Malam dan siang tengah beristirahat sejenak menikmati rokok dan kopi di pelataran waktu. Mereka berbincang tentang tahun-tahun yang mereka lewati. Hanya seribu tahun sekali mereka dapat bercengkerama seperti ini.
“Bagaimana kabarmu, Siang?” tanya malam sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.
Siang tersenyum kecil, menyalakan sebatang rokok yang merahnya terlihat kontras di tengah kehampaan. “Aku tetap sibuk. Setelah pukul tujuh, manusia sudah melupakanku. Mereka tidak ingat pada apa yang telah ‘kuberi. Terang yang ‘kupancarkan, semua lewat begitu saja. Aku pun, seperti ikut larut dalam kesibukan mereka.”
Malam tersenyum tipis, meski ada sedikit iri di wajahnya. “Bukankah itu menyenangkan? Kau bisa melihat semua orang bangun di pagi hari, menertawakan setiap mereka yang sibuk dengan pekerjaannya, dan melihat mereka berdesak-desakan di kereta dan bus. Manusia berlari, bukan hanya dengan kakinya, tapi juga dengan jiwanya.”
“Ah, aku tidak pernah menertawakan mereka. Justru di hatiku hanya ada rasa iba. Apa artinya semua itu jika kasih sayang di antara manusia seketika menghilang? Manusia saling memaki dan bertengkar di siang hari. Mereka memperebutkan apa yang seharusnya mereka bagikan. Betapa banyak kata-kata kasar yang ‘kudengar dari mulut-mulut mereka. Di siang hari, banyak manusia tak ubahnya singa yang kelaparan,” jawab Siang sambil menghisap dan mengembuskan rokok di genggamannya.
“Sahabatku, Siang. Apa kau pikir, ketika malam, manusia menikmati kasih sayang? Ketika mereka pulang dari kesibukannya, mereka sudah melewatkan setidaknya satu jam saat aku mulai datang. Mereka mandi, beristirahat, makan sebentar, berpelukan, lalu melewatkanku delapan jam, dan terbangun saat kau datang! Mereka tidak pernah menikmatiku,” giliran Malam mengeluh.
“Bukankah banyak mereka yang begadang dan menikmati malam?” Tanya sang Siang.
“Menikmati malam? Itu hanya segerombolan pemuda yang sering kali berbuat onar, mereka merampas hak-hak orang miskin. Kadang, mereka berperang dengan parang. Atau, mereka bernyanyi mabuk dan mengganggu orang yang beristirahat. Ada juga sekelompok pemimpin yang membuat keputusan diam-diam dengan mengabaikan banyak hal. Kau tahu, Siang, hanya sedikit orang yang bermunajat,” Malam menumpahkan kebenciannya sembari menyeruput lagi kopi pahitnya.
Malam melanjutkan keluhannya, “Mereka yang menikmati angin yang ‘kubawa justru mendapat penyakit. Entah itu kurang darah, penyakit kulit, gangguan mental, bahkan sampai hipertensi dan kanker! Betapa angin yang datang bersamaku, diciptakan amat berbahaya buat mereka. Sedangkan, jika mereka berjemur di bawahmu, banyak hal baik yang mereka dapat.”
Siang tertawa mendengar itu. “Mereka tahu hal-hal yang baik, tapi apakah mereka melakukan? Tidak. Mereka sekarang lebih banyak bergerak dalam ruangan penuh pendingin atau bermesraan dengan mesin-mesin baja. Mereka juga banyak yang sakit akibat radiasi, banyak dari mereka akhirnya sesak napas, atau sakit kepala,” jawab Siang.
Malam menaruh gelas kopinya. “Uh, jika begitu, apa artinya, manusia sekarang tidak bisa menikmati waktu? Padahal, jauh sebelum ini, manusia-manusia, berjuta-juta jumlahnya, bekerja dengan dada terbuka dan lengan baju tersingsing di udara luar. Mereka tidak membiarkan tubuh mereka lemah. Mereka mengangkat beban, memahat kayu dan batu, serta berburu, sehingga mereka terlihat sangat kuat.
“Mungkin begitu. Atau, zaman memang memaksa mereka berubah. Mereka sekarang telah mendapat semua yang mudah-mudah. Aku juga tidak bisa menepis kenyataan bahwa semua kemudahan itu lahir dari mesin-mesin yang ‘kusebutkan tadi. Kemudahan-kemudahan itu bahkan lahir dari pikiran mereka yang saban pagi menghirup udara pendingin. Kita, belum tentu bisa jadi mereka,” ujar Siang menghabiskan sisa rokoknya.
“Kau benar. Apakah kau masih ingat, saat dulu Tuhan memberi amanah kepada kita untuk menjaga bumi? Kita menolaknya karena kita merasa tidak mampu. Manusia menerima itu dan kita lihat sekarang, betapa peradaban berkembang zaman demi zaman. Bayangkan saja, mereka bisa bercengkerama tanpa bertemu, mereka bisa melintasi samudera dengan burung-burung buatan mereka, mereka berkembang jauh dari apa yang kita duga,” sang Malam menengadahkan wajahnya.
Setelah menyeruput sisa kopi pahitnya, Malam menatap kosong ke arah cakrawala. Ada keheningan panjang yang terasa janggal. Di sela-sela keheningan itu, angin mulai berembus lebih dingin dari biasanya, dan suara gemuruh samar terdengar dari kejauhan. Siang, yang baru saja membuang puntung rokoknya, mengernyit.
“Apa kau mendengar itu?” tanya Siang dengan nada khawatir.
Malam mengangguk perlahan. “Angin ini… rasanya asing. Seperti membawa pesan yang kita tidak mengerti.”
Langit yang biasanya menjadi batas abadi antara Siang dan Malam mulai berubah. Ada warna-warna aneh, seolah campuran gelap dan terang yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Burung-burung yang biasa menyambut pagi terlihat terbang tanpa arah, sementara bintang-bintang mulai berkedip tidak teratur.
“Ini bukan waktu kita,” bisik Malam. “Ada sesuatu yang datang. Sesuatu yang melampaui kita.”
Dan saat itulah mereka menyadari bahwa dunia yang mereka kenal selama milyaran tahun telah mencapai batasnya.
Ketika kehancuran mencapai puncaknya, Malam dan Siang tersapu ke dalam pusaran waktu yang retak. Mereka tak lagi menemukan tempat mereka, tak ada pagi, tak ada senja, hanya kehampaan yang tidak terjelaskan.
Namun, di tengah kehampaan itu, keduanya menyaksikan sesuatu. Dalam ruang tanpa batas, gerbang besar perlahan terbuka, bercahaya seperti ribuan matahari, tetapi tetap memancarkan kegelapan yang damai. Malaikat-malaikat raksasa dengan sayap yang menjulang membuka gerbang itu. Kemudian, dari segala sisi, muncul manusia-manusia dari segala zaman, berbondong-bondong memasuki gerbang dengan wajah yang penuh harapan dan ketakutan.
“Apa ini, Malam?” tanya Siang, kali ini dengan suara yang nyaris bergetar.
“Inilah akhir, sahabatku. Atau mungkin awal yang lain,” jawab Malam dengan tenang.
Kredit gambar: Orami

Lahir di Bogor, Jawa Barat, 31 Desember 1997. Menyelesaikan studi S1 di Universitas Ibnu Khaldun Bogor (UIKA) Fakultas Pendidikan Agama Islam tahun 2020. Ketertarikannya pada dunia seni dan kepenulisan dimulai sejak sekolah menengah pertama. Hingga di tahun 2016, ia menempati peringkat ke-3 lomba cerpen se-SMK Negeri 1 Gunung Putri, dan pada 2019, ia meraih juara 1 Lomba Seni Akustik di kampusnya. Kini, ia bekerja sebagai tenaga teknis pada bidang pemberitaan di Ditjen Bimas Islam, Kemenag RI.


Leave a Reply