Setelah mempersiapkan diri pada tahapan awal suluk (perjalanan spiritual), yang meliputi pemenuhan enam syarat (iman, keteguhan, niat, shidq, inabah, dan ikhlas), yang masing-masing sudah dijelaskan secara singkat pada enam tulisan sebelumnya.

Selanjutnya, menurut Nashr al-Din al-Thusi, seorang salik (pejalan spiritual) akan menghadapi enam rintangan dan tantangan, yang akan menguji sejauh mana konsistensinya, dalam melakukan perjalanan menuju Tuhan.

Rintangan yang pertama adalah taubat. Kebanyakan sufi memasukkan taubat sebagai salah satu maqam (stasiun rohani) dalam perjalanan spiritual. Nashr al-Din al-Thusi memasukkan taubat, justru sebagai rintangan dan tantangan di pendakian curam pada jalan spiritual (sair wa suluk).

Taubat  berarti kembali atau menyesal, yaitu kembali dari kemaksiatan, menuju ketaatan kepada Allah dan menyesali semua perbuatan dosa yang telah dilakukan. Orang yang taubat disebut al-ta’ib.

Karenanya, seorang ta’ib adalah orang yang kembali dari sesuatu yang dilarang Allah, menuju apa yang diperintahkan-Nya. Orang yang kembali dari sesuatu yang dibenci Allah, menuju sesuatu yang diridai-Nya, atau orang yang kembali kepada Allah setelah berpisah, menuju taat kepada-Nya, setelah melakukan pelanggaran atau kedurhakaan (al-mukhalafat).

Taubat sebentuk kewajiban syariat bagi setiap muslim, sekaligus prasyarat untuk mendapatkan ampunan Allah, dari dosa-dosa yang telah dilakukan.

Dalam perspektif tasawuf, taubat serupa langkah awal yang penting dan harus ditempuh untuk menggapai rida Allah. Taubat tidak sekadar meninggalkan dosa, tapi upaya aktif membebaskan keterikatan hati dari selain Allah, kemudian bangkit menuju Allah, untuk memenuhi panggilan-Nya.

Orang-orang yang secara spiritual suci dan kuat, akan terus-menerus dalam keadaan penyesalan dan bertaubat. Bahkan Rasulullah saw, setiap hari bertaubat dengan mengucapkan istighfar minimal 70 kali sehari.

Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, lisan suci Rasulullah saw bersabda, “Sungguh, hal-hal ragawi telah membayangi hatiku, karenanya aku memohon ampun kepada Allah 70 kali setiap hari.”

Rasulullah meski maksum, dia adalah manusia biasa seperti kita, yang diuji dengan struggle, untuk mempertahankan kondisinya yang senantiasa dekat dengan Allah. Karena itulah, Rasulullah setiap hari bertaubat dengan memohon ampun kepada Allah.

Taubat digandengkan dengan kata nasuha (kesungguhan atau murni). Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Allah melalui QS. 66:8, yang memerintahkan orang beriman, untuk bertaubat dengan nasuha.

Hal inilah, kenapa taubat dipandang sebagai rintangan dan tantangan, bagi setiap  hamba yang hendak menempuh perjalanan spiritual menuju Tuhan. Karena taubat harus nasuha, menurut Murtadha Muthahhari, taubat bukan sekadar pernyataan belaka, taubat semacam revolusi internal dalam diri manusia.

Dengan demikian, taubat sejenis kesungguhan dalam komitmen mental dan spiritual, yang diwujudkan dalam konsistensi dalam tindakan, meninggalkan keburukan dan memperkuat ketaatan.

Taubat merupakan reaksi suci dan mulia dari rohani, untuk melawan nafsu hewani yang rendah. Menurut Ibnu ‘Arabi, taubat nasuha, bermaksud memperbaiki jiwa yang rusak, membetulkan yang salah, dan menutupi yang cacat.

 Taubat inilah yang disebut dengan taubat khālisah, yaitu murni dari ketercampuran dan ketercemaran, dari kecenderungan kepada hal–hal yang mengandung potensi, yang membuat seseorang berpaling dari Allah.

Taubat nasuha membuka tabir (hijab) antara hamba dengan Allah. Karenanya, menurut Ibnu ‘Arabi, seorang salik dapat “naik” menuju Allah (taraqqi). Taubat nasuha di tingkatan pesuluk, sejalan taubat menuju jalan yang lebih dekat kepada Allah, dengan taubat dari keberpalingan terhadap keinginan-keinginan lain selain tujuan karena cinta kepada Allah.

Olehnya, tersingkaplah tabir yang menjadi penghalang, maka Allah akan memberikan taufik, untuk selalu melakukan amal baik, sebagai pengganti kelalaian yang dilakukan sebelumnya.

Taubat nasuha mensyaratkan pengetahuan mengenai jenis-jenis perbuatan, yang mengantarkan pada kesempurnaan, serta perbuatan yang menjauhkannya, kesadaran tentang nilai-nilai yang terkandung dalam pencapaian kesempurnaan dan rida Allah, serta konsistensi dalam segenap keinginan dan tindakan.

Oleh karenanya taubat adalah struggle untuk manusia dapat “menuhan”, yang dalam konteks pendakian spiritual, bukanlah hal yang mudah dan terus-menerus dilakukan.

Imam Ali bin Abi Thalib menyebut enam persyaratan bagi taubat nasuha, yang terdiri dari dua sebagai landasan, dua sebagai kewajiban, dan dua sebagai kelengkapan.

Penyesalan akan perbuatan yang gelap di masa lalu dan janji untuk tidak mengulanginya, merupakan yang menjadi landasan. Hal yang menjadi kewajiban, berupa pembersihan diri dari pengaruh perbuatan gelap di masa lalu, serta pendisiplinan diri dalam ketatnya ketaatan, sebagaimana larutnya diri di masa lalu dalam kelalaian.

Dua hal yang menjadi kelengkapannya, mengingat daging yang tumbuhnya disertai kemurkaan Allah, kemudian melelehkannya dengan rasa sedih, sampai kulit menempel ke tulang, lalu tumbuh daging baru di antara keduanya.

Selanjutnya, membuat ragamu merasakan derita ketaatan, sebagaimana dahulu pernah membuatnya merasakan manisnya kelalaian.

Ibadah puasa sejatinya, treatment dari Allah kepada hamba-hambanya, untuk membiasakan diri dalam taubat kepada Allah.

Perintah menahan bukan sekadar memantangkan diri dari makan, minum, dan seks sepanjang siang dalam sebulan. Melainkan pada hakikatnya adalah menahan diri dari segala hal yang dapat melalaikan dari Allah.

Karena itulah dalam bulan ini, pembersihan diri dan pendisiplinan diri sangat ditekankan, utamanya dengan menjalankan perintah menahan.

Puasa sejatinya, upaya melelehkan dan meluruhkan berbagai dampak dari keharaman dan kelalaian, yang kerap dilakukan sebelumnya, yang telah menempel di dalam jasad.

Ibadah puasa yang dilengkapi dengan menjalankan ibadah-ibadah lainnya, selama satu bulan adalah bentuk taubat dalam pengertian, merasakan derita ketaatan sebagai pengganti sebelas bulan yang kita lalui dalam kelalaian.

Puasa dalam konteks inilah yang bermakna menahan untuk “menuhan”, sehingga menahun bersama Tuhan, dalam pengertian senantiasa dalam kondisi taubat, sebagai struggle meninggalkan keberpalingan dari Tuhan.

Kredit gambar: detikcom


Comments

One response to “Taubat”

  1. Darwis Sakkin T Avatar
    Darwis Sakkin T

    Semoga rangkaian tulisan ini dapat di satukan dlm sebuah buku.

Leave a Reply to Darwis Sakkin T Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *