Pancaindra tak ubahnya amunisi sensorik, bergejolak dalam wilayah empiris, mencapai tujuan menyingkap anomali-anomali oleh arogansi bergentayangan di tanah yang sempurna. Mengandalkan semata-mata roh semesta hanya membuat terasing dalam hakikat sendiri. Dibutuhkan suatu mekanisme pemikiran analitik untuk menunjang argumentasi kuat, menciptakan pola pemikiran dan determinasi yang akan menjadi sekuat baja untuk bertindak, inilah yang paling ditakuti oleh para hipokrit.
Pembela-pembela bangsa sejati “bukanlah golongan penjilat”, seruannya tanpa pamrih, ia tidak akan pernah mengubur buah pikiran kritis, tidak akan tenang menyimpan apa yang perlu disingkap sebagai realisasi dialektika untuk perubahan dan kemajuan bersama. Kotradiksi-kontradiksi yang ada niscaya akan menghasilkan perkembangan progresif apabila kesadaran akan humanitarian dilihat sebagai titik tolak kompromi yang mesti diwujudkan bersama. Yang ada hanya mengedepankan egoisme, enggan sama sekali melihat apa yang terjadi di bawahnya.
Karena itu kebenaran harus menjadi pengetahuan umum. Sampai kapan kita akan terus-menerus tunduk pada kezaliman? Kejahatan tidak boleh dilanggengkan. Adalah bahwa kondisi sudah semakin sekarat dan amat mengkhawatirkan, maka dari itu suara-suara lantang ini harus dilemparkan sajauh mungkin.
Suatu kesyukuran karena dilebihkan tanah yang terhampar sedemikian luas, semua ada kita miliki, bahkan “tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman”. Ini adalah surga manusia, dianugerahkan bumi paripurna sebagai suatu kelebihan yang tidak semua bangsa di dunia memiliki. Segala kehendak prioritas penunjang terbebas dari sengsara dunia. Di sini tempat merealisasikan hakikat sebagai manusia karena segalanya telah tersaji. Tidak perlu ke mana-mana, sayangnya penguasa yang tak hangat teramat loba dan tamak.
Bangsa mana pun mesti mendambakan kemakmuran hakiki. Terwujudnya cita-cita luhur kemerdakaan sepatutnya jadi angin segar bagi suatu bangsa, namun tampaknya kemerdekaan yang diimpikan itu semakin semu adanya. Karena itu mereka bertanya, apa kita sudah benar-benar merdeka? Memang terasa aneh dan hambar, nampak seperti ada yang tidak beres, ternyata dibalik itu ada pamrih segelintir orang.
Ciri bangsa yang mulia memiliki dorongan cita-cita moral demi kemaslahatan umat manusia. Otoritas tanpa moralitas hanya akan menghasilkan kerusakan domestik, ketidakpedulian, dan ketidakadilan terhadap rakyat sendiri. Dengan keindahan dan segala apa yang dimiliki tanah ini, alih-alih melindungi untuk kepentingan bersama, semakin tamak mengeksploitasi tanpa berbelas kasih.
Perlu diketahui bahwa kebobrokan moral penguasa bukan merupakan soal baru. Sejak zaman feodalisme praktik korup sudah menjadi musuh bagi rakyat, tabiat buruk yang turun temurun diwariskan hingga mendarah daging. Layaknya faktor DNA jahat yang tertanam pada diri mereka sehingga sulit memanusiakan manusia, apatis terhadap kondisi rakyat kecil, menutup mata dan telinga.
Peristiwa masa lalu memperlihatkan kepada tiap generasi tindak tanduk manusia dalam mempertahankan kekuasaan dalam bidang ekonomi dan politik. Sejarah hendak dijadikan titik tolak aposteriori konklusi serta argumentasi sebagai suatu jalan memecah situasi kekalutan siapa penjajah sesungguhnya?
Sejarah ratusan tahun lalu adalah sejarah kelam. Memperlihatkan siapa aktor-aktor yang mengontrol pelbagai aspek utama kehidupan masyarakat. Eksistensi feodalisme dengan norma dan nilai-nilai feodal hanya merupakan selubung ideologis atas eksploitasi rakyat kelas bawah. Ditambah imperialisme dan kolonialisme bangsa asing dengan sistemnya yang mencekik, membuat warga masyarakat semakin melarat.
Hubungan kerja sama bangsa asing dengan kaum feodal pun tidak menjadi nilai lebih bagi masyarakat pekerja pribumi. Segala narasi tentang penindasan kerja paksa atau rodi, bukan bahwa perusahaan asing tidak membayar upah pekerja, malah pejabat setempat yang mengorup upah mereka, alih-alih sebagai pengayom, menindas rakyatnya sendiri.
Setali tiga uang, pada masa kekuasaan Orde Baru hingga kini: neoliberalisme, privatisasi, dan deregulasi investasi, adalah alat penghancur internal negeri, yang sekaligus menjadi biang kerok rusaknya alam serta lingkungan dan krisis sosial.
Di lain pihak bahwa kendati memiliki stigma kolonial terhadap bangsa asing, namun dalam keberadaannya selama ratusan tahun, berkontribusi membangun pendidikan masyarakat; infrastrukur yang kokoh; alam maupun lungkungan tetap indah dan terawat; sungai-sungai masih jernih; sumber air bersih melimpah; gunung-gunung masih utuh masih dengan fungsi krusialnya.
Sedangkan puluhan tahun yang mereka anggap kemerdekaan, dipatahkan oleh bukti sejarah ratusan tahun lalu. Terlihat baru puluhan tahun, dalam penguasaan oleh orang sendiri, cukup tragis, fakta dewasa ini membuka mata kebrutalan akan ketamakan neokolonialisme: mutu infrastruktur yang mereka bangun mudah rusak; diikuti alam dan lingkungan yang sudah tidak indah lagi; sumber air bersih dan laut terus tercemar limbah dan sedimen lumpur; gunung-gunung dan hutan sudah tidak utuh lagi; akbitanya rentan terjadi bencana alam, semakin menipis bahkan sampai hilang penopang hidup yang membuat masyarakat lokal menderita.
Walhasil yang ada hanyalah paradoks kemerdekaan. Konsepsi emansipasi yang akan menjadi utopia belaka. Embel-embel semboyan dan pesta kemerdekaan hanya sebagai sarana pemanis dan pelipur lara, menutupi realitas sebaliknya, hal mana hakikat kemerdekaan itu semakin abstrak, sebatas simbol semata, bukan sebuah tanggung jawab moral yang mesti diaktualisasikan demi terwujud kemakmuran dan kesejahteraan di tengah masyarakat.
Lantaran habits jahat yang sudah mendarah daging. Penggerusan dan eksploitasi kekayaan alam secara masif yang hasil serta manfaatnya tidak begitu signifikan dirasakan oleh rakyat, korupsi di pelbagai sektor secara konstan semakin tak terbendung, penindasan, merampas hak dan hasil keringat orang banyak, semakin memarginalkan, menciptakan ketimpangan mencolok, dan membuatnya sulit keluar dari kemiskinan.
Itulah gambaran serta dampak dari budaya korup yang sudah berakar, menjadi makanan sehari-hari para penghianat bangsa, dinormalisasi layaknya bukan sebuah kezaliman.

Salah satu penulis dalam buku antologi Bantaeng: Satu Negeri Seribu Cerita (2025).


Leave a Reply