Safar Hayat dari Selesai ke Selesai

“Sungguh, safar hayat hanyalah dari selesai ke selesai.”
(Tajali Daeng Litere, 26072023)

Deretan kata itu terkesan amat sederhana, tetapi menyimpan kedalaman, pelan-pelan mengendap. Ia tidak membicarakan tujuan besar, juga tak mengagungkan capaian. Yang dihadirkan justru kata selesai, sebuah penanda, waima kerap diabaikan dalam kebudayaan serba mulai dan menuju. Di ucapan Daeng Litere, hidup didaras sebagai perjalanan penuntasan, bukan perlombaan pencapaian.

“Safar” mengalamatkan gerak sadar. Ia berbeda dari sekadar berjalan; safar mengandaikan kesiapan batin dan kesediaan meninggalkan satu keadaan menuju keadaan lain. Sementara “hayat” mengikat safar itu pada keseluruhan hidup, bukan hanya fase tertentu. Maka, perjalanan yang dimaksud bukan sekadar perpindahan peran, jabatan, atau usia, melainkan gerak eksistensial manusia dari satu simpul makna ke simpul berikutnya.

Menariknya, safar ini tidak diarahkan pada tujuan tertentu, melainkan pada selesai. Kata ini menandai kemampuan menutup dengan utuh. Selesai berarti berani berhenti, merapikan, lalu melepaskan. Dalam banyak perkara, justru di titik inilah manusia kerap tergelincir: tergesa membuka yang baru tanpa benar-benar menuntaskan yang lama. Akibatnya, hidup dipenuhi jejak setengah jadi, beban-beban nisbi yang terus diseret tanpa disadari.

Ungkapan tersebut menggeser orientasi hidup dari ambisi menuju kesadaran. Bukan lagi pertanyaan “apa berikutnya”, melainkan “apakah yang sebelumnya telah rampung”. Selesai, dalam pengertian ini, memuat tanggung jawab batin. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui apa yang telah dijalani—baik keberhasilan maupun kegagalan—tanpa perlu disangkal atau dipoles agar tampak elok.

Safar hayat yang diimajinasikan Daeng Litere bergerak pelan, tetapi pasti. Setiap selesai menjadi jeda, bukan akhir mutlak. Terdapat ruang buat bernapas, menimbang, lalu melangkah kembali. Hidup tidak dipaksa berlari; ia dibiarkan berjalan dalam iramanya sendiri. Ritme semacam ini, kian jarang ditemui dalam kehidupan modern,  karena gemar memadatkan segalanya ke dalam target dan tenggat.

Kalimat itu juga mengandung laku etis. Menyelesaikan berarti menghormati proses. Sebuah tugas, relasi, atau fase hidup ditutup dengan kesadaran, bukan ditinggalkan begitu saja. Dalam selesai yang demikian, seseorang belajar bertanggung jawab atas jejaknya. Ia tidak sekadar pergi, tetapi pamit secara batin—kepada pekerjaan, kepada orang lain, dan kepada dirinya sendiri.

Di poin ini, hidup seakan sedang merawi dirinya sendiri: menuturkan pengalaman tanpa dramatisasi, menyusun makna tanpa perlu gemuruh. Yang disimpan bukan cerita heroik, melainkan kebeningan setelah tuntas. Safar hayat menjadi kisah yang dibisikkan, bukan diumumkan; sebuah perjalanan sunyi, lebih setia pada keutuhan daripada sorak.

Selesai juga menuntut penerimaan. Tidak semua perjalanan berakhir sesuai rencana. Ada fase ditutup tanpa jawaban lengkap, tampak relasi berakhir sebagai luka telah mengering. Namun, selesai tetap selesai saat seseorang berhenti melawan kenyataan, lalu memilih berdamai. Di situlah laku menjadi matang.

Dalam lanskap ini, hidup terasa lebih ringan. Beban kerap lahir bukan dari banyaknya jalan untuk ditempuh, melainkan dari perkara-perkara menggantung. Dengan menuntaskan, manusia mengurangi beban batin; langkah pun lepas dari masa lalu yang belum rampung, dari janji tak sempat diselesaikan.

Penabalan Daeng Litere juga menyiratkan kebijaksanaan tentang waktu. Hidup tidak diukur oleh panjangnya perjalanan, melainkan oleh kejernihan tiap penutupan. Selesai bukan perkara cepat atau lambat, tetapi soal tepat. Kala sesuatu ditutup pada waktunya, safar berikutnya menemukan pijakan lebih kukuh.

Pucuknya, safar hayat dari selesai ke selesai, sebentuk ajakan untuk hidup dengan kesadaran penuh. Tidak tergesa membuka lembar baru, sebelum lembar lama ditutup dengan jujur. Tiada pula terperangkap dalam nostalgia nan enggan dilepas. Hidup dijalani sebagai rangkaian penuntasan yang tenang, satu demi satu.

Dus, di setiap selesai yang disadari, manusia pulang sejenak ke sari dirinya. Dari lapik itu, langkah berikutnya berangkat dengan lebih bening, tanpa gemuruh dan tiada beban berlebih. Safar pun berlanjut, sederhana namun utuh, dari satu selesai menuju selesai yang lain.



Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *