Kontestasi politik melalui proses pemilihan kepemimpinan di seantero negeri nusantara usai. Figur-figur mumpuni sudah ambil bagian untuk berpartisipasi dalam prosesnya. Masing-masing kandidat, dengan segala daya dan upaya telah dikerahkan untuk memenangkan “pertarungan” itu.
Alhasil, setiap pertarungan pasti ada konsekuensinya. Berakhir dengan kemenangan atau berujung kekalahan. Mesti ada perolehan suara yang lebih banyak dari yang lainnya. Itu adalah sesuatu yang niscaya.
Mustahil ada lebih dari satu kandidat memperoleh suara terbanyak. Mesti ada suara lebih banyak, ada lebih sedikit. Perolehan suara lebih banyak, itulah pemenangnya. Ia berhak naik podium dan mengangkat trofi kemenangan.
Tak jarang, selama pertarungan di atas ring kontestasi itu, masing-masing pendukung bersorak ria dalam memberikan dukungan. Teriakan lantang yang membahana menghiasai arena itu. Sesekali ada teriakan yang sportif. Sesekali pula terdengar kalimat “provokatif”.
Bahkan, pendukung masing-masing calon yang berkontestasi, ada yang awalnya bersahabat bak saudara, saling maki dan merendahkan, bahkan terlibat perdebatan kusir yang emosional. Tak jarang, sampai-sampai hampir menjurus kepada adu fisik.
Uniknya, di antara mereka yang bersahabat dan bertetangga itu, mereka sudah lama saling kenal, semeja, senasib sepenanggungan. Sementara ia dengan masing-masing kandidatnya, tak pernah duduk bersama dan ngobrol seintim persahabatan mereka sebelumnya. Hanya masing-masing mereka yang mengenal kandidatnya. Sementara masing-masing kandidat, tak mengenal mereka sedekat persahabatannya.
Demikianlah “duri-duri” sebuah dukungan politik fanatik nan buta. Merelakan persahabatan dan persaudaraan porak poranda karenanya. Padahal politik-Pilkada, kontraknya hanya sekali lima tahun. Sementara persahabatan dan persaudaraan, tak mengenal masa kontrak.
Tetapi apa pun itu, terlihatlah, setelah warga bermusyawarah besar, melalui “voting” langsung di bilik suara, tampillah pemenangnya. Ia mengangkat trofi setinggi-tingginya, sambil diiringi tepukan gemuruh dan pekikan teriak dari pendukungnya.
Kemenangan yang demikian, memang pantas dirayakan dengan suka cita dan riang gembira. Betapa tidak, keringat telah bercucuran, mental-pikiran telah terperas, isi kantong pun telah terkuras. Bukankah keberhasilan yang diraih dengan proses sulit dan menantang begitu nikmat? Demikianlah seninya dan indahnya sebuah perjuangan.
Pun demikian, bukan berarti bahwa euforia kemenangan itu diiringi dengan ejekan, hinaan dan bully-an kepada kontestan dan pendukung lainnya. Sebab, kita tak tahu, seperti apa nasib berikutnya. Rezim selalu berganti. Tak ada kekuasaan yang abadi. Semuanya akan bergilir pada waktunya.
Sementara bagi pihak yang kalah, tentu hasilnya adalah hal yang kurang mengenakkan, menyakitkan. Apakah itu wajar? Sangat wajar. Sebab, tak ada kekalahan yang menyenangkan. Yang ada adalah kekecewaan. Siapa pun, pasti merasakan hal yang sama jika berada di situasi dan kondisi yang sama. Itu adalah hal yang fitrawi. Sangat manusiawi.
Namun demikian, kekalahan itu bukan untuk diratapi berlama-lama. Apalagi sampai mengutuk keadaan. Mesti tumbuh kesadaran, bahwa resiko bagi petarung sejati, hanya ada dua pilihan. Menang atau kalah. Keduanya adalah kemestian.
Bagi petarung, menang dan kalah adalah keterampilan menanggung konsekuensi. Menang adalah perayaan dalam kegembiraan. Kalah adalah resiko dalam perjuangan.
Kekalahan dalam kontestasi kepemimpinan, bukanlah akhir dari segalanya. Bisa jadi, kekalahan yang dialaminya adalah cara dan rahasia Tuhan untuk menyelamatkannya dari masalah yang lebih besar. Boleh jadi, ada jurang kehancuran di depan, yang ketika memaksakan diri berjalan untuk melewatinya, akan terjerumus di dalamnya. Maka, Tuhan punya acara tersendiri untuk menyelamatkannya.
Kekalahan bukan berarti “kiamat”. Sebab, pergantian kekuasaan selalu ada momennya. Dan itu bergulir dari waktu ke waktu. Berada di lembah dan berada di puncak, itu hanya soal momentum.
Hari ini seseorang bisa bertahta, esok lusa, pasti berakhir sesuai masanya. Hari ini seseorang bisa berderaian air mata, esok lusa bisa berganti dengan untaian permata.
Dengan demikian, bagi yang menang tak usah jumawa. Bagi yang kalah, tak usah putus asa. Ini adalah dunia yang dipergulirkan.
Memang berat untuk menerima sebuah kekalahan, tetapi petarung sejati adalah orang yang ksatria menerima kenyataan.
Sementara untuk masing-masing pendukung – yang menang maupun yang kalah – saatnya untuk kembali ke “mode pabrikan”. Di mana tak ada lagi saling merendahkan, setajam apa pun perbedaan pilihan sebelumnya. Tak ada lagi saling cemooh dan mengolok, sekeras apa pun perdebatan sebelumnya. Toh, kontestasi telah berakhir. Tak ada untungnya dendam kesumat dipelihara. Sebab, saat dendam tumbuh subur dalam hati, itu hanya merawat bara api dalam dada.
Bagi pendukung di pihak yang kalah, mesti berdamai dengan kenyataan bahwa pada faktanya, perolehan suaranya belum berhasil untuk mendudukkan kandidatnya berada di podium juara.
Berikan kesempatan kepada pihak yang menang untuk membuktikan semua janji-janji kampanyenya. Kawal dan tagih setiap saat janji-janji itu. Sebagaimana komitmen yang telah diucapkannya di setiap ruang waktu semasa kampanye.
Sementara bagi pendukung di pihak yang menang, kawal visi, misi dan program sang pemenang. Bantulah untuk membuktikan semua janji-janji kampanyenya. Fokuslah untuk mempersiapkan diri membuktikan espektasi warga yang penuh harap.
Hormatilah pihak yang kalah. Maknai keberadaannya. Sebab, kemenangan hanya bisa diraih jika ada kompetitor lainnya. Pemenang, tidak akan dikatakan pemenang, jika tidak ada pihak yang kalah. Artinya, kekalahan pihak lain adalah legitimasi kemenangan. Tidak ada kemenangan tanpa ada yang berposisi sebagai pihak yang kalah.
Maka sejatinya, pihak yang kalah yang menjadi “lawan tanding” dalam pertarungan, adalah partner kemenangan. Andai tak ada yang kalah, bagaimana bisa ada pemenangnya. Berterima kasihlah kepada pihak yang kalah.
Rekatkan kembali interaksi yang telah longgar. Sesama kawan dan tetangga yang awalnya berseberangan karena pilihan politik, berdamailah kembali. Toh lima tahun ke depan, tak ada jaminan untuk selalu berbeda, sebagaimana sesama pendukung hari ini, tak ada jaminan, selalu berada di barisan yang sama.
Dengan sikap kesatria dari masing-masing pihak, dimana adanya penerimaan dan penghormatan dengan lapang dada, maka yang kalah menjadi terhormat. Yang menang menjadi mulia. Wallahu a’lam.
Kredit gambar: Unsplash

Ketua KPU Bantaeng Periode 2018-2023


Leave a Reply