14 Tahun Melata, tapi Nirlatah

Layar datar ponselku mendedahkan baris-baris kalimat, “14 tahun sudah, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan hadir di Bantaeng. Sebuah komunitas yang fokus berkecimpung di dunia literasi. Kehadirannya, telah menjadi pewarna dalam menumbuhkan giat literasi di Kabupaten Bantaeng. Lebih umum, dalam mengakselerasi Sumber Daya Manusia di Kabupaten Bantaeng.

Untuk sebagian orang, komunitas ini tidak terlalu familiar dan menggoda. Sebab, gerakannya adalah gerakan ‘sunyi’.

Ibarat bangunan, komunitas ini bukanlah batu-bata, semen atau pasir yang terlihat menjulang tinggi, yang tampak oleh mata.

Namun, bangunan itu hanya dapat berdiri kokoh, jika sebelumnya ada sentuhan air di dalamnya. Lalu, air itu tak tampak lagi, saat bangunan itu berdiri tegak.

Kurang lebih, peran inilah yang diambil oleh komunitas literasi, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, selama 14 tahun kehadirannya di Bantaeng.

Memang tak sefamiliar dan sepopuler seperti lembaga lain. Sebab, gerakannya tidak tampak oleh ‘mata kasar’. Tidak menyasar ‘fisik’. Gerakannya adalah gerakan ‘nirfisik’, menyasar alam batin dan pikiran warga Bantaeng.”

Sederet paragraf di atas, merupakan catatan apresiatif dari Hamzar Hamna, mantan Ketua KPU Bantaeng, 2018-2023. Ia unggah di akun facebooknya, per 1 Maret 2024, serupa refleksi atas 14 tahun hadirnya Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, sebagai komunitas literasi di Bantaeng.

***

Tak ketinggalan sang kepala suku komunitas Boetta Ilmoe, sekaligus penanggung jawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng, melayangkan surat reflektif, bernuansa prosa liris,  bertajuk, “Menempuh dan Ditempah”.

“Adalah kau, Boetta Ilmoe, menaungi kami, ketika aku hampir tersesat, seorang  mengusap-usapku, mengajakku singgah sejenak berlindung dari kelanaku yang hampir tak tahu arah jam dinding.

Di ruang tengah, seabrek buku menggiurkan, aku menahan syahwat dan rasa dahagaku selama ini. Di rak-rak itu judul buku tercetak di sampul dengan anggun menggodaku. Tetapi kuurungkan, ada nada sendu, dalam lara beku pencarianku ketika itu.

Di sana ada telaga, dengan bejana yang terhampar luas bagai sabana. Hingga tibalah aku diberi pelana, agar tahu bagaimana menunggang dan menanggung hidup tanpa literatur, yang akan membuatku tersesat dan tersungkur, dari jamur-jamur yang tumbuh di luar sana, tanpa kuketahui beracun atau tidak. 

Bukan perkara mudah, tidak juga cukup sukar. Meski pada saat itu ada nanar dan binar. Kami tetap tegar. Ibaratnya pagiku yang tertumbuk mimpi buruk. Hingga siuman. Tetiba aku di tengah peradaban yang meratap.

Tentang kedermaan yang disulap atau instan. Namun, ada cinta, mengenali diri, mengenal semesta alam. Mengajariku bersembahyang atas jiwa batin. Bukan kenyang dan sekadar bersenang-senang.

Di sana ada ranah, ada kecuping manusia yang baru tumbuh seputik. Lalu ia mengarungi lautan keilmuan. Bukan ujuk-ujuk hadir begitu saja, lantas mereka memetik sesukanya.

Ruang beralas terpal yang juga sebagian sobek. Tidak urung mengasuh dan saling mengasah. Lalu seorang anak berseragam duduk bagai tafakur. Hendak berkata sesuatu, ‘Ini tempat apa?’ Lirih dengan suaranya yang pelan, sepertinya hendak mengadukan sesuatu.

Ia dan kami semua kemudian saling melengkapi, seperti rusuk Adam dicipta Hawa. Mengunggah dan menggugah dunia pada saat mereka memicing saja. Lewat begitu saja dengan pongah. 

Hari ini, telah sampai di sebuah gerbang, tiada letih pada tatih kakinya yang menyusuri rimpung dan geladak jiwa manusia.  Aku hendak bernostalgia. Saat kami menamai lelaki asuhan rembulan. Atau saat bincang di ruang tengah dipenuhi buku-buku bergizi. 

Saat di mana hari ini aku mulai beranjak dewasa, tahu merasa, merias diri bagai abege baru melek dan jatuh cinta.  Emm. Rasanya ingin mengulang walau itu tidak akan mengembali momen kita saat itu.  Saat di mana penyusup masuk sambil berbisik ketakutan di telpon, agar aku segera bergegas dan jangan lupa. Panggil teman-teman. Hahaha. Jujur mengingat ini ada rindu menggugatku.

Kini saat perhelatan itu cukup kuat bersakala tujuh koma sekian-sekian. Potensi tsunami literasi menghiasi segala sisi.”

***

Ucapan selamat bermilad lainnya, silih berganti tayang di media daring, lewat beragam akun medsos. Asal unggahan itu, datang dari berbagai kalangan. Baik yang pernah bersentuhan maupun tidak dengan Boetta Ilmoe. Pastinya, warga komunitas beriang gembira menyambutnya.

Boetta Ilmoe didirikan pada 1 Maret 2010. Bagaimana lahir dan tiba di usia ke-13, telah direkam dalam satu buku berjudul, Gemuruh Literasi, anggitan Sulhan Yusuf. Buku itu sendiri diterbitkan dalam rangka memperingati milad ke-13 Boetta Ilmoe.

Lalu, milad kali ini apa penandanya? Hanya letupan sederhana bernuansa literasi. Sebentuk launching dan bedah buku, Merakit Literasi Politik dan Politik Literasi, karangan Sri Rahmi. Pada 2 Maret 2024, pukul 16.00-18.00, bertempat di Hotel Ahriani Bantaeng. Buku Sri Rahmi ini, juga terbitan Boetta Ilmoe, dikerjasamakan ke penerbit Liblitera Makassar, sebagai mitra penerbitan puluhan buku sebelumnya.

Meskipun secara samar-samar telah terdedahkan perjalanan Boetta Ilmoe di Gemuruh Literasi, tapi selalu saja ada yang bertanya. Apa yang menjadi kekuatan utama sehingga bisa eksis hingga kini, di usia 14 tahun?

Baiklah, selaku CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, kutabalkan rahasia itu dan mungkin patut diumumkan, agar menjadi rahasia umum. Hanya satu kata, berupa mantra, tapi bertuah: altruisme. Ya, altruisme adalah koentji.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *