Mengapa Sujud di Atas Tanah?

Pernahkah kita melihat seorang bersujud, tetapi dahinya tak menyentuh sajadah lembut? Melainkan sebongkah tanah kecil nan sunyi, diletakkan tenang di hadapan diri? Apa gerangan makna di balik debu itu? Apakah itu warisan lama, atau sekadar ragu? Mengapa tak cukup kain bersih di masjid megah? Lalu ia pilih tanah-benda paling rendah?

Namun, hari ini, di layar-layar yang tak berhati, kita menyaksikan potongan-potongan video, dengan suara keras dan tudingan dingin, yang berkata, “Lihat mereka sujud di atas batu… sesat!”

Betapa aneh, betapa tak seperti yang lain. Mari kita tenang sejenak, melepas prasangka, menyelami makna, sebab tak semua yang tampak itu benar adanya.

Bukan batu yang mereka bawa dalam sujud, melainkan tanah yang telah dipadatkan. Mereka lakukan bukanlah tanpa dasar, bukan pula tradisi kosong yang lahir dari nafsu atau adat, tetapi lahir dari naskah-naskah tua yang masih hidup, dari hadis-hadis sahih yang tercatat rapi dalam kitab yang sama.

Orang bertanya, orang menilai. Sebagian mencibir, sebagian terpanggil menyelami. Namun, sedikit yang benar-benar ingin tahu. Mengapa tanah jadi saksi bagi dahi yang bersujud pilu.

Bukankah Rasulullah ﷺ pernah bersujud di atas tanah? Yah… Tanah!

Itulah pilihan sang Nabi. Tempat dahi bersentuh dengan bumi. Dan tanah Padang Karbala, bukan sekadar nama. Ia menyimpan darah, doa, dan derita.

Sabda Nabi tak pernah bermain dusta, “Bumi dijadikan bagiku sebagai tempat sujud…”  terekam dalam Sahih Muslim, Kitab Masajid. Dan Al-Qur’an pun mengabadikannya, tak jauh berbeda, “Dari bumi Kami menciptakan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu.” (QS. Thaha: 55). Juga, “Dan kepada Allah bersujud apa yang di langit dan di bumi…”(QS. An-Nahl: 49).

Lalu, mengapa jika seseorang ingin bersujud pada asalnya, ia justru dicaci dan diusir dari rumah yang mengaku rumah Tuhan?

Apakah harus tanah harusKarbala semata? Tidak. Segala yang berasal dari bumi bisa digunakan-selama suci, tak dimakan, tak dipakai.

Sebagian berkata, “Syiah menyembah batu, lihatlah, itu nyata.”

Namun, adakah mereka bertanya?  Atau sekadar menebak tanpa membaca?

Hukum ditetapkan, fatwa ditebar, tetapi berapa yang sungguh menggali dasar?

Fiqih mereka tak lahir dari ruang hampa.  Ada nalar, ada nash, ada ilmu yang nyata.

Mengapa kita cepat menyalahkan. Sebelum menimbang, sebelum memahami jalan Bukankah kritik sejati mesti ilmiah?  Bukan sekadar dogma tanpa arah? Jika ingin membantah-bantahlah dengan ilmu. Bukan hanya gema dari prasangka semu.

Pernahkah kita benar-benar bertanya, apa arti sujud yang sesungguhnya? Mengapa Rasul sujud di atas tanah, bukan di atas hamparan kemewahan?

Mengapa tanah Karbala? Langit di sana pernah berselimut luka. Ketika cucu Nabi dipenggal di tengah dusta. Maka tanah itu jadi saksi perjuangan. Lalu dipadatkan dalam bentuk lempengan, turbah, diambil sebagai lambang ketundukan.

Kita sibuk menilai apa yang terlihat. Terlalu cepat menyimpulkan yang tak dikenal dekat. Mata jadi hakim, ego jadi dalil. Sementara sabda Nabi kita abaikan begitu kecil.

Bukankah sabda Rasul adalah pantulan wahyu? Bukan sekadar kata, tapi petunjuk yang syahdu?Jika mereka bersujud di atas tanah,  di mana letak kekafiran yang kau tuduh dengan mudah?

Apakah harus tanah Karbala semata? Tidak! Segala yang berasal dari bumi pun diterima. Asal ia suci, tak dimakan, dan tidak dipakai. Itulah dasar, bukan hawa yang berselimut harum.

Jika sujud itu tunduk pada Ilahi, lalu mengapa dipersalahkan hanya karena alasnya bumi Adakah ilmu lain yang lebih tinggi, dari wahyu yang Allah sendiri ridai?

Kita lupa… Bagaimana cara tabayyun dalam berbeda. Lupa bagaimana menjadi Islam seperti yang Rasul ajarkan dulu kala. Bukan sekadar syariat di lisan, tetapi akhlak yang hidup dalam perbuatan.

Betapa mudah lidah melabeli sesat. Padahal yang dituduh, juga menghadap Ka’bah saat salat.

Tak adakah belas dalam hati, untuk saudara yang menangis dalam sujud sunyi?

Mereka tak pernah menyalahkan sajadahmu, tak pernah memaksamu untuk menyentuh debu. Mereka hanya memegang teguh pilihan mereka, karena mereka punya dalil, dan mereka punya cinta yang bersumber dari literasi yang mendalam.

Lalu, di mana letak salahnya bertanya? Kenapa bertanya soal tanah harus dianggap ancaman?

Yang salah adalah bila kita bertanya pada yang tak tahu, lalu mempercayai jawabannya seolah ia pengganti wahyu.

Dan bila seseorang berkata, “Syiah itu bukan Islam!” Maka ia tak hanya sedang menolak manusia, tetapi juga tengah menutup pintu untuk firman dan sabda. Karena di dalam Syiah, ada ayat yang mereka hafal, ada shalawat yang mereka panjatkan, ada kecintaan kepada Rasul yang mereka junjung tinggi, sama seperti kita.

Mengafirkan seseorang bukan hak manusia, itu wilayah Tuhan, dan Tuhan tak pernah menunjuk kita sebagai pengadil iman. Mereka sujud dengan cinta yang dalam, bukan pada tanah, tetapi pada Tuhan yang Esa dan Rahman.

Jika mereka bersujud di atas debu, Itu karena Rasul pun tak pernah meminta sajadah mewah nan syahdu. Maka tak ada salahnya jika hari ini,
kita belajar menundukkan ego, seperti menundukkan dahi ke tanah, dan bertanya bukan buat menghakimi, tetapi untuk mengerti.

Mungkin dari sana, kita akan tahu, bahwa sujud bukan soal permukaan alas, tetapi soal dalamnya penghambaan.

Dan bukankah Tuhan lebih dekat kepada yang sujud? Tak peduli ia bersujud di atas sajadah, atau sepotong tanah?

Mari kita bicara bukan dengan prasangka, tetapi dengan ilmu yang tulus dan terbuka. Karena Islam bukan milik satu suara, tetapi milik ummat yang menghadap satu Kiblat-bersama.

Dalam denting waktu yang bergerak diam, kita menyaksikan perbedaan sebagai ancaman. Bukan ladang ilmu yang penuh rahmat, tetapi medan tuduhan yang mengiris hangat.

Kita harus menelusuri jejak, tentang mengapa sebagian muslim bersujud di atas tanah yang tak berkilau indah. Bukan untuk memuliakan benda mati. Namun, karena mereka ingin menghidupkan makna sejati.

Mereka bukan menyembah tanah, sebagaimana kita pun tak menyembah sajadah. Mereka hanya ingin kembali, kepada ajaran Nabi, yang bersujud di atas bumi yang alami.

Tanah Karbala bukan lambang kesesatan. Ia simbol perjuangan, darah dan pengorbanan. Tanahnya dipilih bukan karena mitos, melainkan  karena sejarahnya adalah cinta yang tulus dan ikhlas.

Dalil pun jelas, baik dari hadits maupun ayat yang terbentang luas, “Bumi dijadikan tempat sujud…” Bukan karpet, bukan permadani yang mewah disebut.

Namun hari ini, kita lebih cepat menilai dari yang kita lihat. Menyeru sesat tanpa ilmu. Melupakan sabar, lupa menanyakan mengapa lebih dulu.

Padahal, Islam itu akhlak, yang Rasul wariskan tanpa kekerasan. Bahkan pada yang berbeda. Ia memilih kasih, bukan kutukan dan cela.

Maka biarlah ini menjadi pelajaran, bahwa sujud bukan soal permukaan, tetapi soal ke mana hati berserah. Dan kepada siapa ruh kita menyerah.

Jika berbeda adalah bagian dari ujian, maka ilmu dan adab adalah jawabannya. Jangan buru-buru menuduh sesat, karena bisa jadi, kebenaran sedang lewat. Lewat sujud di atas tanah yang kita remehkan. Padahal, ia diwarisi dari Nabi, bukan sekadar pilihan.



Comments

One response to “Mengapa Sujud di Atas Tanah?”

  1. Alhamdulillah. Allahuma sholli ala Muhammad wa Ali Muhammad. Dengan tulisan semoga membuka cara pandang pembaca, sehingga perbedaan dipahami secara mendalam sehingga menjadi Rahmat buat semua orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *