari golongannya akan diambil dan tidak dipulangkan lagi.

Saat si Cat bertanya di mana makhluk seperti dirinya? Sapi menjawab bahwa saking lamanya ia sudah tak ingat, berapa hari yang ia lalui tanpa melihat kucing seekor pun. Begitu juga dengan makhluk lainnya. Ayam menimpali, penduduk di sini hanya memelihara hewan peternak.

Selain itu, kalaupun ada yang datang, itu tidak akan lama. Mereka akan pergi sendiri atau memang dibawa pergi. Kucing terakhir yang ia temui bercerita, bahwa ia tidak cocok hidup berdampingan dengan penduduk setempat di daerah ini dan memilih pergi keesokan harinya. Kebetulan di hari itu — ia sudah memperhitungkan — akan datang sebuah kereta kuda mengangkat jerami dari kota seberang. Ia akan menyelinap di dalamnya. Ada pula kucing yang ia temui tidak bercerita apa-apa, tapi sudah tidak kelihatan lagi.

Si Cat manggut-manggut mendengarnya.

“Jika kauingin berteduh sekaligus beristirahat, ikutlah padaku. Di tempatku, kaubisa berbaring sepuasnya dan makan sepertiku,” tawar Sapi.

Betapa asyiknya! Pikir si Cat. Ia bisa mengistirahatkan badannya, dan mengisi perutnya.

Naas sesampainya di sana, ternyata tidak seperti apa yang diimpikan si Cat. Hari demi hari ia lalui dengan harapan akan mendapatkan makanan yang lain. “Mungkin sebentar lagi, mungkin besok”. Ia mencoba menghibur dirinya.

Namun makanan sapi tentulah berbeda dengan dirinya. Ia tidak makan rumput kering maupun jerami! Matanya sudah berkaca-kaca menahan lapar.

“Oh sampai kapan aku begini?” Ia mulai meracau. Terang saja kucing-kucing tidak ada yang bertahan lama di sini! Mengapa ia tidak menyadarinya? Ia mulai menangis.

Dari kejauhan tempat ia meratapi nasibnya, sebuah rumah dengan jendela tersingkap. Ia melihat seseorang yang mengasuh bayinya dengan penuh kasih. Ia mengambil kesimpulan bahwa keluarga itu pastilah memiliki hati yang hangat. Maka bergegaslah ia mendekat ke rumah itu.

Ia mulai mengintip.

Sungguhkah yang ia lihat ini?

Mungkinkah harapannya terkabulkan?

Ia melihat ada ikan terhidang di piring berukuran sedang terpampang nyata di atas meja makan. Betapa mujur nasibnya!

Apakah hidangan ini disediakan untuknya?

Ia bertanya-tanya dalam hati.

Dengan sabar ia menunggu si pemilik rumah selesai dari meja makan. Melihat sisa ikan yang satu ekor, ia meyakinkan dirinya bahwa ini untuknya. Sudah pasti pemilik rumah kenyang sebab meninggalkan meja.

Dengan tergesa-gesa akibat lapar hebat, ia menyambar ikan itu. Baru menggigitnya saja ia bisa merasakan betapa segar dan empuk dagingnya, sampai pupil matanya membesar. Segala kesedihannya kini sirna.

Sungguh mulia pemilik rumah ini!

Ketika ia menoleh ingin menyampaikan terima kasih. Tepat di sana ia melihat pemilik rumah sembari berdiri menggendong bayinya, mengeluarkan suara keras dan besar ke arahnya hingga nyaris meraung. Seraya mengancungkan tongkat tinggi-tinggi ke arahnya, dan menghentak-hentakkan kakinya.

Namun, ia tak paham maksud pemilik rumah itu. Yang pasti ia berharap yang terbaik untuk si pemilik rumah.

Kredit gambar: https://www.flickr.com/photos/mr_bones/505683955/in/photostream/


Comments

2 responses to “Nasib si Cat”

  1. Dion Syaif Saen Avatar
    Dion Syaif Saen

    Nasib sang Cat. Di tengah ambruknya empati.

  2. Wah bikin penasaran nih. 😁

Leave a Reply to Arus Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *