Yuval Noah Harari: Sejarah adalah tentang bagaimana homo sapiens mendominasi dunia berkat kemampuan unik mereka untuk bekerja sama secara fleksibel dalam jumlah besar, yang dimungkinkan oleh kapasitas mereka untuk percaya pada kisah-kisah fiksi atau “mitos” kolektif. Dikutip dari sebuah laman, dengan halaman tepat pada pencarian referensi narasi ini.
Tentang apa sejarah itu?
Bagi Harari, sejarah bukanlah sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa, melainkan narasi tentang bagaimana manusia, melalui “Revolusi Kognitif”.
Sejarah, atau apalah namanya, mengembangkan kemampuan untuk menciptakan dan memercayai seperti mitos bersama—sebagaimana periode, agama, uang, negara, dan hukum.
Selanjutnya, dia menambatkan kembali, sebentuk keyakinan kolektif pada fiksi-fiksi memungkinkan kerja sama massal yang fleksibel.
Desau angin dari Babangeng ke hamparan bebukitan Pa’bumbungang, merambat pelan di antara desain kopi Bonto Jonga , sepoi, begitu menyejukkan, menuju Mappilawing.
Konon Mappilawing, katanya dari “lawi-lawi”. Benarkah? Emm. Itu butuh penelusuran fakta dan referensi kuat, dari pencerita, akademisi, antropolog, maupun arkeolog. Tidak harus juga menafikan mitologi yang bisa menjadi rujukan, asal bukan teori cocoklogi.
Angin sejarah, walau sebagian telah terjarah oleh sebagian manusia, tanpa bertanggung jawab. kemudian mendesak kami berburu, tapi bukan budele. Ada rasa penasaran dan kemisterian sosok bernama Pama’. Membawa banyak kisah yang tak pernah terkuak dan hanya sepalung kisah kami bawa pulang.
Di antara kabut pagi dan desir angin, nama Pama’ dulu hanya disebut lirih, seperti doa yang tak kunjung selesai.
Dia bukanlah seorang berjuluk sok bangsawan, juga bukan seorang prajurit, atau kesaktian. Hanya kebetulan saja, memiliki perkebunan kopi yang luas sebagai satu-satunya tanda yang membuatnya berbeda di mata kolonial yang kemudian tertangkal di pangkal sejarahnya, dipangkas tiada berbekas.
Justru dia menebar benih kehidupan untuk sanak keluarganya, secara artefak membuktikan dia pada trahnya, yang sebagian orang tidak tahu.
Pembuka narasi seorang Puspita nan lirih, menembus batas dan jejak sejarah yang sekadar dituturkan, pada helai-helai jiwa seorang cicit hendak menyuguhkan bagaimana kabut sejarah itu diterangkan. Bukan atas nama pemenang serta pencerita saja.
1901 sumber oleh tetua, bahwa Pama’ pada tahun itu menjabat sebagai Jannang Mappilawing dan tahun itu merupakan penghujung dari jabatannya. Bahkan dikisahkan, konon karena enggan membayar upeti, Pama’ lebih memilih membeli sejumlah bidang tanah untuk rakyatnya.
Sekali lagi untuk rakyatnya. Bukan untuk Keturunannya lalu kemudian di jadikan budele. Meskipun beberapa tahun kemudian pembelian sejumlah bidang tanah-tanah tersebut berakhir diputihkan. Tampak goresan sejarah ditorehkan dengan luka yang terasa oleh Puspita.
Sebuah hamparan tanah bernama “tamanga“. Sebagai tempat pammeccokang kopi (pelepasan kulit ari), memiliki pabrik kopi, yang konon katanya dibeli dari Tun Van bello yang hingga sekarang tersisa serpihan artefaknya.
Hidupnya bergulir antara matahari, kopi, dan doa dari Masyarakatnya.
Kr. Sitti sebagai isteri pertamanya yang melahirkan 15 orang anak dengan kejayaannya mengoleksi beberapa keramik dan beberapa gallang (furnitur dari tembaga) yang dibawa oleh pedagang kuar ke Bantaeng.
Konon Kr. Sitti merupakan putri dari Jannang Moro (pasangan Daeng Mangayao ri boko dengan Tunisayanga ri Suppa).
Tahun-tahun berikutnya berjalan pelan. Di bawah langit Pa’bumbungan yang berkabut, Kr.Sitti meninggal nyaris bertepatan dengan tibanya Masa Panyingkiran.
Puspita melanjutkan bagaimana Pama bin Madunda menemukan sesuatu yang mungkin ia sebut “rumah baru”. Ia menyingkir ke Pakkatimorang. Sementara anak-anak dan cucunya tersebar ke beberapa wilayah, seperti Jumada dan Baharu ke perkotaan, Kasia, Siteng, Kasau dan yang lainnya memilih untuk tetap di wilayah Pa’bumbungan, Tindangkeke, dan Eremerasa.
Berselang waktu kemudian Pama sepeninggal istrinya Kr Sitti, Pama dirundung kesedihan, dan dalam suasana batin dan jiwanya, dia menemukan pendamping untuk menemaninya hingga akhir hayat, tidak harus larut terlalu lama, dalam kesedihan dan kedukaan.
Seorang perempuan bernama Kati, dia menikahinya kemudian. Dari pernikahan itu keduanya tidak di karuniai anak.
Sungguh, tahun yang hilang, disertai catatan dan hamparan sejarah seakan dicabut dari sebuah peran sejarah itu sendiri, yang kadang simpang dan siur, ditutur dan dilisankan, bahkan minim catatan tentang seorang bernama Pama’ bin Ma’dunda bin Serang. Konon nama Serang titisan bernama Bonto Lempangang.
Darah Pa’ bumbungan itu menetes dari tanah jauh, dituturkan bahwa Madunda, ayahanda dari Pama’ merupakan orang Maiwa, bercampur dengan sejarah panjang orang-orang Bantaeng.
Maiwa dan Pa’bumbungan Bantaeng di sanalah bermukim, sepertinya itu senyap. sengaja dihilang, atau entah sisi lain seorang Pama’ memang tiada hendak dikenal bahkan dikenang? Miris bagi kami, seiring peran cicitnya menelan secara pahit, bersama kiprah serta kisahnya.
Tidak harus berhenti menyusur, di tengah kabut zaman dan sejarah, memisahkan sisi lain sebuah hal yang bisa menjadi jejak awal, mengapa harus memilih Pa’bumbungang, yang memang sudah “appoko” bermukim awal sebagai penghuni pertama di sebuah bebukitan dengan perpaduan unsur pengetahuan di masanya. Itu seakan berujung tanpa catatan, tiada lagi dikenang.
Namun kisah manusia tak selalu berhenti di arsip, tegas Puspita melanjutkan narasi hasil penyusurannya. Di tahun 2019 hingga 2024 ketika para cicitnya penasaran dengan “Pamali membawa kampu secara turun temurun di rumpunnya”. Pesona rasa Keingintahuan yang tinggi cicit-cicitnya bersatu mulai menelusuri jejak nasab dan sejarah tutur mengenai Pama’ bin Madunda, hingga 3 orang cicit dari 2 pinangkanya Pama’ menemukan sesuatu yang menggetarkan hati.
Di antara rimba digital dunia modern, Puspita merasakan sesuatu yang harus segera ditelusuri, mulai dari saya sendiri ditambah kehadiran seorang yang juga trahnya kuat dan literasinya mumpuni, tidak harus terjebak pada mitos-mitos dan dongeng saja. Di sanalah kolaborasi cicit dr. Ryan dan Puspita menemukan di mana Pama’ Bin madunda adalah seorang jannang di salah satu ada’ sampulo anrua di Butta Toa/Bantaeng.
Walau salah satu keturunan belum bisa menjawab secara utuh, atau seakan menutupi saat mencoba memantik nama ini, di sela pertemuan dan bincang kami.
Benarkah adalah Pama’ salah satu di antaranya yang pernah berperan dalam pelantikan seorang karaeng atau Raja di Bantaeng? sebagaimana ada perjanjian di antara keduanya (antara karaeng dan jannang): Bassungi/sorokau i tujuh pinangka na jannanga punna na cinik naungi karaenga, kamma todo karaenga, bassungi/sorokau i tujuh pinangka na karaenga punna na cinik naungi jannanga. Dengan nada penuh getir seorang Puspita menegaskan tentang buyutnya.
Maka dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa keturunan jannang bukanlah karaeng tapi bukan juga ata/suro. Ada sambung trah dengan menyatukan darah trah dari jannang satu dengan lainnya. Seperti pada rumpun Pa’bumbungan pun menyebar dengan tali pernikahan antara keturunan jannang yang satu dengan jannang yang lainnya.
Antara keturunan jannang yang satu dengan puang guru atau orang orang yang berpengaruh di wilayah Bantaeng pada masanya, hingga ketika beberapa jalur mencari nasabnya maka akan ketemu nasab Rumpun Pa’bumbungan, atau kata “Maiwa” di satu titik.
Itulah alasan kenapa disebut sebagai tau appokoka ri Bantaeng.
Di balik nama Pama’ mengalir darah yang pernah menyeberangi dinamika Kehidupan pemerintahan sebelum masuk ke pemerintahan republik.
Terterah pada garis wajah keturunannya, lekuk rahangnya, sorot matanya yang tajam, tapi teduh. Bukankah ia sangat mirip dengan kakek buyutnya?
Seakan waktu menyalin wajah itu melintasi 5 hingga 6 generasi,
Meninggalkan tanda bahwa sejarah tak pernah benar-benar pergi. Sambil menahan air matanya seorang cicit Puspita menaruh harapan, pada hamparan sejarah yang sesungguhnya.
Dia melanjutkan. Mungkin mereka tak pernah mendengar tentang Pa’bumbungan, tak tahu letak bakung-bakung di peta, atau aroma kopi khas Pa’bumbungan. Namun, setiap kali mereka menulis nama keluarga mereka Pama’ bin Madunda, sejarah itu bergetar sekali lagi.
Saya terdiam khidmat, betapa setapak langkah. Kita mengarungi rimba jiwa manusia yang hampir dilupakan. Hanya selepas cerita di selasar semua usai.
Menemui kembali laman itu. Harari menempatkan bagaimana sejarah terjadi?
Harari menjelaskan sejarah melalui beberapa proses utama: Kerja sama berbasis fiksi, ketika manusia purba dapat bekerja sama dalam kelompok kecil, tetapi untuk membentuk masyarakat yang kompleks (seperti kerajaan atau perusahaan modern), mereka membutuhkan mitos bersama.
Munurutnya mitos ini bukan kebohongan, melainkan konstruksi sosial yang disetujui bersama, yang mengikat jutaan orang asing. Ditambah lagi evolusi budaya tambah secara biologis.
Sementara biologi manusia berevolusi sangat lambat, di sisi lain sejarah manusia bergerak cepat melalui perubahan budaya. Kemampuan untuk mengubah perilaku dan struktur sosial tanpa perubahan genetik inilah yang menjadi mesin penggerak sejarah.
Bagi saya, sebagaimana literatur, antara tutur dan mitologi. Menemukan tabiat baru menerjemahkan secara bijak bagaimana sejarah itu berfikir, mengalir, mendesir bahkan dengan mangkir sekalian. Ini cukup getir.
Di sudut laman, saya tertumbuk, lesuh seketika, di tepi telaga pengetahuan, begitu sangat banyak endapan, serapan bahkan kebohongan, tentang bagaimana sejarah terlalu sarat dengan gimik, sebagai trik atau alat untuk menarik perhatian atau mengelabui, sering dipakai dan digunakan akhir ini, dunia nyata, bahkan di dunia hiburan dan pemasaran.
Dikatakan sejarah oleh Harari, mengajarkan satu hal penting, yaitu bahwa memahami sejarah adalah cara terbaik untuk mengerti masa depan. Sebab tanpa pengetahuan tentang dari mana kita berasal, kita akan mudah tersesat ketika menghadapi apa yang akan datang.
Selaksa peristiwa, menukik tajam sampai pada titik untuk kamu dipaksa secara mental untuk menyudahi perburuan. Ini menjadi tantangan tersendiri, sampai pada detak dan detik waktu tertentu. Tanpa kami duga, periodik dan analisa sejarah kami, seakan menambah nama-nama baru yang memiliki keterkaitan dengan Pama’ bin Ma’dunda bin Serang serta beberapa bin yang tidak harus kami sebutkan.
1901 rangkaian peristiwa tentangnya seakan dipoles dalam radar politis secara tidak langsung. Hingga kemunculan nama baru bernama “Guru Tinggi Daeng Massese”. Hanya sebagian pula dari keluarga tahu kisah nama tersebut. Dan tentunya akan kami bahas pada narasi selanjutnya, pada episode nama di era seorang Pama’ pada tahun 1901 sebuah periode yang dianggap sepele.
Padahal banyak hal yang menjadi sketsa peradaban pada rumpun sekian lama mendiami sebuah pemukiman bernama Pa’bumbungang.

Pegiat Seni Budaya Bantaeng. Koordinator Komplen Bantaeng. Penanggungjawab Teras Baca Lembang-Lembang Bantaeng. Telah menerbitkan buku, Narasi Cinta dan Kemanusiaan (2012).


Leave a Reply