Ordo Dajjal
Kitab darah bab nyawa
Kau tulis dalam pasal bengis
Kau siram dalam setiap peluru
Kau muntahkan pada setiap bom
Padahal mereka bukan buruan
Zionis kelas Dajjal ordo vampir
Pemangsa nyawa pemuja darah
Bernyanyi di antara tangis pilu anak-anak
Mengoyak manusia bagai serigala
Padahal mereka adalah manusia
Zionis dan gerombolan pemangsa nyawa
Merangkai kitab pemusnah massal
Untuk menebar genosida
Ribuan nyawa kau tukar dengan ambisimu
Mahkota kau buat dari kulit anak-anak
Istana kau buat dari tulang-tulang
Hati dan jiwa kau balur dengan dendam
Karena engkau pewaris Dajjal
Makassar, 01-06-2024
***
Rafah Pengungsian dan Genosida
Tetesan keringat habis sudah
Menguap di antara Gaza dan Rafah
Air mata keringlah sudah
Tak tersisa meskipun setetes
Karena telah kau sedot dengan duka dalam
Kini hanya tetesan darah terakhir
Karena seluruh pori-pori
Telah berubah menjadi luka menganga
Mengering sudah karena tubuh terbujur
Berserakan di tenda-tenda
Kuburan adalah seluruh Rafah
Karena tak ada lagi tempat berlindung
Kini Rafah hanyalah puing-puing derita
Seluruhnya berkisah tentang habisnya harapan
Seorang anak berjumpa ayah atau ibunya
Tentang imajinasi anak yang kehausan
Mengharap setetes air membasuh lidah
Kini waktu telah pergi bersama kisah Rafah
Membawa kabar duka pada Timur Tengah
Yang tak mau bergeming karena menghamba
Pada tuan Zionis sang bedebah
Duhai Tuan Arab
Kini kau buka kedokmu seluruhnya
Kini ruh-ruh akan menemui Tuhan
Akan aku ceritakan tentang siapa
Zionis dan seluruh antek-anteknya
Akan aku kisahkan jasad yang terbelah
Tertimbun oleh reruntuhan
Dan tubuh yang kehabisan darah
Perut tanpa sedikit pun makanan
Kini aku sisakan kutukan kepadamu
Wahai negeri Arab
Yang tetap Jahiliah
Makassar, 01-06-2024
***
Doa Kutukan Terakhir
Menjelang Magrib anak Palestina itu
Menatap megah merah di ufuk Timur
Ia menengadahkan tangan ke langit
Sambil berucap:
“Duhai Tuhanku, aku boleh kehilangan segalanya. Ayah, ibu, dan Saudaraku telah tiada, tapi Engkau Mahaabadi”.
Air mata anak Palestina itu menetes
Mengenang keluarganya, kini ia hanya sebatang kara, merajut asa yang raib di tengah debu bom sang agresor.
Ia terus bermunajat dengan kaki gemetar dan air mata berderai, perutnya sudah berhari-hari tak terisi.
Kerongkongan keringlah sudah
Bahkan setetes air pun sudah tiada
Kecuali tetes air mata yang masih tersisa
Yang ia basuhkan ke wajahnya
“Ilahi, Engkau Mahasempurna”
Anak itu terus mengalirkan munajat
Menghunuskan doa-doa kutukan
Kepada Zionis dan sekutunya
Ia melawan dengan doa
Dan sebongkah batu di sakunya
Sebagai peluru untuk melontar musuh
Tuhan,
Jika besok tidak ada lagi malam bagiku
Terimalah persembahan munajat terakhirku
Aku akan menemui ayah, ibu, dan adik
Di alam Nirwana, untuk Engkau jamu
Anak itu bersujud teramat panjang
Karena ia tau, tak ada lagi ruang untuknya
“Innalillahi wa Innailahi rajiun“
Makassar, 02-06-2024
Kredit gambar: Antaranews.com

Lahir di Sorowako, 1 Februari 1969. Menempuh studi pada Jurusan Teknik Kimia Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Sewaktu mahasiswa, ia pernah menjabat Ketua Umum HMI-MPO Cabang Makassar, 1996-1997. Saat ini ia berkecimpung dalam dunia usaha, sebagai Direktur Utama PT. Pontada Indonesia. Telah mengarang buku puisi berjudul, Ziarah Cinta (2015).


Leave a Reply