Sakit Perutku Muncul Lagi

Salah seorang pasien menghubungiku. Sebut saja Fulanah. Katanya, sakit perut yang pernah dia derita muncul lagi. Padahal sudah beberapa saat lamanya membaik.

Saya menjawabnya dengan sangat santai, ” hadapi dengan senyuman. Senyumi  bagian yang sakit. Senyumi perutnya, dan katakan, semuanya baik-baik saja.”

Fulanah pun mengikuti saranku, menghadapinya dengan senyuman, dan juga lebih rileks. Alhamdulillah,  beberapa jam kemudian, masuk lagi pesannya via WA,  menginformasikan bahwa sakit perutnya sudah ada perubahan.

Sahabat holistik, berdasarkan penelitian, salah satu manfaat dari senyuman adalah anti nyeri terbaik. Jikalau sedang merasakan sakit, senyumi saja bagian yang sakit. Sakit di organ mana pun, senyumi saja. Saya membandingkan saat sering mengkonsumsi obat yang mengandung anti nyeri seperti, bodrex,  paracetamol, asam mefenamat dan semacamnya, ternyata , senyuman ini jauh lebih cepat bekerja dan lebih manjur untuk mengatasi semua rasa sakit, termasuk sakit hati.

Berselang dua hari kemudian,  masuk lagi pesannya. Kalau sakit di perutnya muncul lagi disertai dengan buang air besar yang lebih sering dari biasanya.

Saya tanya, makanan apa saja yang sudah dimakan hari itu. Sebab, jangan sampai ada intoleransi di perut. Intoleransi adalah sebuah istilah untuk menggambarkan kondisi saluran pencernaan yang menolak, baik makanan maupun minuman, bisa karena jenisnya, juga bisa karena jumlah makanan yang dikonsumsi berlebihan. Penolakan saluran pencernaan tersebut dalam bentuk diare. Selain karena intoleransi, bisa jadi, kondisi tersebut merupakan proses detoksifikasi, yaitu proses pengeluaran racun dari dalam tubuh.

Saya pun kembali menyarankan untuk menghadapinya dengan senyuman, dan perbanyak minum air putih, supaya terhindar dari dehidrasi, plus tidak mengkonsumsi makanan padat. Eh iya, tips ketika mengalami diare adalah, perbanyak saja minum air putih untuk menghindari dehidrasi, dan stop mengkonsumsi makanan padat seperti nasi dan teman-temannya, sebab ketika makanan masuk,  maka itu diproses lagi, sehingga kotoran tidak akan pernah habis keluar. Di saat yang sama, supaya saluran cerna kita bisa beristirahat.  Tidak usah khawatir kalau tidak makan. Tidak perlu panik. Tetap tenang dan rileks. Sebab, terlepas dari takdir, berdasarkan penelitian, manusia bisa bertahan hidup tidak makan selama 30 hari, dan tidak minum hanya bisa bertahan selama 3 hari.

Dalam sepekan, Fulanah beberapa kali mengeluhkan sakit perutnya, kemudian  membaik, muncul lagi, membaik lagi dan muncul lagi… ibarat gelombang, naik turun, pasang dan surut. Saya kemudian mulai menganalisa kondisi yang dialami, sebab, sakit perutnya seperti tak kunjung tuntas, hanya membaik beberapa hari, dan kemudian muncul lagi, lagi dan lagi.

Teringatlah saya tentang konsep kesehatan holistik, bahwa jika seseorang sangat sering mengalami gangguan di perut/pencernaan, maka itu berhubungan erat dengan ide-ide baru dan pengalaman-pengalaman yang sedang dijalani. Ada semacam ketakutan dan kekhawatiran dengan perubahan yang terjadi, sekaligus ketakutan dan kekhawatiran menghadapi perubahan atau pengalaman baru tersebut. Tidak hanya itu, tetapi juga ketidaktahuan atau kebingungan untuk menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan dan pengalaman yang baru terjadi.

Sebelum Fulanah mengeluhkan sakit perutnya, rentetan peristiwa yang sekaligus memengaruhi kesehatannya telah dilaluinya. Termasuk kehidupan rumah tangganya yang sempat masuk di gerbang perceraian. Masih segar dalam ingatanku, ketika Fulanah dan suaminya sudah bersepakat untuk bercerai. Menurutnya, tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan ikatan pernikahannya. Lebih banyak nerakanya, lebih sering bertengkarnya, dan lebih banyak menderitanya, sehingga surga dalam rumah tangganya sangat jauh dari harapan. Masih menurutnya, tak ada lagi titik temu di antara keduanya. Bahkan keluarga yang diharapkan mensupport keutuhan rumah tangganya juga tidak sesuai harapannya. Menurut Fulanah, keluarga dari pihak suaminya justru mengintervensi konflik dalam rumah tangganya, yang kemudian semakin memperkeruh suasana.

Singkat cerita, setelah pendampingan kesehatan holistik, alhamdulillah,  kini semuanya telah berubah. Hubungan Fulanah dan suaminya semakin membaik, semakin berkualitas. Begitu pun perlakuan dari keluarga suaminya juga sudah berubah. Terdapat banyak perubahan sekaligus pengalaman baru yang dirasakan. Bahkan sangat jauh berbeda dari sebelumnya. Silaturrahmi kembali terhubung yang sebelumnya sempat terputus. Kehidupannya seperti memasuki babak baru. Ibarat sebuah buku, lembaran baru telah dibuka.

Tapi perubahan dan pengalaman baru inilah yang justru membuat Fulanah ketakutan. Khawatir dengan perubahan dan pengalaman baru. Semuanya tidak terduga. Fulanah sangat sering mengomentari perubahan itu. Fulanah tidak siap menghadapi dan menjalani kehidupan baru tersebut. Traumanya masih begitu kuat, dan sempat terpikir, bahwa ini semacam jebakan untuk masuk ke hal yang lebih buruk lagi. Menurutnya, perubahan itu hanyalah fatamorgana. Fulanah kebingungan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada suami dan keluarganya.

Sebagai terapis kesehatan holistik, hal yang sangat membahagiakan adalah, ketika pemetaan kondisi pasien sudah bersinggungan dan ada titik temu, antara kondisi pasien dengan landasan teorinya,  yang sekaligus akan memengaruhi model dan cara penanganannya.

Hal yang menjadi sangat penting pada penanganan holistik adalah, selalu mengacu dan mencari akar masalahnya, dan bukan mengobati gejalanya. Untuk kasus Fulanah, bukan fokus pada sakit perutnya, sebab sakit perutnya hanyalah akibat dari sebuah sebab, dan sebabnya adalah ketakutan dan kebingungan menghadapi dan menjalani perubahan dan pengalaman  baru yang ada.

Lalu bagaimana cara mengatasi kondisi seperti di atas? Apa yang mesti dilakukan? Fulanah dapat mengatasinya dengan:

1. Menerima.
Bahwa perubahan dan pengalaman baru yang dirasakan adalah sebuah kenyataan,  dan bukan fatamorgana.

2. Ketika pikiran negatif berupa trauma masa lalu muncul,  maka segera blokir dengan istighfar,  supaya pikiran tersebut tidak lagi berlanjut dan menguat. Semuanya adalah masa lalu  saja. Yang lalu , biarlah berlalu. Hiduplah di kekinian.

3. Bersyukur dengan perubahan yang sudah ada, dan stop berkomentar negatif, termasuk prasangka buruk atas adanya perubahan yang terjadi.

4. Beradaptasi dengan perubahan dan pengalaman baru tersebut. Berfikir dan bersikap lebih fleksibel,  sebab hidup ini sangatlah dinamis.

Alhamdulillah, seberat apa pun penyakit yang diderita, maka itu semuanya akan bisa teratasi dengan konsep dan penanganan yang tepat. Hindari panik, tetap tenang dan rileks, maka semuanya akan baik-baik saja, insyaallah, amin.

Kredit gambar: Bobo.id


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *