Ibu-ibu desa bicara parenting? Apakah mereka paham istilah ini? Sekilas jika ditinjau dari aspek kebahasaan, tampaknya wajar jika ada yang berkomentar begini. Tetapi sebenarnya istilah ini sudah umum digunakan bahkan menjadi bahasa sehari-hari di kalangan para orangtua dan masyarakat umum.
Selain itu, kemajuan teknologi telah berhasil menghilangkan sekat antara kota dan desa. Sehingga apa yang menjadi konsumsi orang-orang kota, akan mudah pula ditemukan di pelosok atau desa. Selain itu, sudah banyak warga terpelajar memilih kembali ke desanya, tentu disertai motifnya masing-masing.
Yang membedakan antara keduanya, kota dan desa hanyalah soal konsumsi konten. Bagaimana menciptakan algoritma yang akan mendukung kemajuan dalam hidup kita. Orang-orang yang tidak berkecimpung dalam sebuah wadah atau kelompok, cenderung akan bergerak sendiri-sendiri alias terpisah. Baik ide, semangat, maupun konsistensinya dalam mengaplikasikan pengetahuan yang mereka dapatkan. Beda halnya jika mereka berkumpul dalam satu wadah atau suatu komunitas. Fasililtas ini relati lebih tersedia bagi masyarakat perkotaan.
Kelas parenting adalah salah satu wadahnya. Di mana para orangtua atau calon orangtua duduk bersama, berdiskusi salah satu topik, atau mengemukakan masalah-masalahnya terkait topik tersebut. Seseorang akan ditunjuk menjadi salah satu sumber rujukannya. Baik karena kapasitas ilmu yang ia miliki, ataupun boleh jadi karena pengalaman yang telah dilaluinya sekian lama menjadi orangtua.
Saya termasuk jenis kedua. Secara akademisi saya tidak menempuh jenjang khusus terkait pengetahuan parenting. Karena memang tidak ada sekolahnya. Saya mendalami dunia parenting secara otodidak. Membaca buku, majalah, atau tabloid, mengikuti seminar dan pelatihan, serta berkomitmen untuk mempraktikkannya secara konsisten dan persisten dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman-pengalaman tersebutlah yang kemudian saya tuangkan dalam tulisan dan pembahasan saat diundang jadi pembicara pada forum-forum parenting.
Woitombo adalah desa terjauh saya bicara parenting. Ia berada di bawah naungan Kecamatan Lambai, Kabupaten Kolaka Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara. Saya dan seorang pembicara dari Kendari diminta mengisi materi di sana, 16 Agustus lalu, pada kegiatan yang dinamai Kemah Rakyat.
Berbicara parenting di desa bukanlah pasal baru. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya pernah mengunjungi desa di Kabupaten Bone, Desa Pao di Kabupaten Gowa, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Pangkep, Sorowako (Kabupaten Luwu Timur), serta beberapa desa di Kabupaten Bantaeng.
Di Makassar sendiri, lokasi pemukiman yang agak terpencil pernah saya jajaki. Duduk berhadap-hadapan dengan ibu-ibu berdaster yang perlu dipanggil satu per satu, karena kegiatan sudah akan dimulai. Berbagai suka dan duka ketika berhadapan dengan para orangtua lebih tepatnya para ibu.
Di Woitombo pun suasananya kurang lebih sama. Ada wajah-wajah yang kelihatan siap untuk belajar dan mendengar materi, ada pula yang tampak biasa-biasa saja. Bahkan ada yang siap-siap melipir (keluar, red) sewaktu-waktu. Situasi ini mendorong saya untuk bertanya dengan nada bergurau, “Apakah ibu-ibu hadir ke tempat ini karena kemauan sendiri atau ada yang menyuruh atau memaksa?” Alhamdulillah mereka menjawab, “Karena kemauan sendiri.”
Pertanyaan selanjutnya yang kerap saya tanyakan pula, “Apakah ibu-ibu yang hadir di ruangan ini sudah belajar dan mempersiapkan diri jadi orangtua?” Hening, satu per satu wajah mereka tampak heran dan tercengang. Tak satu pun memberikan jawaban. Saya lanjutkan lagi, “Kenapa Ibu-Ibu berani jadi orangtua tanpa ilmu?” Sambil tersenyum saya menyapukan pandangan ke arah mereka.
Saya tidak tahu, apakah pertanyaan serupa sudah pernah ada yang menanyakan atau belum. Tetapi menurut saya ini penting, untuk menyadarkan mereka bahwa memilih menjadi orangtua bukanlah urusan mudah. Maka dari itu perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. Hendaknya ia tidak dipandang sebatas urusan reproduksi belaka. Namun ada tanggung jawab besar di baliknya.
Kesiapan menghadirkan sosok manusia dalam kehidupan kita sangatlah penting, karena ia terkait amanah dan tanggung jawab dari Allah Swt. Dengan dasar berpikir seperti ini, akan membuat orang-orang tidak main-main dengan urusan pernikahan dan berumah tangga. Ia adalah sesuatu yang sakral dan agung. Sehingga akan berpengaruh pada etika pergaulan laki-laki dan perempuan, saling menjaga kesucian demi melahirkan calon generasi yang suci dan tangguh dalam menjalani hidupnya kelak.
Parenting adalah soal praktik
Sebagai pembicara parenting, terkadang terselip pertanyaan, apakah mereka tidak jenuh tatkala mendengarkan materi yang saya bawakan. Mengingat di antara mereka mungkin juga sudah pernah mendapatkan materi serupa sebelumnya. Sehingga apa yang saya sampaikan tidak semuanya baru di telinga mereka. Namun, segera saya tepis pikiran itu. Karena bagi saya, soal parenting bukanlah perkara sudah tahu atau belum. Melainkan sudahkah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari?
Akan tetapi kita semua seringkali berhenti pada tataran mengetahui. Hanya segelintir kecil yang mampu beranjak ke fase yang lebih tinggi, yakni mempraktikkan. Adapun tingkatan yang lebih di atas lagi, yakni bagaimana ia bisa konsisten mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam interaksinya dengan anak-anaknya sepanjang waktu.
Situasi yang sangat menggembirakan apabila melihat binar-binar serius dari berpasang-pasang mata dalam sebuah kelas. Itu pertanda keseriusan. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Saya dorong mereka untuk interaktif dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ringan tapi mengena dengan persoalan mereka sehari-hari. Misalnya dengan bertanya, “Siapa di antara ibu-ibu yang memulai paginya dengan perasaan kusut karena anak-anak yang susah bangun dan lamban bergerak?” Kontan banyak yang mengangkat tangan, atau paling tidak tertawa, karena sangat relevan dengan permasalahan yang mereka hadapi.
Olehnya itu, di akhir sesi diskusi saya meminta para ibu yang hadir untuk membentuk komunitas untuk mempertahankan semangat mereka. Caranya dengan membuat laporan harian di grup WhatsApp, sehingga setiap anggota bisa saling menularkan energinya. Mereka pun akan semakin semangat mempraktikkan ilmunya, karena merasa tidak sendiri menghadapi suatu persoalan.

Konsultan Parenting. Telah menulis buku, Dari Rumah untuk Dunia (2013) dan Metamorfosis Ibu (2018)


Leave a Reply