Haruskah Menderita di Usia Lanjut?

Toami Ramang “. Ungkapan ini sangat sering kita dengar pada seseorang yang mengalami gangguan kesehatan di usia lanjut. Bahkan, tidak jarang, kalimat ini menjadi candaan bagi orang-orang yang bermasalah pada lutut, kesulitan untuk berdiri, sempoyongan saat berjalan, sakit saat duduk bersila sehingga setiap saat harus duduk di kursi, padahal mereka belum memasuki usia lanjut. Ungkapan “Toami Ramang”, menjadi sangat populer, khususnya di kalangan suku  Bugis dan Makassar.

Ungkapan “Toami Ramang”, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti, “Ramang sudah tua”. Ramang adalah nama orang. Beliau merupakan salah seorang legendaris pesepak bola Makassar, di tingkat nasional hingga mendunia. Bahkan, sempat ikut piala dunia, tapi saat itu belum bernama Indonesia, melainkan Hindia Belanda. Ramang selalu dikenang karena prestasinya mengolah “si kulit bundar” di lapangan. Kesebelasan PSM Makassar juga sering dijuluki sebagai “Pasukan Ramang”.

Terkait Ramang yang pesepak bola dan hubungannya dengan kondisi kesehatan seseorang terkadang membuat penasaran. Sebab, saya tidak tahu persis kronologisnya, sehingga ungkapan tersebut menjadi sangat populer untuk menggambarkan kondisi kesehatan seseorang. Biasanya, ketika ungkapan tersebut diucapkan,  orang kemudian membalasnya dengan, “Ramang tidak hanya tua, tetapi sudah meninggal.” Yah… Ramang memang sudah berpulang ke rahmatullah beberapa puluh tahun yang lalu.

Ungkapan tersebut juga sangat sering saya temukan pada pasien-pasienku yang berusia lanjut. Ketika saya bertanya kondisinya, spontan menjawab, “Toami Ramang,  jadi saya begini”. Jika dicermati, kalimat tersebut menggambarkan sebuah bentuk penerimaan, atas kondisi yang dialami sekarang ini, dan sudah jauh berbeda jika dibandingkan saat muda dulu. Tapi di sisi lain, ini merupakan konsep diri yang negatif.

Konsep diri adalah cara pandang terhadap diri sendiri. Untuk konteks ini dan dihubungkan dengan ungkapan “toa mi Ramang”, maka yang bersangkutan memandang dirinya sudah tua, sehingga wajar saja jika sudah banyak kekurangan dan pada akhirnya memengaruhi aktivitasnya. Bahkan, sangat sering saya temukan, orang tersebut masih sangat bisa beraktivitas dengan baik, tapi konsep diri yang negatif tersebut, membuat dirinya menjadi tidak produktif lagi. Kekuatan pikiran mampu mencipta kenyataan.

Berdasarkan sunnatullah, memang tidak bisa lagi tubuh seperti saat muda dulu. Sebab, perlahan tapi pasti,  akan terjadi penurunan fungsi dari setiap organ seiring dengan bertambahnya usia. Tapi menjadi tidak sunnatullah ketika proses penuaan itu menjadi dipercepat. Salah satu yang mempercepat adalah konsep diri negatif, bahwa saya sudah tua, saya sudah lemah, saya sudah tidak bisa lagi produktif dan pernyataan lain yang senada dengan itu.

Terkait usia dan hubungannya dengan produktivitas, saya mau memberikan kabar gembira kepada siapa pun itu yang sudah memasuki usia lansia, pra lansia, atau yang masih muda tapi sudah merasa tua. Kabar gembira yang saya maksud adalah:

1. Hasil penelitian di Amerika yang menyimpulkan bahwa, usia produktif seseorang adalah di usia 60 sampai 80 tahun. Sebab,  di usia ini, penggunaan belahan otak kanan dan kiri menjadi lebih seimbang, sehingga sangat mungkin menjadi lebih bijaksana menjalani kehidupan.

2. Penelitian lain terkait dengan  regenerasi sel. Penelitian ini menyimpulkan, bahwa kita bisa hidup dan tetap produktif sampai usia 100 tahun. Ini terlepas dari takdir kematian.

Dari dua hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa, sebetulnya orang-orang yang sudah menganggap dirinya tua, dan serba berkekurangan, sehingga membuatnya menderita, tidak lebih dari sebuah konsep diri yang negatif. Dan, itu saya buktikan pada pasien-pasienku yang memiliki gangguan pada dirinya, kemudian gangguan itu hilang setelah berubahnya konsep diri yang dipahaminya. Setelah cara pandangnya berubah menjadi lebih baik, maka kondisinya menjadi lebih baik pula. Dan, semuanya ini bermula dari perubahan di pikiran, sebab, pikiran memang sangat mampu mencipta kenyataan.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, dan juga kenyataan yang dialami oleh pasien-pasienku, yang kemudian berubah menjadi lebih baik setelah konsep diri berubah, izinkan saya berkesimpulan, bahwa:

1. Penderitaan tidak ada hubungannya dengan usia. Berapa pun usianya, sangat mungkin menderita. Penderitaan hanyalah produk dari sebuah konsep diri yang negatif. Penderitaan adalah buah dari pikiran yang negatif. Penderitaan adalah ciptaan dari diri sendiri. Dan, sama sekali bukan pemberian Tuhan .

2. Salah satu gerbang penderitaan adalah mengeluh. Orang yang sering mengeluh, hampir dipastikan hidupnya penuh dengan penderitaan.

3. Seperti pada penderitaan,  berapa pun usianya, maka sangat dimungkinkan untuk hidup bahagia. Bahagia adalah hasil dari konsep diri  yang positif. Hidup bahagia bermula dari cara berpikir bahagia.

4. Gerbang kebahagiaan adalah bersyukur. Bersyukur diperoleh dari proses menjalani kondisi yang lebih baik, dan kesemuanya itu bermula dari sikap menerima. Menerima, bahwa semuanya hanyalah kondisi saja yang bersifat netral. Cara pandanglah yang akan mengubahnya, menjadi masalah atau justru anugerah. Menerima adalah tidak mempersoalkan.

5. Menderita dan bahagia adalah pilihan. Remotnya ada pada diri masing-masing. Tekan tombol bahagianya, sehingga kita sangat bisa bahagia di setiap waktu. Di saat usia lanjut sekalipun.

Saya pertegas lagi,  kepada yang sudah lansia, tetaplah optimis, bahwa sangat bisa bahagia setiap saat. Dan, bagi yang belum lansia, tidak perlu khawatir memandang usia tuanya. Kapan pun dan di manapun, kita semuanya sangat bisa bahagia.

Sebagai penutup, saya berbagi puisi yang sangat menggerakkan plus mencerahkan. Puisi tentang menua. Puisi ini ditulis oleh Samuel Ullman, seorang penyair Amerika. Syairnya sebagai berikut:
Muda bukan soal waktu, melainkan soal pikiran. Awet muda merupakan sugesti manusia. Tidak perlu merasa tua. Kita selalu muda selama ada harapan. Kita menua setelah tak ada harapan.”

Kredit gambar: IStok


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *