Beberapa waktu terakhir, ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memenuhi ruang-ruang pemberitaan. Konflik politik, ancaman militer, hingga retorika keras dari para pemimpin dunia berulang kali menjadi tajuk utama media.
Bagi sebagian masyarakat awam, situasi ini sering menimbulkan kebingungan. Narasi yang beredar tidak jarang dibungkus propaganda, emosi, bahkan sentimen keagamaan yang tajam.
Di tengah arus informasi itu, satu kalimat sering terdengar begitu mudah diucapkan: “Syiah itu sesat. Syiah bukan Islam.”
Kalimat tersebut beredar luas, di mimbar, di media sosial, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Namun sebelum kita menelannya bulat-bulat, barangkali ada satu pertanyaan sederhana yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri: Apakah kita benar-benar memahami sejarah Iran dan lahirnya Syiah di sana?
Persia: Peradaban Tua Sebelum Iran
Iran, yang dahulu dikenal sebagai Persia, bukanlah negeri tanpa akar sejarah. Jauh sebelum dunia modern terbentuk, wilayah ini telah menjadi pusat peradaban besar.
Di tanah Persia lahir para penyair besar, filsuf, ilmuwan, dan pedagang yang menghubungkan berbagai wilayah dunia. Jalur perdagangan, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tradisi sastra berkembang pesat di kawasan ini.
Tokoh-tokoh seperti Avicenna dalam filsafat dan kedokteran, serta Omar Khayyam dalam sastra dan matematika, lahir dari rahim peradaban Persia yang kaya.
Ketika Islam menyebar ke wilayah Persia pada abad ke-7, masyarakat Persia tidak serta-merta kehilangan identitasnya. Sebaliknya, mereka menjadi bagian baru dari dunia Islam yang luas.
Selama berabad-abad, sebagian besar penduduk Persia bahkan menganut mazhab Sunni, sama seperti mayoritas umat Islam di wilayah lain pada masa itu.
Titik Balik: Revolusi yang Mengubah Iran (1979)
Tahun 1979 adalah salah satu titik balik paling dramatis dalam sejarah modern Iran. Tahun itu menandai runtuhnya kekuasaan monarki yang dipimpin oleh Mohammad Reza Pahlavi dan lahirnya sebuah negara baru: Republik Islam di bawah kepemimpinan Ruhollah Khomeini.
Sebelum revolusi, Iran berada dalam cengkeraman kekuasaan Shah yang sangat dekat dengan Barat, terutama Amerika Serikat. Modernisasi besar-besaran dilakukan melalui program yang dikenal sebagai Revolusi Putih. Kota-kota tumbuh cepat, industri berkembang, dan gaya hidup Barat mulai merasuk ke berbagai lapisan masyarakat.
Namun di balik modernisasi itu, tumbuh pula ketimpangan sosial yang tajam. Kekayaan terkonsentrasi pada elit, sementara sebagian besar rakyat merasakan tekanan ekonomi dan kehilangan ruang politik. Pemerintahan Shah juga dikenal represif, terutama melalui polisi rahasia yang ditakuti, SAVAK.
Kemarahan publik perlahan mengendap seperti bara dalam sekam.
Pada akhir 1970-an, protes mulai meledak di berbagai kota. Demonstrasi, pemogokan, dan gerakan massa muncul dari berbagai lapisan masyarakat: mahasiswa, ulama, pekerja, hingga kelompok nasionalis. Di tengah gelombang itu, suara oposisi dari pengasingan semakin menggema melalui sosok Ayatullah Khomeini, yang menyerukan perlawanan terhadap kediktatoran dan dominasi asing.
Peristiwa-peristiwa tragis mempercepat runtuhnya rezim. Demonstrasi besar di kota suci Qom, kebakaran bioskop di Abadan yang memicu kemarahan publik, hingga penembakan massal demonstran pada peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Black Friday (1978 Iran protests), membuat legitimasi kekuasaan Shah semakin runtuh.
Pada Januari 1979, Shah akhirnya meninggalkan Iran menuju pengasingan. Beberapa minggu kemudian, pada 1 Februari 1979, jutaan orang menyambut kepulangan Khomeini dari pengasingan. Tidak lama setelah itu, militer menyatakan netralitasnya, dan pada 11 Februari 1979 rezim monarki runtuh sepenuhnya.
Dari puing-puing kekuasaan lama, lahirlah sebuah negara baru: Republik Islam Iran, dengan sistem politik yang menempatkan ulama sebagai otoritas tertinggi melalui konsep Wilayat al-Faqih.
Revolusi ini tidak hanya mengubah Iran. Ia juga mengguncang peta politik dunia. Hubungan Iran dengan Barat memburuk tajam, sementara gagasan revolusi Islam menyebar sebagai inspirasi bagi berbagai gerakan politik di dunia Muslim.
Sejarah kadang bergerak dengan cara yang tak terduga. Di sebuah negeri yang begitu lama berada di bawah bayang-bayang kekuatan global, sebuah revolusi justru lahir dari jalan-jalan yang dipenuhi rakyat biasa—dari kemarahan, harapan, dan keyakinan bahwa sebuah bangsa bisa menentukan nasibnya sendiri.
Dan sejak saat itu, tahun 1979 tidak lagi sekadar angka dalam kalender sejarah. Ia menjadi luka, kebanggaan, sekaligus titik mula bagi babak baru perjalanan Iran.
Narasi yang Sering Kita Dengar
Namun persoalan menjadi rumit ketika kita melihat sejarah ini hanya dari satu sudut pandang.
Di masyarakat, Syiah sering dikenal melalui beberapa gambaran yang berulang kali disebutkan: Syiah dianggap membenci sahabat Nabi,
Syiah dipercaya hanya mengakui dua belas imam, Syiah dikenal sujud di atas batu, dan Syiah sering diasosiasikan dengan ritual peringatan tragis pada 10 Muharram
Sebagian orang bahkan menuduh bahwa Syiah menyembah Ali ibn Abi Talib dan menjadikannya nabi.
Namun pertanyaannya adalah: apakah semua gambaran itu benar-benar mencerminkan keyakinan mereka secara utuh?
Perspektif dari Dalam Tradisi Syiah
Dalam beberapa pernyataan resmi, misalnya, pemimpin Iran saat ini, Ali Khamenei, berulang kali menegaskan bahwa menghina sahabat Nabi maupun istri-istri Nabi tidak diperbolehkan.
Ia bahkan mengeluarkan fatwa yang melarang penghinaan terhadap tokoh-tokoh yang dihormati oleh Sunni.
Bagi banyak ulama Syiah kontemporer, persatuan antara Sunni dan Syiah justru dianggap sangat penting. Konflik sektarian dipandang hanya akan melemahkan umat Islam secara keseluruhan.
Sayangnya, pernyataan semacam ini sering tenggelam di tengah kebisingan propaganda politik dan konflik geopolitik.
Dari Mana Istilah Syiah Berasal?
Jika kita mencoba melihat dari sudut pandang mereka sendiri, istilah Syiah sebenarnya berasal dari kata Shi’atu Ali, yang berarti kelompok atau pengikut Ali.
Istilah ini merujuk pada sekelompok umat Islam awal yang meyakini bahwa setelah wafatnya Nabi Muhammad, kepemimpinan umat seharusnya berada pada Ali ibn Abi Talib, sepupu sekaligus menantu Nabi.
Bagi mereka, persoalan kepemimpinan itu bukan sekadar urusan politik. Di dalamnya terdapat dimensi spiritual yang diyakini memiliki hubungan khusus dengan keluarga Nabi.
Karena itu, mereka percaya bahwa garis kepemimpinan umat seharusnya diteruskan oleh para imam dari keturunan beliau.
Dalam tradisi Syiah terbesar, yaitu Syiah Dua Belas Imam, diyakini ada dua belas imam yang menjadi penerus spiritual umat setelah Nabi.
Imam terakhir diyakini berada dalam keadaan ghaib—tidak tampak di dunia—dan suatu saat akan kembali sebagai pembawa keadilan.
Perbedaan dengan Tradisi Sunni
Di sinilah salah satu perbedaan utama dengan tradisi Sunni mulai terlihat.
Dalam pandangan Sunni, kepemimpinan setelah Nabi ditentukan melalui musyawarah para sahabat. Dari proses inilah lahir sistem kekhalifahan yang dimulai dari Abu Bakr sebagai khalifah pertama.
Sementara bagi Syiah, kepemimpinan diyakini memiliki garis spiritual tertentu melalui keluarga Nabi. Jika dilihat dari jarak sejarah, perbedaan ini pada awalnya adalah perbedaan dalam menafsirkan peristiwa sejarah, bukan perbedaan dalam rukun iman atau rukun Islam.
Pada titik yang paling mendasar, baik Sunni maupun Syiah tetap berbagi keyakinan yang sama:
membaca Al-Qur’an yang sama, mengakui Muhammad sebagai nabi terakhir, dan
menjalankan ibadah seperti: shalat, puasa, zakat, dan haji.
Tragedi Karbala: Luka yang Membentuk Identitas
Salah satu peristiwa yang sangat penting dalam tradisi Syiah adalah tragedi Battle of Karbala.
Pada tahun 680 M, Husayn ibn Ali—cucu Nabi Muhammad—terbunuh bersama para pengikutnya dalam sebuah peristiwa tragis di Karbala.
Bagi penganut Syiah, tragedi ini bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah simbol pengorbanan, ketidakadilan, dan keberanian melawan kekuasaan yang dianggap zalim.
Karena itu setiap tahun pada tanggal 10 Muharram, tragedi tersebut diperingati sebagai bagian dari ingatan kolektif mereka.
Bagi sebagian orang luar, ritual peringatan ini mungkin terlihat dramatis atau bahkan sulit dipahami. Namun bagi mereka yang menjalaninya, ia adalah cara untuk menjaga ingatan terhadap sebuah tragedi yang membentuk identitas spiritual mereka.
Belajar Melihat Sejarah dengan Lebih Jernih
Di titik inilah kita mulai menyadari bahwa apa yang sering disebut sebagai “penyimpangan” kadang sebenarnya hanyalah perbedaan dalam tradisi, pengalaman sejarah, dan cara memaknai masa lalu.
Seperti semua tradisi besar dalam agama, dunia Syiah sendiri tidaklah tunggal. Di dalamnya terdapat berbagai kelompok, pemikiran, dan perdebatan internal. Hal yang sama juga berlaku dalam dunia Sunni.
Masalah sering muncul ketika keragaman sejarah yang begitu luas itu disederhanakan menjadi satu kalimat pendek: “Mereka sesat.”
Kalimat semacam itu mungkin mudah diucapkan. Namun ia sering kali menutup pintu bagi usaha untuk memahami kenyataan yang jauh lebih kompleks.
Pada akhirnya, memahami Syiah tidak berarti harus menjadi Syiah. Begitu pula memahami Sunni tidak berarti menolak keberadaan kelompok lain.
Memahami sejarah hanyalah usaha untuk melihat dunia dengan lebih jernih—membaca kembali jejak-jejak masa lalu tanpa tergesa-gesa menjatuhkan vonis.
Sebab sering kali konflik besar dalam sejarah manusia bukan lahir dari perbedaan itu sendiri, melainkan dari ketidaksediaan kita untuk memahami perbedaan tersebut.
Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin cepat memberi label dan hukuman, belajar membaca sejarah dengan lebih sabar adalah salah satu bentuk kedewasaan intelektual yang paling sunyi—namun juga paling penting.

Lahir di Jeneponto 1994. Seorang ibu dari do’a bernama Divyannisa Isvara Gauri, sekaligus seorang fisioterapis yang aktif melayani masyarakat, terkait dengan Rehabilitasi dan Edukasi Ergonomi. Ia menempuh pendidikan di Poltekkes Kemenkes Makassar (D3 Fisioterapi) dan melanjutkan ke jenjang S1 di Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Bagi Wahdat, dunia kesehatan bukan sekadar profesi, tapi ruang pengabdian yang ia jalani dengan hati. Di sela-sela pekerjaannya, ia merawat dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta, dua peran yang saling menyempurnakan. Kini, bermukim di Bantaeng bersama keluarga kecilnya.


Leave a Reply