Menggugat IRT Berdaya

Pekan ini akhirnya saya berbangga dengan status Ibu Rumah Tangga (IRT). Merayakannya dengan mengubah bio profil Instagram: seorang ibu rumah tangga. Walau jauh sebelum itu, dua tahun sudah menjalaninya. Saya masih tidak ingin dicap sebagai IRT. Bahkan, ketika ditanyakan pekerjaan sekarang, saya sibuk mencari-cari sekiranya apa yang baik saya katakan selain menjadi IRT. Begitu pun, ketika menuliskannya pada beberapa formulir.

Namun, baru saja kebanggan saya pada status IRT. Tiba-tiba lagi, berseliweran tagline “IRT Berdaya”. Seakan-akan kata IRT tidak cukup berdiri sendiri. Perlu ada kata “berdaya”, untuk membuatnya terlihat “ada kerjanya”. Hal itu membuat saya memikirkan kembali makna kata “berdaya”. Mengacu pada KBBI, berdaya artinya berkekuatan, berkemampuan, atau bertenaga. Mampu memecahkan masalah. Nah, coba kita renungkan kata “IRT Berdaya”.

Pertanyaannya adalah, “Kurang berdaya apalagi IRT sampai dikatakan harus berdaya?” Lihat saja pekerjaan yang dilakukan. Hampir full 24 jam. Mengerjakannya pun bukan satu per satu, melainkan multitasking. Andai diberi sepuluh tangan dan kaki, mungkin akan tergunakan semua secara bersamaan. 

Mengelola emosi? Jangan ditanya, tidak semua manusia mampu mengerjakan hal yang rutin setiap harinya, berulang-ulang, bahkan terkadang tanpa jeda. Minim apresiasi karena pekerjaannya dianggap sepele. Bagaimana mereka semua me-manage emosinya menghadapi itu? Belum selesai mengenal emosinya. Keesokan harinya, ia menghadapi emosi yang sama. Ruang untuk mengenal diri dan perasaannya begitu sempit. Sedangkan peranan dirinya bertemu dengan berbagai macam masalah dan manusia lainnya itu berlangsung secara terus-menerus.

Saya tidak tahu apakah ada IRT yang tidak melakukan kesibukan-kesibukan itu hingga tidak berdaya. Rasa-rasanya, semua IRT pasti sibuk. Melihat dari jangkauan orang-orang sekitarku. Kalau bukan sibuk, biasanya sibuk sekali. Bahkan, Nikita Willy juga tetap sibuk. Walaupun sudah dibantu oleh asisten rumah tangga dan chef-nya.

Saya memikirkan kembali. Dari mana kemunculan slogan “IRT berdaya” itu? Kemungkinan besar karena hadirnya produk digital, dan maraknya orang-orang menggaungkan usaha yang dilakukan dari rumah. Dalam artian orang akan dikatakan berdaya ketika bisa menghasilkan uang. Berdaya sama dengan ber-uang. Apakah ini efek dari kapitalisme? Efisiensi anggaran? Hal ini perlu didukung dengan pengkajian referensi terkait. Tapi, entahlah. Saya terlalu sibuk jadi IRT untuk melakukan itu. Jelasnya dari kacamata saya sebagai ibu-ibu ini. Rasa-rasanya semua hal berujung dengan pertukaran uang. 

Berdaya mendorong kehidupan makin produktif. Sialnya, makna produktivitas dipersempit hanya pada hal yang bersifat material. Makin besar materi yang diraih, makin produktif pula label seseorang. Makin berdaya, makin berjaya jualah ia. Akhirnya, kerja kehilangan makna karena orientasinya yang profan.

Lucunya, justru yang sering menggaungkan “IRT berdaya” adalah para influencer perempuan. Dalihnya membuat konten ini dan itu, ujung-ujungnya adalah monetisasi yang justru melipatgandakan beban perempuan di ranah domestik dan maya. Padahal, ada banyak cara yang bisa dilakukan, berbentuk dukungan ataupun tidak melalui konten tanpa mendiskreditkan perempuan lain. Tidak melulu berbanding lurus dengan uang. Bisa saja, uang adalah akibat dari sebuah sebab, misalnya sebab dari ruang aktualisasi.

Seharusnya dukungan terbesar dari perempuan itu berasal dari sesama perempuan. Karena, hanya sesama perempuanlah yang benar-benar paling bisa merasakannya. Tapi ya, hasil dari dunia patriarki menghasilkan sebaliknya, perempuan versus perempuan lainnya. Semua hal menjadi kompetisi bukan dukungan.

Lanjut menyoal soal keberdayaan. Sebenarnya IRT telah lama berdaya dengan hal-hal keseharian. Tanpa berhubungan langsung dengan nominal uang. Namun, jika dipikirkan kembali. Apa yang ia kerjakan dalam kesehariannya, itu sudah berbentuk uang. Seperti, jika tidak dikerjakan oleh mereka, akan menyewa asisten rumah tangga, mengeluarkan uang untuk mengerjakan hal-hal yang dikerjakan oleh IRT. Keberhasilan dalam membersihkan rumah, berulang-ulang kali. Menata rumah, memasak, dan mengurus anak. Akan memerlukan pengeluaran dalam bentuk uang, jika tidak mereka kerjakan. Bahkan suasana rumah pun, bisa saja memerlukan pertukaran uang dengan sering berpergian, membeli pernak-pernik rumah, agar rumah terasa nyaman. Di mana peran IRT sudah lama melakukan itu. Lihat saja, kalau mood ibunya baik dan stabil pasti akan berdampak ke isi rumah. Begitu pun sebaliknya.

Keterbaruan terkait peranan IRT adalah seringkali ia memikul beban mental atau Mental Load, tanpa mereka sadari. Apa itu? Istilah yang merujuk pada tanggung jawab kognitif yang dirasakan dalam mengelola berbagai tugas, terutama dalam konteks kehidupan sehari-hari. Mental Load ini seringkali dikaitkan dengan beban yang dihadapi oleh individu (terutama perempuan) dalam mengatur dan merencanakan berbagai kegiatan domestik, seperti pekerjaan rumah, mengurus anak, atau tugas administratif lainnya.

Nah, bekerja di ranah luar domestik saja, perusahaan misalnya, tugas administratif itu dikerjakan oleh satu orang loh. Dipisahkan dari tugas-tugas lainnya. Masuk ke dalam ranah rumah tangga, peranan itu dicampuradukkan dengan seabrek tugas lainnya. Padahal, itu membutuhkan ingatan, manajemen, dan pengelolaan pelaksana kegiatan.

Lantas dengan beratnya hal itu, kenapa bisa hingga disematkan lagi ke perempuan, yaitu “IRT berdaya”? Ternyata erat kaitannya dengan gender.

Berdasarkan teori Mental Load, yang berasal dari berbagai penelitian dalam psikologi dan sosiologi. Istilah ini populer dalam diskusi tentang ketidaksetaraan gender, di mana perempuan sering kali dianggap bertanggung jawab untuk mengelola tugas-tugas rumah tangga, meskipun mereka juga bekerja di luar rumah. Tugas-tugas ini memerlukan perhatian yang berkelanjutan dan perencanaan yang tidak selalu tampak oleh orang lain, tetapi sangat memengaruhi kesejahteraan emosional dan kognitif.

Finally, IRT telah berdaya dengan caranya sendiri. Tanpa label tambahan. Tanpa harus membuktikan apa pun. Tapi, mengapa penghargaan sering kali baru datang jika ada nilai ekonomisnya? Apakah keberdayaan hanya bisa diukur dengan materi? Atau sebenarnya, setiap peran yang dijalani IRT sudah memiliki nilai yang tak tergantikan?

Untuk setiap IRT di luar sana. Anda sudah cukup. Anda sudah berdaya dengan cara Anda sendiri. Terima kasih telah menjalankan peran yang luar biasa.

Sumber gambar: TheAsianparent


Comments

One response to “Menggugat IRT Berdaya”

  1. Usman Djabbar Avatar
    Usman Djabbar

    Setujuuuuu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *