Saya menulis esai ini dengan perasaan yang sulit saya gambarkan. Ada semacam getaran halus di dalam diri saya, seperti campuran antara kekaguman dan kegelisahan yang tidak mudah dijernihkan.
Tahun ini, tepatnya Kamis 20 November kemarin, ketika dunia merayakan Hari Filsafat Sedunia 2025, saya ingin turut merayakan dengan cara yang paling dekat dengan diri saya yaitu menulis. Merenungkan ulang hubungan kita dengan dunia yang berubah terlalu cepat dan menata kembali alasan mengapa filsafat tetap menjadi cahaya yang tidak padam, bahkan di tengah kecerdasan buatan yang semakin merambah ruang-ruang kehidupan kita.
Di satu sisi, saya begitu kagum menyaksikan teknologi seperti sebuah sungai besar yang mengalir tanpa henti. Kecerdasan buatan menjadi arus baru yang membawa kita bersama di dalamnya, seolah memaksa kita untuk ikut bergerak tanpa sempat menoleh lagi ke belakang. Tetapi di sisi lain, ada kegelisahan yang pelan-pelan merambat seperti angin malam yang tidak kita sadari sampai ia menyentuh kulit. Zaman ini bergerak terlalu cepat untuk ukuran hati kita sebagai manusia. Hati yang butuh waktu untuk memahami dunia dan hati yang tidak bisa dipaksa mengikuti kecepatan algoritma.
Belakangan ini saya sering memikirkan bagaimana anak muda menghadapi keadaan seperti ini. Mereka lahir ketika dunia sudah penuh layar dan sinyal. Mereka tumbuh dengan cahaya ponsel sebagai teman bermain, guru informal, sekaligus ruang pelarian ketika dunia nyata terasa bising, membosankan atau membingungkan bagi mereka. Pada mereka, saya melihat ketegangan antara dua dunia yaitu dunia yang menuntut kecepatan dan dunia batin yang sebenarnya membutuhkan kedalaman.
Lalu di tengah perubahan besar itu saya kembali menemukan alasan mengapa filsafat tetap mendesak. Filsafat bukan sekadar disiplin akademik yang berada jauh di rak perpustakaan. Ia juga bukan daftar nama pemikir atau teori-teori yang harus dihafalkan demi lulus ujian. Lebih dari itu, filsafat dalam esensinya yang paling sederhana adalah seni untuk bertanya. Siapa kita? Apa yang kita cari? Atau apa yang membuat hidup ini layak untuk dijalani? Dan seterusnya. Di zaman kecerdasan buatan ini, sebenarnya filsafat justru bergerak lebih dekat kepada kita. Ia menjadi etos hidup. Menjadi cara kita bernapas di tengah dunia yang terlalu ramai oleh efisiensi namun terlalu miskin akan kedalaman rasa.
Suatu malam saya duduk di sebuah kafe yang dipenuhi anak muda. Di setiap meja ada laptop menyala, jari-jari mereka yang bergerak cepat, tab yang dibuka berganti dengan ritme yang sulit diikuti mata. Mereka mungkin sedang menyelesaikan tugas, menyusun presentasi, menulis laporan, membuka pesan digital, sambil mendengarkan musik dari headphone besar. Tetapi ketika saya melihat mata mereka, saya malah menemukan sesuatu yang menarik. Ada energi di sana, tetapi juga ada keresahan yang samar. Seakan mereka hidup dalam dunia yang serba terkoneksi namun tidak selalu menemukan dirinya sendiri di dalam konektivitas itu.
Zaman ini memang menciptakan paradoks yang rumit. Sebelumnya kita tidak pernah semudah ini mengakses informasi namun jarang merasa dekat dengan diri sendiri. Hari ini, kita bisa bertanya apa saja ke mesin tetapi tetap gagap ketika harus menjawab pertanyaan paling sederhana dari dalam batin kita sendiri. Siapakah saya? Mau ke mana saya melangkah? Apa yang sungguh-sungguh kuinginkan? Dan seterusnya. Filsafat dalam kebeningannya yang perlahan, sebenarnya menjadi kompas yang mengarahkan kita kembali ke pusat diri.
Beberapa kali saya bertemu mahasiswa yang berkata bahwa mereka bingung dan tersesat. Mereka tidak yakin apakah jurusan kuliah mereka adalah pilihan atau sekadar keadaan. Mereka juga cemas memikirkan masa depan yang dipenuhi otomatisasi, seolah mereka bersiap menghadapi kompetisi dengan mesin yang tidak pernah tidur dan tidak pernah cemas ataupun goyah. Kekhawatiran itu nyata. Kita memang tidak bisa menertawakan atau menepisnya begitu saja. Tetapi justru dalam kegelisahan itulah terdapat sesuatu yang perlu didekati dengan hati-hati.
Manusia tidak lahir untuk bersaing dengan mesin. Mesin diciptakan sebagai perpanjangan kemampuan kita. Ketika manusia menempatkan diri sebagai pesaing dari apa yang ia ciptakan sendiri, maka sebenarnya ia sedang berdiri di posisi yang keliru. Filsafat menolong kita menyadari relasi yang lebih benar itu. Filsafat mengingatkan bahwa manusia bukan sekadar produsen kerja atau pemburu efisiensi. Lebih dari itu, manusia adalah makhluk yang mengalami. Ia tumbuh dari luka dan belajar dari kehilangan. Ia merasakan dunia dari dalam tubuhnya dengan segala kerentanan yang tidak akan pernah bisa dimiliki dan dialami oleh mesin, seberapa canggih pun algoritmanya.
Suatu hari dalam kunjungan riset saya ke sekolah, saya berbincang dengan seorang siswa SMA. Ia bercerita bahwa ia menggunakan AI (Artificial Intelegence) untuk menulis esai sekolahnya. Ia begitu senang karena tugasnya menjadi cepat selesai. Tetapi ada sesuatu yang jujur ia akui kepada saya: “Bagus AI sih, tetapi kayak bukan saya yang nulis… rasanya kosong.” Saya hanya tersenyum sambil merekam pernyataannya di kepala saya. Saya tahu ia tidak sedang berbicara tentang kecurangan atau moralitas. Ia hanya sedang menggambarkan pengalaman batin yang hilang. Bagi saya, menulis memang bukan sekadar menghasilkan teks. Lebih dari itu, menulis adalah perjalanan ke dalam diri kita. Sehingga ketika proses itu digantikan oleh mesin, maka yang hilang bukan nilai tugas melainkan proses mengenali diri sendiri.
Dan di titik itulah filsafat menyentuh kehidupan dengan cara yang paling manusiawi. Filsafat mengajak kita untuk menyadari bahwa nilai tertinggi bukan pada kecepatan tetapi pada proses menemukan diri. Filsafat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin sederhana tetapi punya daya untuk mengubah arah hidup. Filsafat mempertanyakan: Mengapa saya melakukan ini? Nilai apa yang saya pegang? Atau apa yang membuat saya menjadi manusia yang bertumbuh?
Pernah suatu kali saya berdiri di depan kelas dan berkata kepada mahasiswa bahwa kekuatan terbesar manusia bukan kecerdasannya, melainkan kemampuannya merasakan. Kita merasakan kehilangan. Kita merasakan ketidakpastian. Kita juga merasakan cinta, harapan dan ketakutan. Sementara mesin tidak merasakan apa pun. Ia hanya memproses pola. Dan karena itu manusia tidak boleh menyerahkan makna hidupnya kepada sesuatu yang tidak merasakan hidup itu sendiri.
Filsafat sebagai etos hidup menghadirkan kualitas kesadaran yang hampir hilang dalam kebisingan zaman. Filsafat mengikat kita kembali sebagai subjek dan bukan sekadar pengguna teknologi melainkan penafsir hidup. Etos ini mengajarkan kita untuk tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi lebih dalam untuk mencerna, memahami dan memberi makna kepadanya. Filsafat memberi ruang bagi generasi muda untuk merawat pikiran, batin, membangun orientasi, dan berdialog dengan diri sendiri.
Salah seorang teman saya pernah berkata bahwa ia takut anak muda masa kini kehilangan kemampuan berpikir mendalam. Perubahan zaman terlalu cepat, katanya. Tetapi saya tidak sepenuhnya setuju dengan ketakutannya. Saya masih melihat sesuatu yang lain, bahwa generasi ini justru punya kepekaan yang besar terhadap isu keadilan, lingkungan dan identitas. Mereka juga berani bersuara. Mereka punya radar moral yang kuat. Yang mereka butuhkan adalah ruang refleksi. Dan filsafat bisa memberi ruang itu.
Lihat saja ketika mereka diajak bertanya, mereka menemukan keberanian untuk memilih apa yang benar bagi dirinya. Ketika mereka diajak merenung, mereka bisa menemukan arah untuk melangkah. Atau ketika mereka diajak memahami, bukan sekadar menghakimi, mereka sedang menjadi manusia yang utuh.
Kita mungkin takut AI akan menggantikan manusia. Tetapi saya masih percaya bahwa manusia yang hidup dengan etos filsafat tidak akan tergantikan. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya. Mereka tahu kapan harus melambat ketika dunia memaksa melaju dengan cepat. Mereka juga tahu persis kapan harus menjaga ruang batin yang rentan itu.
Tak disangkal, zaman AI adalah zaman yang menantang. Tetapi juga zaman yang membuka kesempatan untuk kembali ke nilai-nilai dasar kehidupan. Ia mengingatkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup karena kita butuh kebijaksanaan. Kita butuh empati. Kita butuh kesadaran. Dan semua itu hanya bisa tumbuh melalui refleksi batin yang tidak pernah berhenti.
Hari Filsafat Sedunia 2025 menjadi momen yang tepat untuk mengingat kembali bahwa filsafat tidak pernah kehilangan relevansinya. Justru di era paling canggih inilah filsafat hadir sebagai pemelihara kemanusiaan. Generasi muda yang tumbuh dengan etos filsafat akan mampu berdiri tegak di tengah pusaran algoritma. Mereka akan punya akar dan sekaligus punya sayap. Mereka akan mampu hidup bukan hanya sebagai penumpang zaman tetapi lebih sebagai manusia yang hadir secara penuh.
Dan menurut saya, sebenarnya itulah yang paling kita butuhkan dalam hidup. Tidak sekadar hidup, tetapi benar-benar mengalami hidup itu secara penuh.

Lahir di Enrekang, 5 Juli 1991. Mukim di Jl. Karunrung Raya 1 Makassar. Punya hobi traveling dan menonton.
Sederet pengalaman organisasi: IPM, JIMM, ICMI, Rumah Kajian Filsafat, dan Komunitas Literasi Perempuan.
Aktivitas mutakhir selaku pegiat literasi dan filsafat. Berprofesi sebagai penulis dan dosen.


Leave a Reply