Ilmu Bayi

Tersebutlah seorang penganjur kebaikan. Tepatnya, sosok pendakwah. Popularitasnya cukup mentereng di kalangan sesama dai. Terlebih lagi di mata para jemaah. Namun, ia sering merasa gelisah, untuk tidak mengatakan ada rasa takut menghidunya.

Sang pendakwah merasa dirinya sering terancam. Mungkin  karena karakternya, lebih dominan sebagai pendakwa. Ia telah bermetamorfosis, dari seorang pendakwah menjadi pendakwa. Lebih mirip seorang hakim, tinimbang penasehat kebenaran.

Tak segan ia mendakwa jemaah sebagai orang tersesat. Bahkan, saking militannya dalam mendakwa, ia kerapkali menyatakan dari atas mimbar, bila ada yang tersinggung atas dakwaannya sebagai pendakwah, maka silakan tunggu di luar masjid.

Memang, hingga kini belum ada jemaah yang berani meladeni tantangannya. Maklum saja, bagi jemaah, dia dianggap sebagai representasi ayat-ayat Tuhan. Akibatnya, ia mulai gelisah sendiri, sebab sikap militannya menjelma menjadi hantu yang menakutinya. Ia mulai menghadapi dirinya sendiri.

Setiap kali turun dari mimbar, selalu lahir satu hantu yang menakutinya, sebentuk rasa takut. Saking seringnya naik turun mimbar dan masuk keluar mengisi majelis dakwah, hantu-hantu bersatu menyatu menyerupai jemaah. Ketakutan mulai menerungkunya, seolah jiwanya selalu terancam.

Pikirannya mulai kalut. Sekali waktu, ia bertemu dengan seorang yang dia anggap punya kelebihan khusus dalam ilmu kanuragan. Maka ia pun bertanya, bagaimana caranya bisa mempunyai ilmu kanuragan itu? Ke mana ia bisa menuntut ilmu semacam itu?

Ditunjukkanlah alamat seorang kiyai kampung. Sang kiyai tidak terkenal. Penampilannya seperti orang kebanyakan, tapi bagi orang tertentu, sesungguhnya ia adalah real kiyai.

Sang kiyai kampung, jarang sekali naik mimbar. Sesekali saja memberikan pengajian di majelis terbatas. Aktivitasnya lebih banyak dihabiskan untuk menyelesaikan perkara-perkara warga. Mulai dari urusan perjodohan, minta nama bayi, pengobatan, songko bala, dan aneka ritus keagamaan ala warga kebanyakan.

Seabrek aktivitas itu tidak dijadikan sebagai profesi, melainkan jalan dakwah seorang hamba dalam menjalani hidup sederhana. Profesinya, menjadi seorang petani yang lahannya tak seberapa luas. Menurut sang kiyai, pekerjaan paling bersih, halal, dan berkah: bertani.

Tugas seorang petani, hanya menanam, lalu memanen. Kalakian, menjualnya ke pedagang atau konsumen secara langsung. Nyaris tak punya peluang curang dalam bertransaksi. Nilai panennya saja, mulai dari timbangan hingga harga, ditentukan oleh pedagang. Bermula dari pedagang, biasanya mata rantai kecurangan menyata.

Kepada sang kiyai kampung, sang pendakwa meminta ilmu kanuragan, semacam baca-baca, mantra-mantra atau doa-doa penjinak jemaah. Termasuk jemaah hantu yang menghantuinya, agar mereka takluk, tak berdaya ketika ia mendakwanya sebagai makhluk Tuhan yang tersesat.

Sang kiyai kampung hanya mendengarkan saja permintaannya, secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lalu berkata, “Belum saatnya ilmu kanuragan penjinak jemaah itu saya berikan. Silakan datang lagi di masa datang.”

Kecewalah sang pendakwah, eh pendakwa. Untung saja ia mampu menahan diri, untuk tidak mendakwa sang kiyai kampung sebagai kiyai pelit ilmu.

Satu dasawarsa lewat. Sang pendakwa merasa dirinya, mungkin sudah memenuhi syarat, guna menerima ilmu kanuragan. Apatah lagi, hantu-hantu tak kuasa lagi dia perkirakan jumlahnya. Hampir setiap ruang, serasa ada hantunya.

Namun, apa lacur. Cilaka tiga belas menyata. Sang kiyai kampung telah wafat.

Sang pendakwa tak putus asa. Ia yakin, bahwa ilmu kanuragan sang kiyai kampung, pasti menurun pada putra-putranya. Paling tidak, ada satu orang yang mewarisinya.

Ditemuinya beberapa putra sang kiyai kampung, tapi sudah tiga putra dari tujuh putra kiyai disuai, tak ada satu pun mengaku mewarisi ilmu orangtuanya. Bahkan, ada satu orang putra kiyai kampung, menyarankan agar tak usah memburu ilmu kanuragan itu. Sebab, ilmu itu kurang elok dipakai memenuhi hajat hidup yang lebih layak.

Sang pendakwa tak putus asa. Masih berharap salah seorang dari empat putra yang tersisa. Tiada rencana, putra kelima sang kiyai dijumpai. Pertanyaan dan permintaan sama saja, seperti permohonan pada tiga putra kiyai sebelumnya.

Jawabannya sama saja. Cuman putra yang satu ini, memberikan gambaran lebih jelas, mengapa ilmu kanuragan itu tidak diwariskan kepadanya dan sanak saudaranya.

Dengan tenang sang putra kelima menerangkan. Sang pendakwa khusyuk mendengarkan. Ilmu kanuragan itu, punya resiko duniawi yang berat untuk dijalani. Pertama, siap hidup sederhana. Kesederhanaan lebih dekat pada kebenaran. Sederhana dalam sekotah bidang kehayatan.

Kedua, selalu merasa cukup. Kesyukuran merupakan pucuk hidup dan kehidupan. Patenkan kebutuhan hidup apa adanya. Bukan keinginan hayat yang tiada bertepi.

Ketiga, amat berbahaya, sebab bisa menjadi jembatan emas pada kekufuran. Bawaan ilmu ini, bobotnya merepresentasikan sifat-sifat Tuhan yang berwajah Mahakuasa. Sehingga, mau tidak mau, seorang yang mengamalkannya, melapikkan diri pada sifat Tuhan yang lain: Maharahman.

Keempat, hidup mesti seperti bayi. Kebutuhan bayi amat sedikit, tapi spiritualitasnya sangat tinggi. Makanya, setiap bayi adalah makhluk spiritual: suci. Hebatnya lagi, semua orang dewasa pasti takluk pada si bayi. Bila ingin mendapatkan aura spiritualitas  kesucian bayi, berupa kebahagiaan, maka menyesuaikan dirilah pada si bayi.

Jadi, inti dari ilmu kanuragan ini, seperti ilmunya sang bayi. Tiada orang dewasa normal, benci pada bayi. Bayi akan selalu dikasihi dan disayangi, serta dipenuhi kebutuhannya. Tak satu pun orang dewasa takut pada bayi. Tak perlu seseorang itu ditakuti. Akan lebih baik jika dicintai.

Hening menyata sejenak. Menjeda wejangan. Sang pendakwa menatap dalam kedalaman batin sang putra kelima kiyai. Ia melihat sosok seperti bayi yang bertutur.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *