Ayo Melaparkan Diri

Tulisan saya sebelumnya berjudul, “Penyakit Sejuta Umat”, terkait sebab dan terapinya, saya sudah mengulas bahwa bukan karena makanan dan minuman tertentu yang menaikkan asam lambung, melainkan karena stress dan kurang gerak.

Lalu bagaimana dengan lapar (telat makan), yang juga dianggap sebagai pemicu naiknya asam lambung? Lalu bagaimana dengan orang yang berpuasa? Bukan lagi terlambat makan, melainkan tidak makan dan minum sama sekali selama belasan jam hingga saat berbuka puasa tiba.

Ayo sahabat holistik, kita bahas mengenai lapar, yang selama ini cukup mengganggu dan mengusik kondisi psikis seseorang. Ternyata, berdasarkan penelitian,  lapar memiliki beberapa manfaat. Tidak percaya?

Beberapa manfaat lapar berdasarkan penelitian. Pertama, autofagi. Suatu proses daur ulang makanan dan minuman yang terjadi dalam tubuh kita. Idealnya, makanan dan minuman itu diproses berulang kali untuk memaksimalkan proses cerna, sehingga kandungan nutrisi bisa maksimal diserap oleh tubuh. Ibarat memeras kelapa parut, perasan pertama santannya masih kental dan dilanjutkan dengan perasan kedua dan seterusnya sampai encer.

Proses autofagi ini hanya bisa berlangsung dengan baik , ketika kita dalam keadaan lapar. Mengapa? Sebab, jikalau ada lagi makanan dan minuman yang masuk,  maka makanan dan minuman yang baru masuk itulah yang akan diproses lagi oleh tubuh kita.

Pasalnya, jikalau makanan menumpuk, sangat memungkinkan terjadi pembusukan dan akan muncul parasit dan bakteri jahat. Kondisi ini jika berlangsung dalam waktu yang lama, dianggap bisa memicu penyakit  kanker usus besar (kanker colon).

Kedua, lycosom. Salah satu sistem alami tubuh kita, terdapatnya semacam kantong bunuh diri yang akan terus mencari sel sel rusak dan kemudian memangsanya. Sistem ini oleh ahli disebut dengan lycosom. Proses ini hanya bisa terjadi saat seseorang dalam kondisi lapar. Sel sel rusak ini harus dimusnahkan,  sebab bila dibiarkan,  maka akan mengganggu sel sel yang baik dan juga akan merusak sistem pencernaan.

Ketiga, detoksifikasi. Sebentuk proses pengeluaran racun dari dalam tubuh. Detoksifikasi ada yang bersifat alami dan juga ada yang direkayasa. Yang direkayasa seperti mengkonsumsi makanan dan minuman tertentu, berolah raga dan yang lainnya. Sementara yang alami bisa berlangsung saat tidur lelap antara jam 11 malam sampai jam 3 dini hari.

Lalu, saat lapar. Proses detoksifikasi akan berlangsung secara alami dan ditandai saat perut berbunyi, yang biasa diistilahkan dengan perut keroncongan.  Jadi, sahabat holistik tidak perlu takut, panik,  khawatir ataupun cemas di saat lapar dan perut keroncongan, sebab itu pertanda baik bagi kesehatan tubuh.

Keempat, enzim. Betapa banyak orang yang menghabiskan dana agar tetap awet muda. Mengonsumsi dan menggunakan produk mahal  agar tampak glowing, lebih menarik dan awet muda. Apakah sudah terbukti? Kalau belum, ini ada sistem menjadi awet muda yang mudah, murah bahkan nol rupiah, yaitu sistem lapar.

Berdasarkan penelitian,  saat seseorang lapar atau bahkan melaparkan diri, tubuh akan memproduksi secara alami enzim awet muda. Hal ini bisa sahabat holistik  lihat dan bandingkan,  untuk orang yang seusia, antara yang sering lapar (termasuk karena  berpuasa) dan yang sering kekenyangan, yang makannya tiada henti,  pasti, yang sering lapar akan nampak lebih awet muda, dibandingkan yang sering kekenyangan.

Sungguh luar biasa, manfaatnya lapar. Karena itu, ayo melaparkan diri.

Membaca dan mencermati manfaat lapar di atas, masihkah sahabat holistik akan takut dan cemas, ketika terlambat makan yang akan memberikan sensasi lapar?

Saya sebagai praktisi kesehatan holistik sudah membuktikan,  baik pengalaman pribadi, maupun pasien saya, yang sudah disembuhkan oleh Allah Swt dari maag,  gerd, gastritis dan sinusitis, bahwa sebetulnya, yang menaikkan  asam lambung bukan karena lapar atau terlambat makan, melainkan karena respon negatif atas kondisi lapar/terlambat makan. Apalagi, manakala sangat reaktif menyikapi dan merespon kondisi lapar itu

Apa bukti dari respon negatif saat lapar?  Ketika orang tersebut, baik menyatakan maupun hanya di pikirannya terdapat kalimat, “Waduh.. bahaya ini kalau  telat makan, matemija belum memang pa’ makan, bagaimana mi ini? Na belum memang pi ki makan, perut sudah keroncongan, bisa-bisa naik asam lambungku, kambuh maagku,”  maka orang tersebut sudah merespon negatif. Bahkan reaktif, sehingga berujung pada khawatir dan cemas, bisa jadi cemas berlebihan.

Sebetulnya, tubuh kita secara alami akan beradaptasi dengan rasa lapar setelah 30 menit. Namun, karena kita panik, reaktif, berpikir bahaya, khawatir, cemas dan semacamnya, maka sistem alami tersebut terganggu dan tidak berfungsi.

Sahabat holistik  bisa bereksperimen, ketika lapar tetap menjaga dan mengendalikan pikiran dan perasaannya,  tetap tenang dan rileks sambil senyum senyum, maka rasa lapar tersebut akan dilewati dengan baik . Hal ini bisa kita rasakan saat berpuasa. Rasa lapar akan hilang setelah beberapa saat mengalami masa kritis. Kondisi ini biasanya berhubungan dengan jadwal kebiasaan makan. Sebab, lambung akan mengirimkan pesan ke otak bahwa saatnya sudah harus diisi.

Eh iya, kenapa orang berpuasa tidak mengalami kenaikan asam lambung? Karena saat berpuasa, sugestinya adalah kebaikan, jauh dari bahaya dan pahala mengalir, bahkan juga terkait dengan kesehatan.

Lalu kenapa kita tidak menggunakan sugesti kebaikan dan ada  manfaat  lapar, ketika terlambat makan? Sangat bisa bukan? Hasil penelitian menyatakan, seseorang baru bisa meninggal dunia setelah tidak makan sama sekali selama 30 hari.

Jadi, segera tinggalkan kekhawatiran,  kepanikan dan kecemasan bahwa akan segera meninggal hanya karena terlambat makan beberapa saat saja. Juga secara normatif, tidak mungkin puasa yang di dalamnya ada kondisi lapar, disyariatkan bahkan diberi keutamaan, jikalau terlambat makan dan  lapar itu berbahaya. Bahkan berpuasa ditemukan pada hampir semua agama.

Kondisi lapar, dapat menghadirkan kepekaan sosial, sekaligus menumbuhkan rasa syukur setiap saat. Mengapa? Karena kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sebagian orang yang belum seberuntung kita. Bahwa ada banyak orang yang bukan saja lapar karena terlambat makan, tetapi memang tidak makan karena belum ada yang tersedia untuk dimakan, bahkan belum ada gambaran tentang yang mau dimakan.

Karena itu sahabat holistia, mari mengganti sugesti kita dari yang negatif menjadi yang positif. Dari yang reaktif menjadi responsif. Dari berpikir bahaya menuju berpikir anugerah. Bukankah semuanya hanyalah kondisi saja yang bersifat netral. Dan cara pandanglah yang akan membuat kondisi yang netral tersebut menjadi masalah atau justru anugerah, termasuk lapar.

Selama ini kondisi lapar sangat sering direspon negatif, sehingga wajar jikalau menjadi masalah dalam bentuk naiknya asam lambung.

Saatnya move on. Mari tinggalkan pola lama dan pikiran lama. Tinggalkan berpikir bahaya menuju berpikir anugerah. Bahwa sesungguhnya,  lapar bukanlah masalah, juga bukan bahaya, melainkan anugerah. Karena terdapat empat manfaat dari lapar tersebut.

Lalu, bagaimana jikalau pikiran negatif tentang lapar kembali muncul? Terapinya adalah segera blokir dengan istigfar, agar pikiran negatif terkendali dan tidak menguat lagi. Setelah itu tersenyum, dan kalau perlu senyumi perutnya, katakan bahwa anugerah itu telah datang dalam bentuk lapar.

Sebagai catatan penting, bahwa setelah mengalami lapar dan sudah saatnya makan, makanlah secukupnya, tidak berlebihan dan kendalikan nafsu makannya dengan istigfar dan senyuman.

Kredit gambar: Bobo.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *