Memimpin Nirjabatan

“Menjadi pemimpin nirjabatan adalah suatu keniscayaan. Pasalnya, jabatan membatasi waktu dan wilayah kepemimpinan.” (Tajali Daeng Litere, 20042025)

Satuan ujar Daeng Litere tersebut, menyingkap lapisan makna, kerap terlewatkan. Ia tidak menafikan jabatan, tiada pula menegasikan struktur. Perhatiannya diarahkan ke hakikat kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan tak sepenuhnya bertumpu di kursi, melainkan daya pengaruh, bekerja melampaui penetapan formal.

Jabatan selalu hadir bersama batas. Ia mengada awal dan akhir, menyata wilayah kerja, serta menampak garis kewenangan. Sekotahnya diperlukan demi keteraturan. Namun, kepemimpinan sejati bergerak di ruang lebih luas. Ia hidup dalam keteladanan, tumbuh lewat kepercayaan, dan berakar pada makna bersama. Di ranah ini, waktu tidak direken melalui masa tugas, sementara pengaruh tak terbui oleh tata administrasi.

Ungkapan tersebut mengingatkan ihwal kepemimpinan selaku buah laku, bukan hasil penunjukan. Seseorang bisa menduduki jabatan tinggi, tetapi gagal memimpin. Sebaliknya, sosok niratribut formal justru menjadi rujukan. Perbedaan itu lahir dari kualitas batin, memancar dalam tindakan sehari-hari—cara mendengar, menimbang, dan bertindak saat tiada sorot.

Memimpin lepas dari jabatan, berarti bersedia memikul tanggung jawab nirklaim. Ia bekerja tiada menagih pengakuan, bergerak tak menunggu mandat. Kepemimpinan semacam ini tumbuh dari konsistensi kepedulian serta kesediaan hadir kala dibutuhkan, seraya menghindari sorot berlebih. Pengaruh dibangun perlahan—nyana tampak kecil—tetapi mengendap kuat.

Dalam banyak situasi, kehadiran semacam ini bekerja senyap. Ia tidak tercatat dalam notula rapat, tiada pula terarsip dalam laporan kinerja. Namun, orang mengingatnya saat perkara buntu menemukan jalan, atau ketika ketegangan mereda tanpa suara tinggi. Pengaruh demikian tidak diwariskan melalui jabatan, melainkan melalui ingatan bersama—yang kelak menjadi rujukan, bahkan ketika sosoknya telah mengabadi di keabadian.

Jabatan, dengan segala kelebihannya, kerap melahirkan ilusi kepemimpinan. Kewenangan disalahpahami sebagai pengaruh, posisi diasumsikan setara dengan keteladanan. Selama masa tugas berjalan, kepatuhan mungkin terjaga. Namun, ketika jabatan usai, sering tampak pergeseran: yang semula patuh tak lagi mendengar. Di lapik inilah beda antara ditaati dan didengarkan menjadi terang.

Kalakian, pengaruh sejati tumbuh dari kepercayaan. Lalu, kepercayaan tidak ditetapkan melalui surat keputusan; ia lahir dari relasi teruji waktu. Karena itu, kepemimpinan bersandar semata pada struktur mudah tergerus, sementara kepemimpinan berakar dalam integritas memiliki daya tahan lebih panjang—hidup dalam ingatan kolektif serta warisan nilai.

Penabalan Daeng Litere juga menyinggung keterbatasan wilayah kepemimpinan formal. Jabatan bekerja efektif dalam ruang tertentu, sedangkan kehidupan bergerak jauh melampaui itu. Di luar kantor, forum resmi, maupun jam kerja, kepemimpinan tetap dibutuhkan. Pada ruang-ruang tersebut, yang berbicara bukan struktur, melainkan sikap serta kehadiran.

Pemimpin nirjabatan kerap hadir dalam bentuk sederhana. Ia menjelma pendengar jujur, penenang saat konflik mengeras, atau penggerak diam-diam memastikan pekerjaan rampung. Tiada simbol dan panggung. Waima, jejaknya terasa dalam keteraturan nan terjaga, serta iklim saling percaya bakal tumbuh.

Terdapat kebebasan dalam memimpin nirjabatan: bebas dari beban pencitraan dan tuntutan simbolik. Ruang ini memungkinkan kejujuran lebih utuh. Seseorang dapat bersikap tegas tanpa dicurigai bermotif politis, memberi nasihat tak dieja sebagai instruksi. Pengaruh bekerja melalui ketulusan, bukan tekanan.

Namun, kebebasan itu menuntut kedewasaan. Tanpa pelindung struktur, pemimpin nirjabatan hanya bertumpu pada kualitas diri. Ketika kualitas tersebut goyah, pengaruh pun surut. Karena itu, kepemimpinan semacam ini sulit dipalsukan. Ia diuji setiap hari melalui konsistensi laku, termasuk pada perkara remeh dan nisbi.

Ungkapan ini menjadi peringatan bagi mereka yang tengah menjabat. Jabatan sekadar medium kepemimpinan, tiada jaminan. Kala masa tugas berakhir, tersisa reputasi laku: jejak yang dirindukan atau kekosongan nisbi, lekas dilupakan.

Memimpin lepas sandaran jabatan, juga bermaksud bersedia berada di barisan, tidak selalu di depan. Kadangkala memimpin bermakna memberi ruang agar orang lain bertumbuh. Terkadang pula pengaruh paling efektif bekerja dari balik layar. Kepemimpinan semacam ini tidak bising, tetapi dampaknya luas.

Tutur Daeng Litere menegaskan, kepemimpinan sebagai tanggung jawab eksistensial. Ia melekat pada keberadaan manusia dalam relasi sosial. Selama hidup dijalani bersama orang lain, kepemimpinan akan selalu hadir dalam beragam rupa. Jabatan sekadar salah satu wadahnya, bukan sumbernya.

Dus, keniscayaan memimpin nirjabatan menjadi ajakan menata ulang orientasi. Yang perlu dibangun bukan semata karier struktural, melainkan karakter layak dipercaya. Dari pondasi inilah kepemimpinan menemukan keluasannya, melampaui waktu serta wilayah.

Pasalnya, kepemimpinan justru diuji tatkala jabatan selesai. Bila tetap hidup walau lepas dari sandaran formal, berarti kepemimpinan tersebut memang sejati—berakar pada diri, bukan kursi.


Comments

6 responses to “Memimpin Nirjabatan”

  1. Irfan tawakkal Avatar
    Irfan tawakkal

    Keren kak.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Tengkiyu bingits atas apresiasinya.

  2. Panjang umur sehat selalu kak Sul…
    Jabatan tidak harus membuat kita menjadi yang paling di depan dan terdepan, tetapi penjabat mesti membuka ruang dan peluang sehingga berkembang dan bertumbuh orang yang disekitar kita… Ini makna yang paling saya rasakan dari tulisan. Terima kasih banyak kak.

    1. Sulhan Yusuf Avatar
      Sulhan Yusuf

      Sami-sami. Subhanallah wal hamdulillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *